
"Belva bilang dia yang mengejar mu, Itu artinya Belva yang tergila-gila pada mu, Yang jatuh cinta kepada mu, Lalu bagaimana dengan mu, Apa kamu mencintainya?"
Haidar menatap Belva dan belum juga menjawab semua pertanyaan Bryan.
"Kenapa, Apa kamu memiliki maksud tersembunyi sampai pertanyaan semudah itu kamu tidak bisa menjawabnya?"
"Aku sudah terlalu dewasa untuk bicara tentang cinta, Dan Aku pernah gagal dalam pernikahan, Jadi Aku tidak ingin gagal lagi jika menunggu kembali jatuh cinta. Aku lebih baik menikah dengan wanita yang tergila-gila padaku daripada Aku yang tergila-gila. Karena Aku yakin jika dia tergila-gila pada ku maka dia tidak akan mengkhianati ku."
"Tapi bagaimana dengan putri ku jika kamu tidak mencintainya?"
Belva terdiam menatap Haidar, Menunggu jawaban yang sama seperti Papa-nya.
"Cinta akan tumbuh dengan berjalannya waktu. Bukan begitu Tuan Faraz?"
"A-e... Ya... Ya itu benar." Seketika itu juga Faraz terdiam mengingat bagaimana awal pernikahannya dengan Alia yang hari-harinya selalu di penuhi dengan pertengkaran. Namun seiring berjalannya waktu cinta itu bersemi bahkan tumbuh subur di hatinya hingga kini.
__ADS_1
"Tunggu, Apa Tuan Faraz juga mengalami hal yang demikian?"
"E-ya... Sebenarnya kami di jodohkan, Bahkan saat itu Aku masih sangat mencintai mantan istri ku, Tapi kebaikan dan kesabaran istriku mampu meluluhkan hatiku."
"Tapi Papa mertua dan Mama mertua jelas asal usulnya, Kedua orang tua kalian bersahabat, Tapi siapa pria ini, Bagaimana latar belakangnya?"
"Haidar Dhanurendra putra dari Hardianto Dhanurendra, Anda bisa mencari profil beliau di aplikasi G untuk tahu lebih lanjut tentangnya."
Mendengar itu Ziyan langsung membuka aplikasi tersebut.
Semua orang terdiam mendengar Ziyan membaca kabar berita tersebut. Mereka turut merasa sedih karena di usianya yang baru menginjak 9th Bryan telah kehilangan kedua orang tuanya. Namun Bryan yang belum merasa puas merebut ponsel Ziyan dan membaca profil lengkap Ayah Haidar, Kemudian ia juga membuka profil Haidar dan mantan istrinya. Namun belum selesai ia membaca ponsel Ziyan berdering sehingga Ziyan langsung mengambilnya.
"Ziyan angkat dulu Pa," ucap Ziyan yang langsung pergi.
Bryan pun terdiam menatap Haidar. Ia masih merasa bingung keputusan apa yang harus di ambil, Dalam hatinya ia tidak ingin menghalangi putrinya karena ia juga pernah merasakan bagaimana sulitnya menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi ia juga tidak ingin salah mengambil keputusan karena terlalu terburu-buru.
__ADS_1
"Jadi gimana pa?" tanya Belva penuh harap.
"Sesuai apa yang Papa bilang kemarin, Hari ini Papa hanya akan berterimakasih padanya karena sudah menyelamatkan nyawa mu, Tapi untuk restu Papa masih harus mempertimbangkannya."
Belva merasa kecewa dengan apa yang Papanya putuskan. Begitupun dengan Haidar. Namun ia berusaha menahan diri agar keluarga Belva tidak merasa di desak olehnya.
"Belva sudah menceritakan bagaimana keberanian mu menyelamatkannya, Untuk itu Aku berterimakasih kepada mu."
"Siapa pun akan melakukan hal yang sama. Jadi itu bukan sesuatu yang istimewa."
"Kata siapa siapa pun akan melakukan hal yang sama, Nyatanya dari segitu banyaknya orang cuma kamu yang berani menolongku."
Haidar terdiam tak bisa menjawab apa yang Belva katakan, Sementara Bryan menatap Belva kemudian Haidar secara bergantian seolah sedang meyakinkan hatinya jika Haidar memang orang yang tepat untuk menjaga putri kesayangannya.
Bersambung...
__ADS_1