
Belva masih dalam penyanderaan. Sementara semua orang tidak berani melakukan apapun untuk menolongnya. Baru saja Haidar secara sembunyi-sembunyi mengambil ponsel dari sakunya, Pencuri itu langsung berteriak menghentikannya.
"Jangan berani-berani menghubungi polisi atau pisau ini akan menembus kerongkongannya!"
Mendengar itu Haidar membeku menatap Belva yang menangis ketakutan.
Suasana pun menjadi semakin mencekam ketika tiba-tiba datang dua orang pria membawa senjata tajam dan menyita harta benda para pengendara yang terjebak dalam situasi itu.
Semua orang telah menyerahkan benda berharga mereka kecuali Haidar yang masih belum mau menyerahkan kepada mereka. Hal itu pun membuat ketiga pencuri itu marah dan menegurnya.
"Apa kau lebih memilih harta benda mu daripada nyawa gadis cantik ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Tentu tidak." saut Haidar yang masih nampak begitu tenang.
"Bahkan Aku rela menyerahkan seluruh harta ku untuknya."
Mendengar itu Belva termangu menatap Haidar yang juga terus menatapnya. Seolah lupa dengan benda tajam yang menempel di lehernya, Belva mendorong tubuh pencuri itu dan berlari ke arah Haidar.
Melihat pencuri itu mengangkat senjata tajamnya, Haidar dengan sigap menyeret tangan Belva dengan gerakan memutar untuk melindunginya dari sebatan senjata tersebut.
"Aaa...!" senjata itu pun menghantam punggung Haidar hingga merobek jas dan kemejanya.
Belva yang berada di pelukan Haidar tercengang melihat wajah Haidar yang menahan rasa sakitnya.
"King Haidar..." ucap Belva khawatir.
Perlahan Haidar bangkit tanpa melepaskan pelukannya. Ia terus melindungi Belva dan balik menyerang mereka satu persatu dengan merebut salah satu senjata tajam mereka.
"Ambil ponsel kalian, Hubungi polisi." ujar Haidar memerintahkan. Namun belum sempat mereka memanggil polisi, Ketiga preman itu berlari terbirit-birit.
Haidar mencoba mengejarnya. Namun Belva menghentikannya.
__ADS_1
"Biarkan mereka pergi, Kamu terluka."
"Ini hanya luka kecil," ucap Haidar dengan mata yang mulai sayu.
"Kita ke rumah sakit."
Tidak menjawab ajakan Belva, Haidar menjatuhkan kepalanya di pundak mungil itu. Belva pun yang tidak siap dengan itu hampir terjatuh karena menopang berat badan Haidar.
"King Haidar... King Haidar..." Belva menepuk-nepuk pipinya ketika melihat Haidar memejamkan matanya. Untuk sejenak Belva terdiam menatap wajah tampan itu.
"Bukan hanya tampan tapi dia juga mampu melindungi ku dari mara bahaya." Belva bergumam dalam hati.
Setelah menyadari jika Haidar jatuh pingsan, Belva pun meminta pertolongan untuk mengangkat Haidar ke mobil. Karena ia akan membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Haidar pun langsung di tangani oleh Dokter, Dan tidak butuh waktu lama Haidar pun tersadar dan melihat Belva duduk di depannya.
"Kamu sudah sadar?"
"Aku akan membantu mu," ucap Belva yang langsung memegang kedua bahu Haidar hingga posisi mereka saling berhadapan dari jarak yang begitu dekat.
Untuk sesaat, Mereka pun terdiam saling menatap satu sama lain. Dan tanpa mengatakan apapun, Tiba-tiba Haidar menye*sap leher Belva, Membuat remaja 18th itu membulatkan kedua matanya.
"Darah di leher mu masih menetes," ucapnya santai.
"Hah!"
"Kenapa tidak bilang pada Dokter untuk sekalian di obati?"
"Sialll... Demi apapun esapan nya sangat membangkitkan ga*irahku." batin Belva yang tidak mendengarkan apa yang Haidar ucapkan.
"Hey..." Haidar menjentikkan jarinya di depan wajah Belva, Hingga membuat Belva tersentak dari lamunannya.
__ADS_1
"E-ya, Tadi kamu bilang apa?"
"Kenapa tidak minta di obati sekalian luka di leher mu?"
"E-a-aku... Aku begitu khawatir kepada mu sampai Aku lupa dengan luka ku."
"Sekarang Aku sudah baik-baik saja dan Aku rasa darah di leher mu juga sudah berhenti menetes."
Belva memegang lehernya di mana masih terasa basah akibat ulah Haidar. Membuatnya kembali merasakan desiran aneh mengalir di seluruh tubuhnya.
Melihat hal tersebut, Haidar tersenyum dan menarik kedua lengan Belva merapat kepadanya.
"Kamu sudah tau keputusan apa yang akan kamu ambil untuk tawaran ku?"
"E-ya." jawab Belva tergagap.
"Ya?"
"A-aku... Aku belum memutuskannya."
"Belum?"
"E-maksudku sudah."
"Dan keputusan apa yang kamu pilih?"
"A-aku bersedia menikah dengan mu."
Mendengar itu Haidar tersenyum lebar dan memeluk Belva yang masih terlihat ragu-ragu.
Bersambung...
__ADS_1