Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Keputusan


__ADS_3

Faraz dan Alia mendekati kedua cucunya dan menyapa mereka.


Keduanya yang masih berpelukan pun segera mengurai pelukannya dan memeluk Faraz dan Alia secara bergantian.


"Oma tidak percaya ini, Ziyan bilang kalian tidak akur, Tapi Oma lihat kalian begitu saling menyayangi satu sama lain."


Belva tersenyum meraih jemari Belvana seakan membenarkan jika selama ini mereka hidup rukun.


"Ini pasti alasan Ziyan saja supaya kita kemari." ujar Faraz yang beberapa hari lalu di telpon oleh Ziyan yang mengadukan bagaimana kelakuan Belvana selama tinggal di rumah. Namun baru hari ini mereka bisa datang dan melihat Belvana tidak seperti yang Ziyan katakan.


"Memangnya rugi kalau Opa kemari? Opa kan sudah lama tidak kemari, Jadi tidak ada salahnya kan meskipun apa yang dikatakan kak Ziyan tidak benar?"


"Ya, Kamu benar, Baiklah ayo kita masuk, Opa juga sangat merindukan Mama mu, Bagaimana kabar Mama kalian?"


"Baik Opa, Papa juga baik."


"Opa tidak bertanya tentang Papa mu."


"Ya ampun Opa... Masih saja."


Mereka tertawa dan beriringan masuk kedalam. Di dalam Faraz melihat Bryan yang tengah memarahi Haidar seperti saat ia memarahi Bryan dulu, Hal itu membuat Faraz tersenyum smik dan menimpali apa yang Bryan katakan pada Haidar.


"Sekarang kamu merasakan apa yang Aku rasakan kan?" ledek Faraz sehingga Bryan menghentikan omelannya dan menoleh kearah Faraz.


"Ngapain Papa mertua datang sekarang, Dia pasti akan membuatku tidak bisa bicara di depan Haidar." gumam Bryan kesal.


"Papa..." Zia yang melihat Papanya datang beranjak bangun dan menyambut dengan pelukan hangatnya.


"Zia sangat merindukan Papa."

__ADS_1


"Papa juga sayang..."


Setelah melepas rindu sejenak, Faraz mengalihkan pandangannya kepada Haidar da Bryan yang masih bersitegang.


"Ada apa dengan kalian?"


"Tidak Tuan Faraz... Aku hanya merasa malu dengan apa yang telah ku lakukan kepada Belva."


"Masih punya malu juga?" timpal Bryan.


"Hey menantu... Bukankah semua orang pernah berbuat salah? Dan setiap orang juga memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri? Lalu kenapa kamu tidak memberinya kesempatan untuk Haidar memperbaiki kesalahannya?"


"Mudah sekali Papa mertua bilang seperti itu, Aku masih tidak rela dengan apa yang sudah Haidar lakukan pada Belva!"


"Ya Aku tau ini tidak mudah, Tapi kamu perlu ingat jika kamu juga pernah melakukan kesalahan dan membuat Zia patah hati. Aku begitu marah padamu tapi demi putriku Aku memaafkan mu dan menerima pernikahan kalian!"


"Yang Aku lakukan tidak sehina apa yang Haidar lakukan!"


"Aku telah melupakannya dan Aku telah menerima suamiku dengan sepenuh hati ku, Jadi tolong jangan ingatkan Aku lagi tentang itu."


"M-maafkan Papa Sayang..." ucap Bryan melunak.


"Tidak papa tapi Belva harap ini yang terakhir kalinya Papa membahas hal itu."


"Papa akan berusaha."


"Yesss... Jadi masalahnya sudah selesai?" tanya Belva bersemangat.


Meskipun dengan berat hati, Bryan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Membuat Belva tersenyum bahagia dan langsung memeluk Haidar. Namun Bryan langsung menarik tangannya sehingga Belva beralih memeluk Bryan.


"Terimakasih Papa..."


"Tapi ada satu syarat."


"Syarat?" Belva langsung melepaskan pelukannya dan merasa p


tegang dengan syarat yang akan Papanya katakan.


"Ya. Papa akan menerima pernikahan kalian tapi dengan syarat kalian tinggal di sini, Di rumah ini, Dalam pengawasan Papa."


"Apa?"


"Kenapa, Apa kamu keberatan?"


"Saya tidak keberatan." Haidar langsung menyaut pertanyaan yang Bryan ajukan untuk Belva.


"King..." protes Belva.


"Kenapa Belva, Apa kamu tidak lagi ingin tinggal bersama Papa?" tanya Bryan sedih.


"B-bukan begitu Papa, Tapi bukankah anak perempuan jika telah menikah diharuskan pergi dan tinggal di rumah suaminya?"


"Tidak ada yang mengharuskan, Semua tergantung masing-masing orangnya. Bahkan di Indonesia ada adat yang mengharuskan laki-laki tinggal di rumah si perempuan. Jadi tidak ada yang salah kan dengan permintaan Papa?"


"Bryan..."


"Papa mertua, Mohon maaf tapi ini sudah menjadi keputusan terakhir ku. Tidak ada yang boleh merubahnya kecuali Aku sendiri."

__ADS_1


Faraz hanya bisa menarik nafas panjang dan tidak lagi memperdebatkan keputusan Bryan. Begitupun dengan Zia dan juga Belva, Meskipun hatinya merasa berat menerima keputusan ini, Tapi itu lebih baik daripada harus hidup terpisah dengan Haidar seperti hari kemarin.


Bersambung...


__ADS_2