
Satria terus menyindir Yasmin hingga membuat gadis itu hampir menangis.
"Ok, kau boleh menginap disini selama yang kau mau? kau tidak keberatan, kan Kiran?"
Kirana tertegun, baru saja Satria bisa bersikap ramah padanya, Yasmin datang untuk merusaknya.
"Tentu saja tidak." jawab Kirana.
"Karna kamar di rumah ini cuma tiga, kau pindahkan barangmu ke kamar ku. biar Yasmin yang menempati kamarmu!"
Tak hanya Yasmin, Kirana juga tercengang
mendengar perintah Satria yang satu itu.
"Apa Satria sakit? tiba-tiba saja dia minta aku pindah ke kamarnya? aku tau, dia melakukan semua ini karna ingin membuat Yasmin cemburu. Tapi kalau sampai minta satu kamar, aku tidak percaya."
Bathin Kirana bimbang.
"Ayo.. beresin!" Satria mengagetkan lamunan Kirana.
Walau ragu, Kirana melakukan perintah Satria.
Malam itu Kirana menyajikan malam sederhana hasil masakannya sendiri.
Satria dengan bersemangat duduk di meja makan.
"Wah, enak kayaknya nih?"
Namun Satria tertegun, ia seperti mencari seseorang.
"Yasmin?" tebak Kirana.
Satria mengangguk.
"Dimana Nona kaya itu? apa dia juga alergi kalau duduk semeja dengan kita disini?" ucapnya sinis.
Yasmin tak sengaja mendengar ucapan Satria. Hatinya terasa berdenyut nyeri.
"Biar aku panggil dulu."
Kiran sudah bangun berdiri dari duduknya namun Satria menahan nya.
"Biarkan saja, kalau dia mau makan pasti dia datang. Belum tentu juga dia mau makanan yang kita santap." suaranya sengaja di keraskan dengan tujuan Yasmin akan bisa mendengarnya.
Yasmin datang ke meja makan dengan wajah murung.
Melihat kedatangan Yasmin. Satria mulai berakting mesra kepada Kirana.
"Masakanmu enak sekali Kiran, aku baru merasakan makanan yang senikmat ini." ucapnya tersenyum ke arah Kirana.
"Boleh aku ikut dudu" tanyanya pelan.
"Silahkan Yas...!" jawab Kirana.
Satria tidak meresponnya, ia sibuk memuji dan menyuap makanan di depannya.
"Kalian teruskan saja, aku sudah kenyang."
Satria meninggalkan kedua wanita itu dengan langkah ringan.
"Sepertinya Satria benci sekali pada ku." ucap Yasmin.
"Yah, kau harus maklum. siapa sih yang tidak sakit hati telah di khianati? tapi aku rasa ini hanya sebentar. Dia akan melupakan semuanya, kau bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang, Satria biar aku yang urus. oh, ya? kenapa kau kesini? bukannya disana banyak tempat-tempat yang mewah yang bisa kau kunjungi?"
'Aku juga tidak tau, walaupun aku mengabaikannya dan tidak mau tau. aku merasa ada sesuatu yang tertinggal di tempat ini, tapi spa itu, aku juga tidak mengerti." jawab Yasmin lirih.
Ada kekhawatiran di hati Kirana mendengarnya.
__ADS_1
"Tentu saja kau meninggalkan sesuatu, kau meninggalkan hati Satria yang sudah terpaut padamu hanya saja kalian sama-sama tidak menyadarinya.." bathin Kiran, namun ia tidak mengatakannya.
"Kalau menurut aku, sebaiknya jangan ganggu dia dulu, saat ini dia sedang merasakan kekecewaan yang begitu parah. Yang ada dia malah semakin benci karna melihat mu setiap hari. Itu akan mengingatkannya pada perbuatanmu."
ucap Kiran memberi saran.
Yasmin termenung sejenak
"Mungkin kau benar, aku harus menjauh darinya."
Setelah itu, Yasmin mengambil tas dan kunci mobilnya. Tanpa sepengetahuan Satria, ia pergi meninggalkan rumah itu.
Kirana melepasnya dengan perasaan tak karuan.
"Maafkan aku Yas, aku terpaksa melakukan ini, aku tidak mau kau mengambil Satria dari ku."
"Kiran, kenapa berdiri di situ?" Satria tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya.
"Yasmin, dia memaksa pergi."
"Pergi?" Satria terlihat kaget.
"Maksud aku, dia yang datang sendiri mau menginap di sini, tapi kenapa tiba-tiba saja pergi?" tanyanya heran.
"Aku juga tidak mengerti, walaupun aku sudah berusaha menahannya, tapi dia tetap berkeras.Katanya sih, tidak mau mengganggu kedekatan kita." ucap Kiran pelan.
"Kedekatan kita?" Satria terlihat kaget.
Kirana mengangguk.
Satria berusaha menyembunyikan perasaanya.
"Owh, bagus lah. biar dia nyadar siapa dia buat kita."
Satria berlalu kekamarnya. Sebentar kemudian, dia keluar lagi membawa bantal dan selimut.
Kirana, tau. itu hanya alasan Satria untuk menghindarinya.
Satria langsung tidur di sofa sambil
menutup wajahnya dengan bantal.
"Ini memang menyakitkan, tapi aku tidak bisa melepasmu, Sat. Aku terlanjur mencintaimu, sangat mencintaimu...!" gumam Kirana lirih.
***
Yasmin pulang ke apartemennya dengan wajah lesu,
"Kenapa sikap Satria membuat ku sakit seperti ini? benar kata Kirana, aku harus melupakan pemuda itu."
Yasmin mengambil minuman dan mulai menegaknya.
Pagi harinya, Yasmin di bangunkan oleh suara ponselnya yang tepat di sisi kepalanya.
Saat membuka mata, kepalanya terasa sangat pusing.
'Siapa yang menelpon pagi-pagi begini?" umpatnya kesal.
'Iya, Vi. ada apa?"
Vivi teman kuliahnya yang menelpon.
"Kau dimana? kau harus bersiap. ada wartwan infotainment yang ingin bertemu denganmu. kau akan jadi terkenal." ocehan Vivi di sebrang membuatnya sedikit heran.
"Apa hubungannya denganku?" ketus Yasmin.
"Aku tidak ada waktu untuk menjawab semua permintaanmu itu,
__ADS_1
Dengan malas ia segera mandi.
Beberapa menit kemudian, Vivi sudah sampai di depan pintu.
"Yas, bukain pintu!"
"Ayo berkemas, kau harus tampil secantik mungkin di depan kamera." ujar Vivi bersemangat.
"Aku tidak mau ah, Vi. pikiranku lagi galau."
tolak Yasmin.
'Ini sangat menguntung kan.. bayangkan kalau kau muncul di tv dalam acara gosip? kau akan terkenal, bahkan mungkin saja akan jadi selebriti." ujar Vivi bersemangat.
"Aku tidak mau terkenal, apalagi jadi selebriti.
Ternyata uang dan popularitas tidak menjamin kebahagiaan." ucapnya sendu.
"Kau? apa aku tidak salah dengar?" Vivi tak percaya.
"Tapi apapun alasannya, jangan di batalkan, karna aku sudah menyanggupinya.
Yasmin mendelik ke arah sahabatnya.
Karena melihat Vivi yang pucat ketakutan, Akhirnya Yasmin setuju.
Wawancara itu akhirnya terjadi juga di apartemen Yasmin.
Sepanjang wawancara, Yasmin banyak termenung, itu mengundang tanya bagi yang melihatnya.
Yasmin di wawancarai karna menjadi orang yang kaya raya secara mendadak.
Yasmin mengakui dalam wawancara itu.
"Saya memang punya harta yang berlimpah, apa pun yang saya inginkan bisa terwujud. Tapi karna ini semua, saya juga banyak kehilangan, kehilangan seorang teman sejati sangat menyakitkan. Kehilangan orang yang tulus menerima kita apa adanya, bukan karna harta kekayaan yang kita miliki."
"Saya berpesan pada setiap wanita yang ada di luar sana! jangan pernah seperti saya, cukup saya saja yang mengalaminya. Kehilangan kepercayaan dari orang terdekat kita adalah hal yang paling menyakitkan.
Untuk seseorang yang mungkin sedang melihat tayangan ini, aku mohon maaf, aku sudah kalah.. dan prinsip mu lah yang menang."
Ia hampir saja menangis di depan kamera.
Yasmin menutup keterangannya. Ia tidak mau meneruskan wawancara itu lagi.
"Sedikit lagi mbak..!" ucap mereka memohon.
Namun Yasmin menolak.
"Saya kira cukup. kalian tidak usah membayar saya, tapi saya mohon tinggalkan saya sendiri!" ucapnya tegas.
Saat semua sudah pergi, Vivi mendekatinya.
"Kau kenapa?"
Yasmin tambah terisak.
'Sekarang aku benar-benar sendirian Vi, dari sekian banyak teman yang mengelilingiku selama ini, mungkin hanya kau yang tulus mau bersahabat denganku. yang lainnya cuma mau uangku saja."
Vivi merangkulnya.
"Aku senang, setidaknya kau menyadari dan mau mengaku salah terhadap sesuatu yang terjadi dalam hidupmu. Jujur aku senang sekali." ucap Vivi.
"Terima kasih, Vi. Aku sangat butuh dukunganmu saat ini."
Sehari setelah di liput, tayangannya muncul di tv.
Satria, Kirana dan pak Karim kebetulan juga sedang menonton tv di saluran yang sama.
__ADS_1
"Nak Yasmin masuk tv!" sorak Pak Karim kegirangan.