Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Meninggalkan Rumah


__ADS_3

"Tunggu Belva...!!!" teriak Bryan.


Belva tersenyum tipis dan menoleh ke belakang mengira Bryan akan berubah pikiran dan merestui pernikahannya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Bryan meminta kunci mobilnya demi mencegah Belva pergi dari rumah. Namun yang terjadi adalah Belva semakin merasa marah pada Bryan. Ia bukan hanya menyerahkan kunci mobilnya, Tapi ia juga menyerahkan tas berisi uang dan ponselnya. Belva sengaja melakukan itu untuk membuat Bryan menyesal karena tidak bisa lagi menghubunginya.


Bryan memejamkan mata merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya. Ia tidak pernah menyangka putri yang begitu ia sayangi dengan sepenuh hatinya tega menentang dan meninggalkan keluarganya demi pria yang baru beberapa hari ia kenal.


Ziyan kembali mengejar Belva yang pergi hanya berjalan kaki tanpa membawa apapun. Namun Belva begitu keras kepala sehingga Ziyan memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Melihat Zia terduduk lemas di tanah Ziyan langsung berlari mendekap tubuh ibunya.


"Mama..."


Bryan yang sebelumnya mematung karena kepergian Belva, Tersentak dan melihat Zia yang terlihat begitu hancur seperti saat ia kehilangan Belvana beberapa tahun yang lalu.


"Zia Sayang..."


Ziyan pun menepi dan membiarkan Bryan memeluk Zia.


"Kita kehilangan kedua putri kita," ucap Zia menangis sejadi-jadinya.


"Tenanglah sayang, Semua akan baik-baik saja."

__ADS_1


Setelah merasa cukup tenang, Dengan berat hati Bryan mengajak Zia dan juga Ziyan untuk masuk ke dalam. Mereka sudah pasrah dengan kepergian Belva yang tidak bisa lagi di cegah.


Sementara Belva yang telah sampai ke rumah Haidar dengan menggunakan taksi, Meminta supir taksi untuk menunggunya. Ia menemui penjaga keamanan dan meminta penjaga keamanan untuk membayarkan terlebih dahulu dan berjanji akan menggantinya setelah ia menemui Haidar.


Penjaga keamanan pun setuju dan membiarkan Belva masuk, Karena sebelumnya Belva sudah beberapa kali bertemu dengan Tuan nya tanpa harus menunggu persetujuan darinya.


Begitupun dengan asisten rumah tangga yang membiarkan Belva masuk menuju kamar Haidar.


Begitu sampai di depan kamar Haidar yang kebetulan pintunya di buka, Belva langsung masuk dan memeluk Haidar yang tengah berdiri menghadap jendela.


Haidar terkejut ketika tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


Haidar hanya terdiam dingin dan membiarkan Belva terus menangis hingga ia berhenti dengan sendirinya.


Setelah Belva melepaskan pelukannya, Haidar berbalik badan dan menatap Belva dengan tatapan datar seolah tidak terlalu peduli dengan kesedihan yang Belva rasakan.


"Aku pergi dari rumah," ucap Belva dengan suara yang masih sesenggukan.


"Kamu bertengkar dengan Papa mu?" tanya Haidar masih dengan sikap tenangnya.

__ADS_1


"Ya... Papa tidak merestui pernikahan kita, Jadi Aku memilih pergi dari rumah."


Haidar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan meraih tubuh Belva dan memeluknya.


"Tidak seharusnya kamu melakukan ini."


"Tapi mereka tidak mau merestui kita, Bahkan mereka lebih memilih Aku pergi daripada memberikan restunya."


"Setiap orang tua akan melakukan hal yang sama kepada anaknya, Mereka hanya takut anaknya tidak bahagia."


"Tapi Aku tidak akan bahagia jika tidak menikah dengan mu, Seharusnya mereka tau itu."


"Kamu begitu yakin pada ku sampai rela meninggalkan keluarga mu, Aku harap kamu tidak akan menyesal karena telah mengambil keputusan ini."


"Aku tidak akan pernah menyesal, Justru Aku akan menyesal jika tidak bisa menikah dengan mu."


"Semoga saja," ucap Haidar yang kemudian mempererat pelukannya. membuat Belva merasakan kenyamanan yang luar biasa hingga kesedihannya seketika pudar dari hatinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2