
Setelah melihat orang-orang suruhannya terkapar tak berdaya, Haidar mengalihkan pandangannya dan melihat Bryan yang menatap tajam dirinya. Terlihat jelas kemarahan di wajahnya atas apa yang telah ia lakukan kepada Belva.
Merasa tidak ingin jadi pengecut, Haidar melangkah mendekati mereka dan langsung di sambut bogem mentah dari Bryan.
"BHUGGG..!!!" pukulan yang cukup keras membuat Haidar hampir kehilangan keseimbangannya. Namun ia kembali berdiri seolah menyerahkan dirinya kepada Bryan.
Tanpa berpikir lagi Bryan pun kembali menghajarnya berkali-kali hingga darah keluar dari hidungnya.
"Lawan Aku pengecut!!!" Hardik Bryan.
Haidar hanya diam saja tanpa menjawab apalagi membalas pukulan Bryan.
"Berrani-beraninya kau melakukan hal serendah ini kepada putri ku!" dengan penuh amarah, Bryan mencengkeram kerah kemeja Haidar yang wajahnya sudah berlumuran darah. Membuat Belva yang melihatnya merasa tidak tega dan mencoba melepaskan tangan Bryan dari cengkramannya.
"Papa cukup, Lepaskan dia."
"Tidak ada kata ampun untuk nya Belva!" tegas Bryan.
"Belva mohon Pa, Sejak tadi Haidar hanya diam saja tanpa membalas sedikit pun, Itu artinya dia mengakui kesalahannya.
Lagipula dia sudah babak belur Pa."
"Setelah apa yang sudah ia lakukan kepada mu, Kamu masih membelanya?"
__ADS_1
"Aku tidak membelanya, Aku hanya tidak ingin Papa berurusan dengan polisi. Bagaimana jika dia tiada? Aku sudah merasakan bagaimana sulitnya jauh dari Papa, Aku tidak ingin lagi hidup jauh dari Papa." Belva langsung memeluk Bryan dan menangis di dadanya.
Mendengar hal itu Bryan pun mulai mencair dan tidak lagi di kuasai oleh amarahnya.
"Bawa Aku pulang Pa, Aku sangat merindukan Papa, Mama dan seluruh keluarga."
Bryan menganggukkan kepalanya dan membimbing Belva untuk pergi dari sana. Namun Haidar sembari menahan rasa sakitnya menghentikan langkah mereka dengan berdiri di depannya.
"Menyingkirlah!" tegas Bryan.
"Izinkan Aku berbicara dengan Belva."
"Tidak akan!"
"Aku bilang menyingkir!!!" Bryan langsung mendorong tubuh Haidar hingga Haidar tersungkur di tanah.
"Haidar..." Belva langsung berlari memegang kedua bahu Haidar dan membantunya bangun.
"Belva jangan menolongnya! Dia tidak pantas di kasihani!" tegas Bryan.
"Belva... Maafkan Aku," ucap Haidar.
"Belva, Papa bilang jangan kasihani dia apalagi memaafkannya!"
__ADS_1
"Belva, Aku benar-benar minta maaf, Aku salah besar karena membalas dendam kepada orang yang tidak berdosa seperti mu."
Melihat air mata yang menetes dari mata Haidar hingga bercampur dengan darahnya, Belva merasakan hatinya begitu pilu.
"Belva, Jangan lagi terbuai dengan apa yang dia katakan. Ingat Belva dia hampir membuat mu jatuh kepada pria-pria laknat itu!" teriak Bryan.
Mendengar itu, Belva seakan kembali tersadar dan langsung berdiri melepaskan Haidar hingga Haidar kembali jatuh ke tanah.
"Belvaaa..." lirih Haidar memelas.
"Belva jangan menatapnya, Atau kamu akan kembali luluh dengan nya."
"Belvaaa please..."
Belva merasa bingung di tengah-tengah Haidar dan juga Bryan.
Rasa cinta yang ada di hatinya seolah tak memudar meskipun apa yang sudah Haidar lakukan kepadanya.
"Belva, Mama sudah menunggu mu, Jangan sampai membuat Mama kembali jatuh sakit karena Papa pulang tanpa membawa mu."
Tidak ingin lagi membuat kesalahan dan membuat sedih kedua orang tuanya, Dengan berat hati Belva meninggalkan Haidar yang masih mengulurkan tangan meminta belas kasihnya.
Melihat mereka masuk kedalam mobil, Dan perlahan meninggalkannya, Haidar hanya bisa menatap Belva dari spion mobil yang semakin lama semakin menjauh pandangannya.
__ADS_1
Bersambung...