
Setelah melihat Belvana lengah, Bryan bergegas ke kamar Belva.
Bryan yang begitu memahami karakter Belva tau betul jika putri kesayangannya itu tengah kesal karena dirinya tidak menyambut kepulangannya seperti yang biasanya.
Mendengar suara Papanya mengetuk pintu kamarnya, Belva langsung duduk membuka laptopnya dan berpura-pura sibuk mengerjakan tugasnya.
"Boleh Papa masuk?" tanya Bryan sembari membuka sedikit pintunya.
Belva hanya mengangguk dan menoleh sekilas kemudian kembali menatap layar laptopnya.
Bryan melangkah mendekati Belva dan mengecup kepalanya.
"Maafin Papa..." ucap Bryan tanpa bertanya apapun kepada Belva.
"Untuk apa Papa minta maaf?" tanya Belva jutek.
"Karena telah membuat tuan putriku ngambek."
Mendengar itu, Seketika hati Belva berbunga. Namun Ia menahan bibirnya yang ingin sekali tersenyum dengan sendirinya. Belva tetap menunjukkan jika dirinya masih marah pada Bryan.
"Kamu tidak mau memaafkan Papa?"
Belva masih terdiam seolah tengah mempertimbangkan permintamaafan Bryan.
"Papa mohon..." Bryan memasang wajah memelas dan berlutut di depan Belva sembari menangkupkan kedua tangannya.
Melihat hal tersebut, Belva merasa tak tega dan langsung memegang kedua tangan Bryan sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidak seharusnya Papa melakukan ini."
__ADS_1
"Tidak masalah, Papa akan melakukan apapun untuk membuat tuan putriku tersenyum."
Belva merasa sangat terharu dan tidak bisa menahan lagi tawa bahagianya, Ia langsung memeluk Bryan yang masih berlutut di lantai, Meletakkan kepalanya di bahu Bryan dengan sangat nyaman.
Momen itu pun di saksikan oleh Belvana yang sudah berdiri di depan pintu, Membuat hatinya terbakar cemburu dan rasa tidak terima jika Bryan masih menyayangi Belva melebihi rasa sayangnya kepada dirinya. Belvana hanya ingin fokus Bryan dan Zia kepada dirinya untuk mengganti momen yang bertahun-tahun telah ia lewati tanpa kedua orang tua.
Melihat Bryan bangkit dan keluar dari kamar Belva, Belvana langsung bersembunyi merapat ke dinding. Kemudian bergegas masuk begitu Bryan meninggalkan kamar Belva.
Jebrettt...
"Papa balik la..." ucapan Belva terhenti ketika yang ia lihat adalah Belvana, Buka Bryan seperti dugaannya.
"Belvana..."
"Belva..." sautnya lembut.
Melihat perubahan Belvana yang tiba-tiba membuat Belva menatapnya penuh curiga.
"Apa Aku tidak boleh ke kamar mu?"
"Tentu saja boleh, Bukankah kita saudara?"
"Ya, Kamu benar. Maafkan Aku Belva," ucap Belvana yang langsung memeluk Belva.
Meskipun merasa heran Belva tetap berusaha tersenyum dan membalas pelukannya.
Setelah cukup lama, Belvana melepaskan pelukannya, Dan meminta maaf untuk apa yang sudah ia lakukan kepada Belva, Belvana mengatakan jika apa yang di lakukan ya semata-mata hanya ingin kasih sayang dari kedua orang tuanya yang tidak ia dapatkan selama ini, Tapi sekarang Belvana mengatakan jika dia akan berusaha menerima berbagai kasih sayang dan menjadi saudara yang baik untuk Belva.
Mendengar itu Belva tersenyum bahagia. Selama ini Belva juga tidak masalah dengan kehadiran Belvana, Bahkan dia juga ingin mengenal saudara kembarnya itu lebih dekat, Tapi selama ini Belvana enggan melakukan hal yang sama dengan nya.
__ADS_1
"Jadi sekarang kita damai?" tanya Belvana.
"Bahkan Aku tidak pernah merasa berseteru dengan mu."
Belvana tersenyum dan mengajak Belva keluar untuk merayakan perdamaian mereka. Semula Belva menolak ajakan itu karena Belva tidak ingin lagi pergi diam-diam di tengah malam, Tapi Belvana memaksa sehingga akhirnya Belva menyetujui dan bersiap untuk pergi.
Setelah melihat rumah telah sepi, Belva dan Belvana mengendap-endap keluar rumah. Belvana mengalihkan perhatian penjaga keamanan dan meminta Belva menyelinap keluar terlebih dahulu dan memintanya menunggu di tempat yang sudah mereka sepakati. Tepatnya toko di ujung jalan. Namun beberapa menit berlalu, Belvana tidak kunjung datang, Padahal malam sudah semakin larut, Toko-toko telah tutup. Suasana jalanan pun sudah sangat sepi. Membuat Belva mulai merasa khawatir akan ada orang jahat yang menghampirinya. Tidak mau itu terjadi, Belva mengambil ponselnya untuk menghubungi Belvana, Namun ponsel Belvana tidak bisa di hubungi.
"Bagaimana ini..." Belva mulai panik, Khawatir terjadi sesuatu pada Belvana.
Di saat bersamaan, Dari kejauhan Belva melihat dua pengendara motor melaju ke arahnya, Membuat dirinya langsung bersembunyi di balik bangku yang terletak di emperan toko.
Namun pengendara motor itu malah berhenti di sana dan duduk di bangku dimana Belva bersembunyi. Mereka yang asik berbincang tidak menyadari keberadaan Belva hingga ponsel Belva berdering dan mengagetkan semuanya.
Melihat ada seorang wanita di sana, Mereka langsung berdiri menatap Belva yang juga ikut berdiri melihat sekitar untuk lari dari mereka.
Begitu mereka mendekat Belva langsung berlari sekencang-kencangnya tanpa mempedulikan jalanan yang ada di depannya hingga menabrak seseorang yang ada di depannya.
"Aowwhhh..." Belva terpental hingga jatuh terduduk di tanah.
"Kamu tidak papa?"
Suara yang tidak asing di telinganya membuat Belva mengangkat wajahnya dan menatap pria yang ada di hadapannya. Belva menjadi begitu terkejut ketika melihat pria yang ada di hadapannya adalah Haidar.
"Jadi ini rencana mu?"
"Rencana? Rencana apa yang kamu maksud?"
"Tidak usah berpura-pura, Bukankah selama ini hidup mu penuh dengan rencana? Bahkan kamu pernah mengatakan jika di dunia ini tidak ada yang kebetulan!"
__ADS_1
Haidar terdiam mendengar apa yang Belva tuduhkan kepadanya.
Bersambung...