
Sesampainya di rumah, Belva yang melihat kedua orang tuanya tengah bersantai di depan tv langsung menghampiri mereka. Membuat Zia yang tengah bersandar di pundak Bryan langsung melepaskan tangan Bryan yang merangkul pundaknya.
"Sayang kamu baru pulang?" tanya Bryan.
"Iya Pa." saut Belva dengan tatapan tegang.
"Ada apa Belva kenapa kamu terlihat tegang?"
"Aku ingin menikah."
"Apa!?" Sontak jawaban Belva membuat Bryan dan Zia tercengang dan melihat satu sama lain untuk beberapa saat.
"Ya Aku ingin menikah."
"Sayang apa yang kamu katakan, Bahkan sekalipun kamu belum pernah membawa laki-laki ke rumah, Tapi tiba-tiba kamu mengatakan ingin menikah?" tanya Bryan.
"Apa kamu ingin kami mencarikan calon suami untuk mu?" sambung Zia.
"Tidak-tidak. Aku sudah punya."
Lagi-lagi Bryan dan Zia saling melihat satu sama lain.
"Sudah punya? Sejak kapan kamu jatuh cinta hingga tiba-tiba ingin menikah? Kamu tidak pernah cerita sama Papa?"
"Semua terjadi begitu cepat Papa, Dan Aku belum sempat menceritakan ini pada Papa maupun Mama."
"Lalu kenapa kamu ingin menikah cepat-cepat?"
__ADS_1
"Karena jika Aku tidak ingin menikah cepat, Dia melarang ku untuk mendekatinya."
"Jadi maksud mu kamu yang mengejarnya?" tanya Bryan sembari menatap Zia.
Belva mengangguk-anggukkan kepalanya sementara Zia paham memngapa Bryan menatapnya.
"Kenapa Mas menatap ku seperti itu?" tanya Zia sembari mencubit perut Bryan.
Bryan pun hanya tertawa. Mereka berdua sama-sama mengingat bagaimana tingkah Zia saat mengejar Bryan hingga akhirnya mereka menikah.
"Kok Papa dan Mama malah asyik sendiri sih, Jadi boleh nggak Belva Nikah?"
"Maafkan Papa Sayang, Kamu ini benar-benar mengingatkan Papa pada saat Mama mengejar-ngejar Papa, Bahkan dulu Mama lebih muda daripada kamu. Masih belia tapi sukanya Om-Om," ucap Bryan kembali tertawa.
Zia pun kembali memukul lengan Bryan dengan senyum malu-malu.
Seketika Bryan dan Zia terdiam menatap Belva.
"Maksud mu, Kamu juga mengejar Om-Om?" tanya Bryan memastikan.
"Ya, Bulan ini usianya 40th."
Bryan menarik nafas panjang "Bener-bener turunan emaknya." batin Bryan.
Zia yang pernah mengalami hal serupa hanya diam tak bisa berkata-kata. Ia tau betul bagaimana rasanya jatuh cinta dan sembunyi-sembunyi dari orang tuanya sehingga ia tidak ingin membuat Belva mengalami hal serupa.
"Pa... Ma... Kenapa kalian diam saja, Jadi boleh nggak Belva Nikah?"
__ADS_1
"Sayang pernikahan bukan mainan, Sekarang kamu bilang Papa bilang iya tanpa harus melihat barangnya. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, Sekali seumur hidup kalau bisa, Jadi kami harus memastikan siapa yang akan mendampingi hidup mu ketika tidak lagi bersama kami, Kami tidak ingin putri kesayangan kami jatuh kepada orang yang salah."
"Papa... Dia sangat baik, Dia juga tampan, Kaya, Dan paling penting dia bisa melindungi seperti Papa melindungi Belva, Kemarin saja saat Aku kecopetan dan di todong senjata..."
"Apa! Kamu di todong senjata!? Apa ada yang terluka?" Bryan yang langsung panik memeriksa tubuh Belva dari kanan ke kiri, Hingga atas ke bawah.
"Tenanglah Papa, Belva tidak apa-apa hanya sedikit luka di sini." Belva menunjukan goresan luka di lehernya yang sudah mulai mengering.
"Kamu mengalami hal mengerikan seperti ini tapi tidak cerita ke Papa?"
"Belva kapan itu terjadi?" tanya Zia yang tidak kalah khawatirnya.
"Papa... Mama tenanglah, Biarkan Aku selesaikan ceritaku."
"Ya baiklah, Sekarang ceritakan," ucap Bryan.
Belva pun melanjutkan ceritanya dan begitu menggebu-gebu menceritakan bagaimana keberanian Haidar melindungi dirinya sembari melawan para penjahat.
Mendengar itu semua, Bryan merasa sangat bersyukur karena putri kesayangannya selamat dari peristiwa mengerikan itu. Ia juga merasa berhutang budi pada Haidar sehingga tanpa berpikir lagi Bryan menyuruh Belva untuk mengundangnya ke rumah, Bryan ingin berterimakasih secara langsung karena telah menyelamatkan Belva.
Belva pun bersorak bahagia dan langsung memeluk Bryan. Belva juga tidak lupa memeluk Zia yang tidak menentang keputusannya.
"Tapi kamu jangan seneng dulu Belva, Papa mengundangnya untuk berterimakasih secara langsung. Untuk masalah restu, Papa akan memikirkannya.
Mendengar itu, Belva berdecak kesal dan pergi ke kamarnya.
Bersambung..
__ADS_1