
Belvana masuk dengan kesal. Dan disaat bersamaan juga Belva baru keluar dari kamar mandi membuat saudara kembar itu saling melihat dengan pikirannya masing-masing. Mendengar keributan di luar, Belva mengalihkan pandangannya dan bergegas menuju balkon.
Belva menjadi begitu terkejut ketika melihat Haidar yang sudah tersungkur di tanah seolah meminta pengampunan di kaki Bryan.
Tidak tega melihat hal itu, Belva langsung berlari ke bawah.
"Papa..."
Semua orang menoleh kearah Belva. Begitupula dengan Haidar yang sudah lemah tak berdaya.
"Apa yang kalian lakukan?" ucap Belva mendekati Haidar.
"Dia pantas mendapatkan itu." ujar Ziyan.
"Bahkan seharusnya dia mendekam di penjara!" sambung Ziyan.
"Apa main hakim sendiri juga di benarkan?"
Mendengar Belva mengatakan itu Haidar menatap Belva dan merasa sedikit memiliki secercah harapan.
"Kamu masih membelanya Sayang?" tanya Zia.
"Ini bukan masalah membela atau tidak, Sejak kemarin hingga hari ini Papa sudah menghajarnya. Dan Haidar hanya diam saja, Lalu kenapa Opa dan yang lainnya ikut memukulinya?"
"Belva apa kamu lupa apa yang sudah ia lakukan kepada mu?" tanya Bryan.
"Aku tidak lupa dan tidak akan melupakannya. Dan Aku tahu kalian melakukan ini karena menyayangiku, Tapi Aku rasa ini sudah cukup."
__ADS_1
Alia yang melihat kesedihan di wajah cucunya mendekati Belva dan memeluknya. Kemudian menyetujui apa yang Belva katakan dan meminta semua orang untuk masuk mengakhiri amarahnya pada Haidar.
Setelah semua orang melangkah masuk, Perlahan Haidar bangkit dan memanggil Belva yang berjalan paling belakang diantara keluarganya.
"Belva..."
Melihat Belva yang hanya menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang, Haidar dengan jalan yang tertatih-tatih mendekati Belva.
"Aku tahu kamu..."
"Jangan salah paham." Belva langsung memotong pembicaraan.
"Aku melakukan ini bukan untuk mu, Tapi Aku melakukan ini demi keluarga ku, Aku tidak ingin keluarga ku menjadi kriminal dan berakhir di penjara jika sampai kamu tiada."
"Aku rela tiada demi menebus kesalahanku kepada mu."
Belva terenyuh sesaat. Namun ia segera menepis perasaannya dan langsung meninggalkan Haidar begitu saja.
"Kamu hanya sedang marah, Tapi aku dapat melihat jika cinta mu masih ada untuk ku. Baiklah Belva, Biarkan kali ini Aku yang berjuang mendapatkan kembali kepercayaan mu." setelah mengatakan itu, Haidar pergi meninggalkan rumah Bryan.
Pada tengah malam, Rina menyuruh Belvana menemuinya di tempat biasa, Ia menagih janji Belvana yang akan memberinya uang. Namun Belvana yang telah mengetahui segalanya datang hanya dengan tangan kosong tanpa sepeserpun uang yang Rina minta. Membuat Rina kembali memarahi Belvana.
"Apa! Kamu tidak membawa uang sepeserpun? Apa kamu mau menikmati kemewahan sendiri dan melupakan Aku yang telah merawat mu sejak bayi?"
"Jika Bu Rina tidak menyuruh Bi Leli menculik ku, Maka Bu Rina tidak perlu membesarkan ku! Aku juga tidak perlu hidup serba kekurangan."
Rina begitu terkejut mendengar apa yang Belvana katakan.
__ADS_1
"Apa Bryan telah mengetahui jika dia Belvana dan menceritakan segalanya?" batin Rina.
"Kenapa Bu Rina diam, Apa ucapan ku benar?"
"A-e... Sayang... Apa yang kamu katakan, Apa Zia mengatakan sesuatu, Apa mereka sudah mengetahui kamu Belvana sehingga mengarang cerita untuk memfitnah ku?"
"Benarkah cuma karangan? Kenapa Bu Rina terlihat panik?"
"A-tidak, Siapa yang panik, Sayang... Aku benar-benar menyayangimu dengan tulus, Tidak seperti kedua orang tua mu yang..."
"Cukup!"
Rina tercengang melihat Belvana yang terlihat begitu marah kepadanya.
"Sudah cukup Bu Rina meracuniku dan fitnah orang tua ku! Jika Bu Rina menyayangi ku, Bu Rina tidak akan menyembunyikan surat terakhir Haiden untuk ku! Bu Rina tahu benar saat Aku kehilangan Haiden begitu terpuruk, Aku menyalahkan diriku atas kematiannya, Tapi apa yang Bu Rina lakukan? Bu Rina malah menyembunyikan surat ini bertahun-tahun lamanya dariku!"
"Kamu dapat surat ini darimana Sayang?"
"Tidak peduli Aku dapat darimana, Yang jelas Aku sudah mengetahui siapa Bu Rina sebenarnya.
"Sayang Aku bisa jelaskan."
"Kamu hanya mantan pembantu orang tua ku yang coba menggoda Papa ku..."
"PLAAAKKK...!!!"
Satu tamparan Rina layangkan ke pipi Belvana. Membuat gadis remaja yang tumbuh dalam didikannya itu mengeraskan rahangnya, Tak terima dengan apa yang Rina lakukan.
__ADS_1
"Akhirnya kamu menunjukkan wajah asli mu di dapan ku!" setelah mengatakan itu, Belvana melangkah pergi, Tak peduli meskipun Rina berteriak dengan sumpah serapahnya.
Bersambung...