Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Akad


__ADS_3

Tidak sampai seminggu, Haidar telah rampung menyiapkan kelengkapan pernikahannya dengan Belva. Dan karena alasan ingin acara pernikahannya sakral, Haidar hanya mengundang beberapa orang tamu saja. Bahkan Haidar melarang para tamu membawa ponselnya saat menghadiri pernikahannya.


Kini Haidar dan Belva telah bersiap di depan penghulu, Dimana Haidar meminta wali hakim untuk menggantikan Bryan yang tidak mau merestui mereka.


Di tengah-tengah hakim memberikan nasehatnya tentang pernikahan, Dan banyaknya cobaan yang mungkin akan mereka lalui, Tiba-tiba Belva teringat akan kasih sayang yang Bryan berikan padanya sedari kecil. Bagaimana Bryan mengurusnya dengan telaten di saat Zia terpuruk karena kesedihannya kehilangan Belvana. Mulai dari ia masuk sekolah, Mengajarinya naik sepeda, Motor hingga mobil bahkan tempat untuk mengadu di kala dirinya memiliki masalah.


"Lalu bagaimana mungkin setelah apa yang Papa lakukan untuk ku, Aku mematahkan hatinya hanya karena Papa meminta waktu untuk memberinya restu?" Belva bergumam dalam hati, Ia mulai merasa resah dan ragu akan pernikahannya yang sudah di depan mata.


Melihat Belva ragu, Haidar menggenggam tangan Belva, Membuat Belva kaget dan menatapnya.


"Tidak-tidak Aku tidak bisa menikah tanpa restu dari Papa, Aku tidak bisa menyakiti Papa seperti ini." batin Belva yang semakin jelas terlihat keresahannya sehingga siapapun yang melihat pasti akan mengetahuinya.


"Apa kamu berpikir untuk membatalkan pernikahan?" bisik Haidar.


"Aku tidak bisa melakukan ini tanpa restu dari Papa, Papa sudah berkorban banyak untuk ku."


"Setelah para tamu hadir dan penghulu sudah ada di hadapan kita kamu baru berpikir seperti itu?" tanya Haidar dengan mulut yang hampir tidak terbuka.

__ADS_1


"M-maafkan Aku King, Tapiii..."


"Seharusnya kamu memikirkan ini sejak awal, Apa kamu sengaja ingin mempermalukan ku?!"


"Sudah siap Tuan Haidar?"


Pertanyaan Pak penghulu membuat Haidar mengikis jarak dari Belva meskipun ia tak melepaskan pandangannya.


"Tuan Haidar, Apakah Anda sudah siap?" Penghulu kembali mengulangi pertanyaannya.


"E-ya, Saya siap." dari bawah meja, Haidar mencengkeram kuat pergelangan tangan Belva seolah ingin menekannya agar tidak membatalkan niatnya.


"Duduk tenang dan jangan berkata apapun apalagi berpikir untuk lari dari pernikahan ini."


Mendengar itu Belva semakin merasa ragu dengan pernikahannya. Merasa Haidar memaksakan kehendaknya tanpa peduli keresahan di hatinya.


"Non... Belva." ucap Penghulu membaca selembar kertas yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Sudah siap?"


Haidar menatap Belva yang semakin terlihat ingin memberontak. Tidak ingin Belva mengurungkan niatnya untuk menikah dengan nya. Haidar pun memanggil asistennya untuk membawa Belva masuk tanpa perlu berada di sampingnya selama proses akad nikah.


"Sepertinya dia terlalu tegang," ucap Haidar beralasan.


"Oh ya tidak masalah, Justru baiknya pengantin wanita tidak ikut dalam majlis akad nikah. Sebab umumnya majlis akad nikah di hadiri banyak kaum lelaki yang bukan mahramnya, Termasuk pegawai KUA. Lagi pula kesahan akad nikah kalau sudah kehadiran empat pihak, Yaitu wali, Mempelai pria, dan dua orang saksi maka jika mempelai wanita tidak hadir di majelis akad sebenarnya tidak berimplikasi pada ketidaksahan akad nikah." ujar Penghulu menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu kita bisa mulai akad nikahnya?" tanya Haidar tak sabar.


"Ya Tentu."


Sementara Bryan dan seluruh keluarga besarnya tengah berkumpul setelah mereka berpencar mencari Belva demi kesehatan Zia yang semakin menurun. Sejak kepergian Belva, Zia memang tidak mau makan hingga dirinya jatuh sakit. Karena hal itu juga Bryan mengesampingkan kekecewaannya pada Belva dan mulai mencarinya. Ia juga telah mendatangi Hotel yang Haidar miliki sesuai informasi yang ia dapatkan. Namun setiap kali Bryan kesana, resepsionis selalu mengatakan Haidar tidak datang kesana. Hal itu pun membuat mereka putus asa karena tak tahu lagi kemana mereka harus mencari Belva.


"Ini semua gara-gara kamu! Coba kalau kamu denger nasehat ku untuk menyetujui pernikahan mereka pasti ini semua tidak akan terjadi. Lagipula apa masalahnya, Haidar terlihat baik dan sopan, Dan diajuga bukan dari kalangan orang biasa!" Faraz terus meluapkan kekesalannya pada Bryan karena tak tahan melihat putri kesayangannya kembali menderita.


"Aku benar-benar kecewa sama kamu Bryan! Kamu bukan saja membuat hidup putriku selalu menderita, Tapi kamu juga tidak becus menjadi seorang Ayah! Dulu kamu lengah sampai kalian kehilangan salah satu bayi kembar kalian, Dan sekarang... Kamu membiarkan putri mu pergi di depan matamu tanpa memikirkan bagaimana putri ku!"

__ADS_1


"Mas Faraz!" Alia mencoba membuat Faraz diam dengan segala omelannya. Namun Faraz tidak berhenti menyalahkan Bryan atas apa yang sudah terjadi.


Bersambung....


__ADS_2