Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Iri Hati


__ADS_3

Setelah Haidar pergi, Bryan yang sudah berhari-hari merindukan Belva langsung memeluknya. Membuat Belvana yang sedari tadi di tangga semakin merasa kesal karena merasa di abaikan.


"Sudah hampir satu jam Aku di sini Papa tidak sekalipun melihat ku!"


Mendengar itu Bryan langsung melepaskan pelukannya. Melihat Belvana yang mendekat dengan kemarahan.


"Tapi apa yang Papa lakukan pada Belva? Belva sudah melakukan kesalahan dan bahkan menentang Papa tapi tanpa Belva meminta maaf Papa memeluknya?"


"Sayang..."


"Papa sudah janji akan mengajak ku nonton, Tapi begitu Papa bertemu Belva, Jangankan ingat dengan janji Papa, Melihat ku pun tidak!"


"Astaga Aku benar-benar lupa." batin Bryan yang tidak bisa menjawab ucapan Belvana.


"Sayang... Maafkan Papa mu, Sekarang kalian bisa berangkat." bujuk Zia.


"Nggak!" Belvana menepis tangan Belvana dan langsung berlari keatas.


"Belvana!" teriak Bryan yang merasa kesal dengan sikap kasarnya.


"Babe... Tidak papa," ucap Zia menghentikan Bryan yang ingin mengejar Belvana.

__ADS_1


"Kita tidak boleh membiarkan dia berbuat semaunya, Terlebih dia bersikap kasar padamu, Dia harus mendapat didikan yang benar agar bisa mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, Tidak seperti sekarang yang selalu merasa iri hati dan dengki kepada saudara kembarnya." tegas Bryan.


"Babe... Dia terlalu lama tinggal bersama Rina, Dan selama itu Rina meracuni pikirannya dengan cerita yang tidak benar tentang keluarga kita, Jadi wajar jika sikapnya begitu."


"Justru karena itu kita harus meluruskan pemikiran Belvana agar tidak terus berpikir buruk pada keluarganya."


"Tapi tidak dengan cara kasar. Kita bisa memberitahunya pelan-pelan agar dia tidak merasa jika ucapan Rina tentang keluarganya benar."


Mendengar itu akhirnya Bryan mengalah dan setuju dengan pemikiran Belva. Ia mengusap punggung Belva yang sedari tadi hanya berdiri bingung melihat perdebatan kedua orang tuanya.


"Beristirahatlah sayang," ucap Bryan yang sudah tidak tahu lagi harus bicara apa pada Belva.


Begitu Belva sampai kamar, Belva dikagetkan oleh Belvana yang tiba-tiba melempar pakaian ke arahnya dan mengenai wajahnya.


"Ambil semua pakaian mu dan pergi dari kamar ini!" tegas Belvana.


"Kamu mengusirku dari kamarku sendiri?"


"Sebelumnya ini mungkin kamar mu, Tapi sejak kamu pergi, Ini bukan lagi kamar mu!"


"Biar ku ingatkan, Bukankah Aku pergi karena kamu yang menyuruhku?! Kamu menipuku dengan berpura-pura baik, Setelah itu kamu membiarkan ku pergi sendirian hingga beberapa orang pria mengganggu ku, Bagaimana jika sesuatu terjadi, Apa kamu mau bertanggung jawab?"

__ADS_1


"Tanggung jawab apa, Nyatanya kamu tidak kenapa-kenapa kan, Justru Aku lihat kamu sangat bahagia membawa calon Ayah mertua ku!" Belvana menjeda ucapannya.


"Aku pikir seharusnya kamu berterimakasih kepada ku, Karena Aku Kamu bisa kembali lagi kepada calon Ayah mertua ku."


"Kenapa kamu terus saja mengatakan Haidar calon Ayah mertua mu?"


"Karena biar kamu tahu jika Aku pernah menjadi bagian dari putranya! Dan kamu sendiri tahu, Meskipun Haiden telah tiada, Tapi kasih sayang Tuan Haidar tidak pernah berkurang kepadanya, Bahkan ia sampai ingin membalas dendam kepada mu karena mengira kamu mantan kekasih Haiden yang menyebabkannya mengakhiri hidup."


"Tapi itu sebelum Haidar mengetahui jika Haiden bukanlah putranya!"


Mendengar itu, Belvana terkejut bukan kepalang.


"Mungkin Bu Rina melupakan sesuatu atau sengaja tidak memberitahumu jika Haiden bukanlah anak kandung Haidar. Jadi berhenti membanggakan diri menyebut suamiku sebagai calon Ayah mertua mu!"


Belvana tidak bisa lagi menjawab apa yang Belva katakan. Namun hatinya kembali merasa terbakar karena sekali lagi Belvana menganggap Belva selalu mendapatkan yang terbaik dibandingkan dirinya.


"Tapi kamu tidak perlu khawatir, Aku akan keluar dari kamarku sesuai permintaan mu, Anggap saja ini sebagai rasa terimakasih ku karena kamu Aku kembali bersama suamiku, Mantan calon Ayah mertua mu. Meskipun bukan Ayah kandung kekasih mu!"


Belvana langsung mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan Belva yang terdengar mengejeknya. Ia langsung membanting pintu dengan kerasnya begitu Belva keluar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2