
Dengan hati berbunga-bunga Belva terus melihat layar ponselnya yang memperlihatkan plat mobil pria yang menolongnya. Hingga tanpa sengaja menabrak seseorang di depannya dan membuat ponselnya terjatuh ke tanah.
"Ponsel ku..." triak Belva mengambil ponsel tersebut.
"Yah mati lagi..." Belva meratapi ponselnya yang jadi harapan satu-satunya untuk mengetahui siapa pria yang tadi menolongnya.
"Belva?"
Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Belva melihat ke atas dan menjadi begitu terkejut jika ternyata yang bertabrakan dengannya adalah Ziyan, Kakaknya.
"Kak Ziyan?"
"Belva kamu ngapain malam-malam di hotel?" tanya Ziyan dengan tatapan penuh selidik.
"Lah kakak sendiri ngapain?"
"Kakak mah cowok, Bebas dong mau di mana aja."
"Gak gitu juga konsepnya, Mentang-mentang kak Ziyan cowok lalu seenaknya aja keluar masuk hotel, Cowok itu lumrahnya menjadi pemimpin, Pelindung bagi anak dan istrinya kelak, Jadi tidak boleh seenaknya saja merusak mereka dengan dalih cinta."
"Ngomong apa sih, Yang merusak mereka itu siapa, Kakak juga mikir punya adik perempuan, Jika kakak mempermainkan mereka bagaimana jika nanti kamu di permainkan?" dengan gemasnya Ziyan menekuk tangannya di leher Belva dan menarik kearahnya hingga Belva merasa tercekik.
"Lepasss...!" dengan bibir mengerucut, Belva menurunkan tangan Ziyan dari pundaknya.
"Lalu ngapain kak Ziyan di sini?"
"Kakak mah ada kerjaan, Kamu sendiri ngapain disini? Kamu pasti kabur dari rumah, Papa dan Mama gak tau, Iya kan?"
"Eummm..." Belva menggaruk-garuk kepalanya karena tidak memiliki alasan untuk berbohong.
"Sudahlah Ayo kita pulang, Ini sudah sangat larut."
__ADS_1
"Ziyaaaan..." teriakan gadis yang keluar dari hotel membuat Ziyan menup wajahnya.
"Kak Ziyan?" ucap Belva menatap kakaknya dengan penuh tanda tanya.
"Ziyan dompet mu ketinggian," ucap gadis itu.
"Oh ya, Terimakasih." saut Ziyan mengambil dompet tersebut dan memasukkan ke saku celananya.
"Sama-sama sayang... Cup..." gadis itu mengecup pipi Ziyan sebelum kembali masuk ke dalam.
"Apa ini kerjaan yang kak Ziyan maksud?"
"A-e... B-bukan, Dia hanya..."
"Belva bilangin Papa biar di omelin."
"Belva, Hey.... Belva..." Belva langsung pergi tanpa mempedulikan Ziyan yang berusaha menghentikan mobilnya.
"Dor!!!" Belva menjadi begitu terkejut ketika Ziyan tiba-tiba menepuk punggungnya dari belakang.
"Kak Ziyan...!"
"Ssstttt... Kamu mau Papa dan Mama dengar?" tanya Ziyan.
"Makanya jangan ngagetin." Belva langsung pergi ke kamarnya ia mencoba mengisi baterai ponselnya. Namun ponsel itu tetap tidak kembali menyala.
"Ini semua gara-gara kak Ziyan." dengan kesal Belva menjatuhkan diri ke ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Namun di dalam selimut itu justru ia terbayang akan ketampanan pria dingin yang menolong dirinya. Ia pun membuka kembali selimutnya dan duduk menangkup wajahnya untuk menghilangkan bayangan itu dari pikirannya. Namun hingga fajar menjelang ia tidak dapat menepis bayangan itu sehingga matahari terbit ia baru terlelap tidur.
"Dimana Belva?" tanya Zia yang tengah menyiapkan sarapan untuk Bryan dan juga Ziyan.
"Masih tidur kali." saut Ziyan.
__ADS_1
"Tidur? Bukankah semalam ia tidur cepat?"
"Tidur cepat apaan orang semalam dia..." Ziyan menghentikan ucapannya karena menyadari jika orang tuanya tidak tahu jika Belva keluar pada tengah malam.
"Jika Aku mengadukan Belva pada Mama, Maka Belva juga akan mengadukan ku pada Papa." batin Ziyan.
"Semalam dia apa Ziyan?" tanya Zia tanpa rasa curiga.
"E-bukan apa-apa Ma, Maksud ku mungkin semalam ia tidak bisa tidur."
Mendengar itu, Zia menarik nafas dalam-dalam kemudian pergi ke kamar Belva.
Ckleekkk...
Zia melangkah masuk mendekati Belva dan mengusap wajahnya.
Ia tersenyum menatap wajah cantik putrinya yang selama ini kurang mendapat kasih sayang darinya. Kesedihannya atas hilangnya Belvana membuat dirinya mengabaikan Belva yang masih ada di sisinya sehingga Belva lebih dekat dengan Papanya.
Perlahan Belva yang merasa sentuhan tangan Zia membuka matanya. "Mama..."
"Sayang..." Zia memeluk Belva dan meneteskan air mata dengan sendirinya.
"Ada apa Ma?"
"Tidak ada apa-apa Sayang, Mama hanya merasa bersalah kepada mu, Selama ini Mama kurang memperhatikan mu."
Mendengar itu Belva tersenyum dan mempererat pelukannya.
Selama ini Zia memang selalu merasa bersalah pada Belvana jika ingin mencurahkan kasih sayangnya pada Belva. Akan tetapi kali ini Zia tidak lagi ingin ada pembatas itu dan bertekad menikmati hidup bersama suami dan anak-anaknya tanpa terus larut dalam kesedihannya.
Bersambung...
__ADS_1