Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Kejam


__ADS_3

Di dalam kamar mandi Belva melihat kesana-kemari mencari cara untuk menggagalkan pertemuan yang Haidar rencanakan. Namun setelah mengobrak-abrik isi lemari tak ada satupun alat yang dapat membantu dirinya. Belva pun merasa putus asa dan melemparkan seluruh barang yang terdapat di atas wastafel hingga akhirnya idenya muncul ketika melihat alat pencukur.


Belva mengambil alat pencukur itu dan mengangkat sebelah tangannya. Ia ingin menyayatkan alat pencukur itu di pergelangan tangannya namun ia mengurungkan niatnya karena membayangkan rasa sakitnya. Sementara di luar, Haidar terus menggedor pintu kamar mandi seakan sudah tidak sabar menunggunya.


"Cepat keluar atau ku dobrak pintu ini!" teriak Haidar.


Belva masih merasa bingung apa yang harus ia lakukan hingga pada akhirnya Belva memutuskan untuk menggoreskan alat pencukur itu ke pergelangan tangannya sembari menutup mata.


"Ahhh... Ssttt..." Belva meringis kecil dan membuka matanya. Ia melihat pergelangan tangannya yang hanya sedikit terluka. Karena hal itu Belva kembali menggoreskan kembali alat pencukur tersebut berkali-kali sembari menangis kesakitan.


Mendengar itu, Haidar langsung mendobrak pintu dan terkejut melihat pergelangan tangan Belva yang mengeluarkan cukup banyak darah.


"Apa kamu sudah gila?!" tanya Haidar menarik Belva keluar dari kamar mandi. Kemudian ia mengambil kotak obat dan mulai membersihkan darah yang keluar.


Melihat banyaknya goresan luka, Haidar meneteskan obat dan membalutnya. Hal itu membuat Belva terdiam menatap Haidar yang seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda.

__ADS_1


Menyadari apa yang ia lakukan, Haidar langsung melepaskan tangan Belva dan kembali memarahinya.


"Apa kamu sengaja melakukan ini demi membatalkan rencana ku? Asal kamu tau, Meskipun kamu terluka bahkan sekarat sekalipun Aku tidak akan membatalkan pertemuan ini, Jadi sekarang mari kita berangkat!" Haidar menarik Belva pergi bersamanya. Meskipun Belva berusaha memberontak, Haidar tetap menyeretnya dan mendorongnya ke dalam mobil.


Jebrettt..!!!


Haidar menyalakan mobil dan meninggalkan rumah.


Di perjalanan, Belva terus memelas kepada Haidar untuk membatalkan niatnya. Namun Haidar tidak peduli dan terus membawanya ke suatu tempat yang jauh dari keramaian.


"Tidak! Lebih baik Aku mati daripada harus melayani orang yang tidak ku kenal!"


"Kenapa tidak lompat dari mobil saat di perjalanan tadi?" tanya Haidar dengan rahang yang mengeras.


"Kenapa kamu menolongku saat Aku mencoba bunuh diri?"

__ADS_1


"Bunuh diri? Kamu bilang menggores alat pencukur di pergelangan tangan mu bisa membuat mu mati?"


"Aku akan mati jika kamu tidak mendobrak pintu dan memaksa masuk, Jika kamu ingin membunuh ku kenapa tidak kamu lakukan, Kenapa terus menyiksa ku seperti ini?"


"Karena setiap tetes air mata yang putraku keluarkan, Kamu harus membayarnya, Jadi bersabarlah sedikit sebelum Aku benar-benar membuatmu tidak ingin lagi berrrada di dunia ini!" Haidar langsung menyeret Belva dan membawanya masuk ke dalam.


Begitu di dalam Belva terperangah melihat bukan hanya satu pria yang berada di sana, Melainkan lebih dari lima orang pria dewasa yang sudah menunggunya. Bukan hanya itu saja, Terlihat pula meja bar yang di lengkapi dengan tiang yang bisa di gunakan untuk para penari striptis. Hal itu pun membuat Belva ketakutan dan berniat melarikan diri. Namun Haidar langsung mencengkeram lengannya Kemudian mendorong Belva kepada para pria yang sudah terlihat mabuk.


"Layani mereka dengan baik. Karena mereka membayar mu dengan mahal!" tegas Haidar sembari mendorong Belva kearah mereka.


"Kemarilah sayang..." ucap salah satu pria merangkul pundak Belva.


"Lepaskan!" teriak Belva mencoba melepaskan diri.


"Haidar... Haidar..." Belva menangis dan mengiba untuk tidak di tinggalkan bersama para pria itu. Namun Haidar tidak peduli dan terus melangkah keluar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2