
Belva yang seakan baru sadar dengan jawaban yang ia berikan kepada supirnya bergegas bangkit hingga lupa jika dirinya sedang tanpa busana. Karena hal itu juga Belva mengurungkan niatnya dan kembali duduk menutup tubuhnya dengan selimut.
Haidar yang melihat apa yang Belva lakukan, Bangkit dan menci'um bahu Belva yang tanpa penghalang apapun.
"Apa yang kamu khawatirkan?"
"Barusan Aku asal menjawab apa yang ku rasakan, Sekarang pasti supirku akan berpikir macam-macam dan mengadukannya kepada Papa."
Haidar terkekeh dan mencubit gemas pipi Belva kemudian mengecupnya.
"Lalu kenapa, Bukankah kita sudah menikah? Jadi tidak ada yang salah kan?"
"Ya, Tapi tetap saja kan Papa belum sepenuhnya merestui pernikahan kita."
"Ya kamu benar juga, Seharusnya Aku tidak melakukan ini sekarang, Maafkan Aku Sayang, Aku terbawa..."
"Tidak King, Ini bukan salahmu, Aku sendiri juga pasrah dan sangat menikmatinya..." Belva menjeda ucapannya menyadari pengakuannya sendiri yang membuat Haidar senyum-senyum menatapnya.
"Benarkah kamu menikmatinya, Katakan bagaimana rasanya?"
Pertanyaan menggoda dari Haidar membuat Belva memerah bak kepiting rebus. Ia menepis wajah Haidar yang terus mencoba melihat wajah yang ia sembunyikan.
"Apaan sih..." hanya kata itu yang terlontar dari mulut Belva untuk mengurangi rasa malunya.
"Bisa malu juga." goda Haidar lagi.
"Kiiiiiing..."
"Baiklah sekarang bagaimana, Apakah kita jadi pulang ke rumah mu, Atau kita lanjut lagi?"
Mendengar Haidar kembali menggodanya, Belva langsung mengambil bantal dan memukulkannya ke punggung Haidar yang langsung melindungi diri dengan kedua tangannya.
Setelah Belva berhenti memukulnya, Haidar langsung meraih tubuh Belva ke pelukannya. Membuat Belva terdiam pasrah didalam pelukan pria matang itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu..." bisik Haidar.
"Entah kapan terakhir Aku tertawa dan sebahagia ini." lanjut Haidar.
Hal itu membuat Belva tersenyum dan membalas pelukannya.
"Aku jauh lebih bahagia dari sebelumnya, Aku tidak pernah menyangka jika kamu bisa bercanda seperti ini, Aku pikir kamu orang yang tegas dan serius dalam segala hal."
"Benarkah?" tanya Haidar yang langsung melepaskan pelukannya.
Belva hanya mengangguk-angguk kepalanya.
"Lalu kenapa kamu mencintaiku, Bahkan sebelum kamu mengenal ku?"
"Karena Aku melihat sosok Papa dalam dirimu." Belva menjeda ucapannya dan jadi teringat akan Bryan.
"Papa..." ucap Belva yang langsung mencari ponselnya.
"Kenapa"
Tidak hanya diam saja, Haidar ikut mencari dengan membuka bantal yang ada di belakang Belva, Dan benar saja ponsel itu terletak di sana.
"Ini sayang..." ucap Haidar sembari memberikan ponsel itu.
"Oh, Makasih King..."
Haidar mengangguk dan membiarkan Belva menelpon Bryan.
Tidak sampai lima detik, Panggilan itu langsung di jawab oleh Bryan.
"Hallo Belva, Apa kamu baik-baik saja, Apa rasanya sangat sakit, Apa kamu masih bisa berjalan dan pulang sekarang? Apa yang sudah laki-laki tua itu lakukan kepada mu, Dia pasti memaksa mu kan, Katakan Aku akan menghajarnya."
Belva dan Haidar saling memandang mendengar berbagai macam pertanyaan dari Bryan yang mengisyaratkan jika ia sudah tahu apa yang sudah terjadi antara keduanya.
__ADS_1
"Belvaaa... Hallo.... Kenapa diam saja?"
"A-e... Tenanglah Papa, Aku tidak papa, Semua yang terjadi normal saja seperti gadis-gadis yang baru menikah, Tidak perlu di pikirkan. Kami kan..."
"Kami tidak bisa pulang sekarang ini sudah malam, Biarkan putri kesayangan Papa beristirahat di sini, Aku akan menjaganya dengan baik."
"Haidar kau.... Tuuutttt... Tuuutttt... Tuuutttt... Arghhh siallll! berraninya dia." umpat Bryan yang merasa sangat kesal karena tiba-tiba Haidar merebut ponsel Belva dan mengatakan itu kemudian langsung mengakhiri panggilannya.
"Ada apa?" tanya Zia yang melihat Bryan kesal.
"Laki-laki tua itu..."
"Maksudnya Haidar?" tanya Zia memastikan.
"Tidak perlu kamu menyebut namanya di depan ku, Aku sedang sangat marah padanya, Berrani-beraninya dia membawa putriku ke rumahnya tanpa seizinku!"
"Tapi mereka telah menikah. Jadi Aku rasa Haidar berhak melakukan itu kapanpun yang ia inginkan."
"Tidak! Kemarin dia datang memelas dan mengatakan akan bersikap seperti layaknya sepasang kekasih tapi yang di lakukan Haidar hari ini..."
"Memang apa yang Haidar lakukan?"
"Zia... Kenapa kamu tidak mengerti juga, Apalagi yang akan mereka lakukan selain..."
"Selain?" Zia meneruskan ucapan Bryan yang tiba-tiba menghentikan ucapannya.
Zia tersenyum melihat Bryan yang tiba-tiba diam dan tak menjawab pertanyaannya.
"Apa Babe sedang mengingat sesuatu?" goda Zia.
"Ya, Sejak tadi begitu Aku mendengar Belva berada di rumah laki-laki tua itu, Aku jadi teringat bagaimana susah payahnya kita melakukan malam pertama sehingga kita harus melarikan diri dari Papa Faraz dan menginap di hotel," ucap Bryan yang langsung tersenyum mengingat hari itu.
"Dan sekarang putri kita melakukan hal yang sama," ucap Zia yang membuat keduanya tertawa seolah melupakan rasa kesalnya pada Haidar.
__ADS_1
Bersambung...