
Belva terjungkal ke lantai saat Haidar bangkit dari tidurnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Haidar kesal.
Belva hanya tersenyum kemudian beranjak bangun tanpa menjawab pertanyaan Haidar. Hal itu membuat Haidar semakin kesal dan meraik lengannya dengan kuat hingga tubuh kecilnya menabrak dirinya.
"Kamu masih tidak jera setelah Aku mengurung mu seharian di kamar mandi?"
"Bagaimana Aku jera jika pada malam harinya kamu menggendong ku ke ranjang dan merawat ku dengan baik?"
Haidar langsung melepaskan cengkeramannya dan memalingkan wajahnya. Belva yang melihatnya tersenyum dan kembali menggodanya.
"Aku yakin kamu orang baik, Sebab itu kamu tidak bisa benar-benar menyakiti ku, Lagipula apa salahku sampai kamu..." belum sempat Belva menyelesaikan ucapannya, Haidar kembali naik pitam hingga mendorong tubuh Belva ke dinding.
__ADS_1
"Aowhhh..." dorongan yang begitu kuat membuat tubuhnya luruh ke lantai.
"Sekarang kamu lihat, Aku bukan orang baik, Aku bisa menyiksa mu lebih dari ini jadi jangan pernah menunjukkan senyuman mu di depan ku apalagi berrani melawan ku!" setelah mengatakan itu Haidar masuk ke kamar mandi. Sementara Belva menangis memegangi lengannya yang terasa sakit karena benturan keras ke dinding.
Karena rasa sedihnya lagi-lagi Belva teringat akan keluarganya. Terutama Papanya yang selalu membela dan melindungi dirinya di setiap kesempatan. Ia masih ingat betul bagaimana Papanya melindungi dirinya ketika dirinya dan teman-temannya tengah asyik menonton live music ada tangan jahil yang ingin menyentuh tubuhnya, Bryan yang mengikuti Belva tanpa sepengetahuannya langsung mencegah tangan itu dan menjatuhkan pria itu hingga terjungkal ke tanah. Pernah juga di suatu ketika saat terjadi kesalah pahaman di sekolah dan membuat Belva mendapat hukuman dari kepala sekolah, Bryan datang menyelidiki teman sekelasnya hingga berhasil membuktikan jika Belva tidak bersalah. Tapi kali ini saat dirinya mendapat tuduhan serius dari Haidar, Tidak ada Papanya yang datang membantunya. "Tapi bagaimana Papa datang jika Papa saja tidak tahu apa yang terjadi denganku." Belva bergumam dalam hatinya yang perih.
"Mungkin Papa sangat marah padaku sehingga sampai hari ini Papa tidak mencari keberadaan ku."
•••
Mengingat itu semua, Tak terasa air matanya menetes. Mengingat kembali penderitaannya ketika jauh dari keluarga kandungnya. Rasa benci yang sudah di tanam oleh Rina membuat ia kembali menatap kesal kedua orang tuanya.
Melihat Belvana hanya berdiri tak ikut berenang, Zia pun naik ke atas dan melangkah menghampirinya. Belvana yang melihat Zia datang langsung menyembunyikan air matanya dan memaksakan senyumnya.
__ADS_1
"Mama..."
"Sayang... Kenapa tidak ikut berenang?"
"Nggak Ma, Aku tidak bisa berenang."
"Tidak bisa berenang? Sejak kapan kamu tidak bisa berenang, Bukankah kamu sangat suka berenang?"
Seketika Belvana menjadi gugup. Ia menjawab begitu saja sehingga lupa jika sekarang Ia harus menjadi Belva.
"Mungkin maksudnya dia sedang tidak bisa berenang karena tubuhnya sedang tidak fit," ucap Bryan yang baru datang menghampiri mereka.
Mendengar Bryan mengatakan itu, Belvana pun tersenyum lega dan membenarkan apa yang Bryan katakan.
__ADS_1
Bersambung...