
Sepulang kuliah Belva sudah di tunggu oleh supir, Padahal ia sudah mewanti-wanti agar supir tidak menjemputnya karena rencananya ia akan bertemu dengan Haidar sesuai perjanjian mereka tadi pagi.
"Bukan Aku sudah bilang untuk tidak menjemput ku?" tanya Belva yang merasa sedikit kesal.
"Iya Non, Tapi Tuan Bryan menyuruh saya untuk tetap Non, Agar Non tidak bertemu dengan Tuan Haidar tanpa sepengetahuan Tuan Bryan."
"Apa kamu bilang kalau Aku akan bertemu dengan suamiku?"
"Tidak Non, Tuan Bryan hanya menyuruh saya untuk selalu mengawasi Non Belva."
"Baiklah, Awasi saja Aku." Belva yang telah melihat Haidar datang bergegas pergi menghampirinya dan menarik tangannya kemudian memintanya masuk ke mobilnya.
"Kita akan naik mobil mu?" tanya Haidar bingung.
"Ya, Karena supir ku akan mengawasi kita, Cepet masuklah biar dia lihat apa yang akan kita lakukan."
"E-a-apa?" Belva tak mempedulikan Haidar yang masih kebingungan dengan maksudnya. Ia langsung mendorong Haidar masuk ke kursi tengah dan meminta Haidar membuka jas nya kemudian Belva naik kepangkuan Haidar. Tepatnya duduk menghadap Haidar, Membuat pria matang itu cukup di buat tegang oleh aksi Belva yang terbilang berani, Terlebih ada supir yang terlihat canggung dengan sikap majikannya itu. Tapi tidak dengan Belva, Seperti menunjukkan tanda protesnya pada sang supir, Ia memegang kedua sisi wajah Haidar dan mendekatkan wajahnya.
"Ciu'm Aku..." ucap Belva.
"Hah!?"
"Ciu'm Aku, Bukankah Aku istrimu?"
__ADS_1
"Ya tapi..."
Tanpa menunggu Haidar menyelesaikan ucapannya, Belva langsung mencium kening Haidar dengan penuh penghayatan. Membuat Haidar termangu menatap wajah Belva yang kini berada tepat di depannya dan hanya menyisakan beberapa centi.
Belva kembali mengusap wajah Haidar. Memainkan bulu-bulu kasarnya yang baru tumbuh. Hal itu membuat Haidar sangat gemas dan langsung menangkup wajah Belva dan menyambar bibirnya.
Haidar melu*at bibir Belva tanpa mempedulikan lagi supir yang mulai merasa gerah dengan aksi pasangan beda usia itu yang semakin berga*ah.
Sesekali sang supir mencuri-curi pandang majikannya yang kini berada di bawah kungkungan Haidar. Menci'um nya dengan penuh ga*rah membuat Belva mende*ah kecil hingga membuat adik kecilnya menegang dengan sendirinya. Hal itu membuat sang supir menginjak rem hingga membuat Haidar dan Belva hampir terjatuh.
"Aowhhh... Apa kamu sengaja?" teriak Belva.
"M-maafkan saya Non, M-maaf saya ijin ke toilet dulu non, Kebelet." tanpa menunggu izin dari Belva, Sang supir keluar dan berlari entah kemana.
"Dasar nakal." ujar Haidar mencubit pipi Belva.
"Aowhhh..." Belva memegangi pipinya dengan ringisan manja. Hal itu kembali membuat Haidar gemas dan merangkul pundak Belva ke sisinya. Kemudian mengecup keningnya.
"Aku mencintaimu, Cup..."
"Aku juga sangat mencintai mu." saut Belva yang membenamkan wajahnya di bahu kiri Haidar dan melingkarkan tangannya ke perut Haidar dengan nyamannya.
•••
__ADS_1
Di rumah, Bryan ke kamar Belva dan melihat Belvana tengah membuang semua barang-barang Belva dari lemarinya. Bahkan ada beberapa barang yang sedang di bakar di tempat sampah. Hal itu membuat Bryan terkejut dan langsung masuk memarahinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan barang-barang Belva?" tanya Bryan menjatuhkan tong sampah yang terbuat dari besi hingga menimbulkan suara hingga keluar.
"Kompraaaaang...!!!"
Suara itu di dengar oleh Zia dan Ziyan yang langsung berlari ke kamar Belva untuk melihat apa yang terjadi.
Sama seperti Bryan, Zia dan Ziyan juga sangat terkejut dengan apa yang sedang terjadi. Terlebih mereka melihat Bryan yang mencoba memadamkan api untuk menyelamatkan barang-barang milik Belva. Membuat Zia langsung berlari menghentikan Bryan dari panasnya api.
"Babe apa yang kamu lakukan, Nanti tangan Babe terbakar." Zia mengusap-usap telapak tangan Bryan dengan bajunya.
"Tidak Zia, Aku harus memadamkan api ini, Ini hadiah ulang tahun yang ku berikan saat pertama kali ia bisa jalan, Ada buku diary dan barang-barang lainnya juga, Ini tidak boleh musnah begitu saja, Semua benda ada kenangannya."
Zia hanya terdiam sedih memeluk Bryan. Sementara Zian yang
melihat Papanya demikian, Bergegas mendekati Belvana dan mencengkeram kuat pergelangan tangannya.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Apa kamu akan menghancurkan satu persatu keluarga mu sendiri?"
"Aowhhh lepassss..." ringis Belvana mencoba melepaskan tangannya.
Melihat keributan kedua anaknya, Zia dan Bryan berdiri dan mendekati mereka.
__ADS_1
Bersambung...