Suami Seperti Papa

Suami Seperti Papa
Yakin


__ADS_3

Haidar berdecak dan mencubit pipi Belva yang lagi-lagi hanya terpaku menatapnya tanpa menjawab pertanyaannya. Membuat Belva memekik kecil dan mengusap pipinya.


"Selalu saja bengong."


"Hehe..."


"Sekarang hanya tertawa."


Belva merasa bingung harus berkata apa, Karena otaknya mendadak lupa apa yang baru saja Haidar katakan.


"Kamu tidak mendengar pertanyaan ku?"


"Tidak, E-maksudku Aku dengar tapi Aku lupa, Hehe..."


"Bisa kita ke rumah mu sekarang?"


"Jangan!"


"Jangan, Kenapa?"


"Aku tidak ingin kedua orang tua ku shock jika tiba-tiba ada seseorang pria datang dan melamar putrinya."


"Jadi kamu menolak ku?"


"Tidak, Bukan begitu, Maksud ku, Biarkan Aku bicara terlebih dahulu pada orang tua ku, Jika sudah baru kamu datang menemui mereka."


"Baiklah, Aku tidak akan memaksa mu."


Belva pun bernafas lega karena Haidar tidak memperdebatkan keputusannya.


Setelah tidak ada lagi perbincangan, Haidar melangkah dan Naik ke atas ranjang. Lupa jika luka di punggungnya masih belum kering, Ia pun menyenderkan punggungnya. Namun seketika itu juga ia langsung memekik keras.


"Argh!"

__ADS_1


Belva yang melihatnya bergegas mendekatinya.


"King Haidar..."


"Aowhhh ini sakit sekali, Coba kamu lihat apakah darahnya kembali keluar?"


Belva yang mendengar hanya merasa panik dan tak tahu apa yang harus di lakukan.


"Ambilkan kotak obat di lemari paling ujung, Bawa kesini."


Dengan patuh, Belva pun berlari kesana dan langsung menemukan kotak obat tersebut. Ia bergegas kembali mendekati Haidar dan meletakkan kotak obat di sampingnya.


Setelah itu Belva kembali merasa bingung karena Haidar masih berusaha membuka pakaiannya.


"Apa yang kamu tunggu, Cepat bantu Aku."


"E-ya." Belva pun dengan gugup membantu Haidar membuka pakaiannya. Dan membuatnya semakin merasa gugup ketika pakaian itu benar-benar terlepas dari pandangannya.


Untuk sejenak Belva terpana melihat dada bidangnya yang sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus. Membuat dirinya berpikir bagaimana rasanya berada dalam dekapan pria dewasa itu.


"A-e... M-maafkan Aku." Belva mengalihkan pandangannya dan kembali mengambil kotak obatnya. Sementara Haidar berbalik badan dan membiarkan punggungnya berhadapan dengan Belva.


"Apa darahnya menembus perban, Kenapa Aku merasa ada sesuatu yang mengalir di punggung ku?"


"E-ya. Itu yang Aku khawatirkan ketika kamu pergi dari rumah sakit tanpa bicara dengan Dokter, Tapi kamu langsung kabur berlaga seperti jagoan."


Haidar tersenyum dan meraih tangan Belva, Menarik melewati pundaknya. Membuat Belva yang berdiri dengan kedua lututnya langsung berpegangan pundak Haidar untuk menahan tubuhnya agar tidak mengebai lukanya.


Haidar menengadahkan kepalanya ke atas dan membuat mereka saling menatap dari jarak yang cukup dekat.


Tanpa melepaskan pandangannya Haidar menci'um tangan Belva yang ada di genggamannya.


Meskipun hanya sebuah kecupan singkat namun mampu membuat Belva merasakan desiran aneh kembali menyerang tubuhnya. Gelora mudanya seolah meminta lebih dari sekedar kecupan di tangannya.

__ADS_1


"Terimakasih ya..."


"Ahhh sialll, Hanya itu?" batin Belva yang merasa terkejut dengan ucapan Haidar. Terlebih Haidar juga melepaskan tangan Belva dan berbalik badan menghadapnya.


"Kamu bengong lagi?"


"E-tidak."


"Apa yang kamu pikirkan Belvaaa... Seharusnya kamu merasa bangga karena pria idaman mu ini tidak mengambil kesempatan atas dirimu, Coba jika pria lain, Dia pasti akan langsung memakan mu." Belva menasehati dirinya sendiri dalam hati.


"Kalau begitu Aku pulang dulu."


"Tunggu, Berikan ponsel mu."


"Untuk?"


"Apa kamu tidak ingin tahu nomor telepon calon suami mu?"


"Oh... Ya."


Haidar menggelengkan kepalanya dan mengambil ponsel dari tangan Belva, Kemudian ia menuliskan nomor teleponnya dan mengembalikan ponsel itu pada Belva.


Belva tersenyum melihat nama Haidar Dhanurendra tertera di layar ponselnya. Setelah itu ia kembali memasukkan ponselnya ke tas kecil yang menyilang di pundaknya.


"Baiklah, Aku pulang."


"Ya, Segera hubungi Aku setelah bicara pada orang tua mu, Aku tidak akan menunda-nunda waktu untuk menemuinya."


Belva mengangguk dan melangkah mundur kemudian berbalik badan meninggalkan kamar Haidar.


Ia meninggalkan rumah Haidar dengan penuh keyakinan.


Kali ini hatinya benar-benar telah mantap menikah dengan pria yang usianya lebih dari setengah umurnya. Tidak ada lagi keraguan dalam hatinya kecuali memikirkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya ketika ia menyatakan keinginannya untuk menikah di usia muda.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2