
"Selamat pagi, pak."
"Pagi, Yo-si..." Jawab Bara ragu.
Ia teringat pembicaraannya semalam dengan Satria.
Silahkan duduk!"
Yasmin duduk dengan tegang.
"Maaf sebelumnya, pak! Saya datang pagi ini karna ingin mengajukan pembatalan kerjasama kita." ucapnya dengan lancar.
"Kenapa?"
"Karna suatu dan lain hal yang tidak bisa saya jelaskan di sini."
"Tapi menurut aturan, kau sudah menyalahi janji. Tidak bisa dong di putus secara sepihak."
"Saya mohon, sangat memohon..!" ucapnya memelas.
Di saat itu ia melihat Satria sedang berjalan keluar.
Tanpa permisi, Yasmin berlari mengejarnya.
Bara menggeleng di buatnya.
Pintu lift sudah hampir tertutup, namun kaki Yasmin berhasil menahannya.
Satria kaget dengan Yasmin yang tiba-tiba.
"Kau? Kenapa ada di sini sepagi ini?"
Yasmin mengatur nafasnya yang masih ngos- ngosan.
"Sebenarnya saya ada perlu dengan pak Bara. Tapi ternyata dia tidak bisa menyelesaikan masalah saya." Ucap asmin sambil meniup poninya.
Tiba-tiba lift itu berguncang cukup hebat. Hingga Yasmin yang tak siap hampir terjerembab. Untungnya dengan sigap Satria menangkap tubuh semampai itu.
Sejenak mereka saling bertatapan.
Yasmin buru-buru melepaskan diri dari dekapan Satria.
Keduanya terlihat salah tingkah.
"Maaf..." ucap Satria gugup. Ada getaran aneh saat ia menatap mata indah milik Yasmin.
Begitupun Yasmin. Ia tidak bisa menyembunyikan debaran jantungnya yang begitu cepat.
"Eeeh.. Terimakasih, bapak sudah menolong saya." jawabnya canggung
"Kenapa lift ini tiba-tiba berhenti?" tanya Satria seolah pada dirinya sendiri
Yasmin mulai panik menggedor pintu lift itu.
"Sial..! Ponsel ku mati, lagi." ucap Satria kesal.
"Kau bawa ponsel?"
Dengan cepat Yasmin membuka tasnya.
"Yach... Pake ketinggalan, lagi." Yasmin mendesah kecewa.
sambil menunggu bantuan, Satria duduk di lantai lift sambil bersandar.
Jujur dalam hati ia bersyukur bisa terperangkap di dalam lift itu bersama Yasmin, ibu dari anaknya.
"Oh, ya? Ada masalah apa? Apa aku boleh tau?"
"Ada hubungannya dengan bapak juga, sih.
Begini, saya mengajukan pembatalan kerjasama kita. Tapi pak Bara tidak menerimanya. Saya pikir keputusan terakhir ada di tangan bapak. Jadi saya mengejar bapak sampai di lift sialan ini."
Satria mengulas senyum manis nya.
"Ternyata dia masih tetap seperti dulu, ceplas ceplos, tempra mental dan cuek." batin Satria. Melihat Satria tersenyum, membuat Yasmin grogi.
"Kok, Bapak jadi tersenyum gitu? Ada yang lucu, ya?" tanyanya sambil membenarkan poni nya.
__ADS_1
"Keras kepala...!" ucap Satria singkat.
Yasmin terkesiap.
"Itu sebutan nya padaku dulu. Apakah dia sudah tau siapa aku sebenarnya?" batin Yasmin.
Dengan ragu ia menatap Satria yang ternyata juga sedang menatapnya.
Aiih.. Tatapan yang dalam beberapa tahun terakhir selalu dirindukanYasmin, sangat mempesona.
"Sadar Yasmin... Dia bukan milik mu lagi. Dia milik Kirana seutuhnya, kau hanya penggalan masa lalunya..." ia mencoba membujuk dirinya sendiri.
"Ada sesuatu di rambut mu!" kata Satria.
Dengan panik Yasmin meraba rambutnya.
Satria menarik tangannya hingga mereka duduk berdampingan. Sangat dekat.
Satria mengambil sesuatu dari rambut Yasmin. Lalu memberikannya.
Satria menggeser duduknya, Bahkan kini ia sudah menghadap wanita itu.
Yasmin merasa salah tingkah saat Satria menatapnya dengan jarak yang begitu dekat.
"Yosi... Kau akan lebih cantik tanpa kaca mata ini." ucap Satria sambil melepas kaca mata Yasmin.
"lDebaran hati Yasmin semakin tak terkendali.
Bahkan ia pasrah saat pria di hadapannya mendekatkan wajahnya. bahkan sangat dekat...
Yasmin yang gugup memejamkan matanya.
Pikirannya sudah terbang ke angkasa raya, namun tiba-tiba berada di bumi kembali saat Satria mencium keningnya dengan lembut.
"Maaf...!" hanya itu terucap dari bibirnya. Lalu beringsut agak menjauh.
Yasmin buru-buru membenarkan rambut dan memakai kaca matanya kembali.
"Oh, ya. Kenapa kau mau membatalkan kontrak kerjasama kita?"
"Ada sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan."
Yasmin mendengus kesal.
"Percuma dong saya kejar bapak sampai terjebak di lift ini."
"Tapi aku tidak menyesal..." ucap Satria enteng.
"Tapi tolong dong kabulkan Permohonan saya, pak. Hanya bapak yang bisa menolong saya!"
"Yosi.. ! Kau tau prosedur nya , kan? Perusahaan akan rugi besar. Kalau aku kabulkan permintaan mu. Itu mungkin bisa membantumu. Tapi aku merugikan banyak orang yaitu karyawan ku. Dan itu jumlahnya tidak sedikit."
"Aya, sudah kalau bapak lebih perduli pada karyawan ketimbang anak sendiri..!"
Satria langsung menghadap wajah Yasmin.
"Kau bilang apa barusan?"
Yasmin tergagap. Ternyata dia sudah keceplosan.
"Tidak apa, pak. Ya sudahlah kalau bapak tidak mau menolong saya."
"Bukan itu, kamu bilang anak, anak gimana?"
Yasmin pura-pura tertawa.
"Anak? Kapan saya bilang anak? Yee... bapak saja yang salah dengar." Yasmin memainkan jemarinya dengan gelisah.
"Bagaimana kabar Rayyan?"
"Baik, dia sangat bahagia dengan calon papanya."
Satria mengangguk angguk.
Satria ingin sekali membuka penyamaran Yasmin saat itu.
"Kenapa lama sekali, sih mereka benerin lift nya." keluh Yasmin lagi.
__ADS_1
"Berdoa saja semoga ada Yanga nyasar kalau kita berada dalam lift ini. Kalau tidak, kita akan menginap di sini." ucap Satria tersenyum.
"Bapak jangan menakut-nakuti saya, dong pak."
"Aku tidak menakuti mu. Cuma kepikiran bagaimana reaksi pacarmu kalau tau kau dan aku terjebak dalam lift semalaman." goda Satria lagi.
Pacar saya orangnya pengertian. Dia akan percaya pada sepenuhnya. Tapi kalau bapak ketahuan oleh Bu Kirana, saya yakin bapak lah yang akan dapat masalah."
Satria tersenyum , ia tidak menyangkalnya.
"Kalau begitu,kau aman. Sedangkan aku tidak perduli apa kata orang termasuk Kirana. Kita nikmati saja!" ucapnya santai.
Wajah Yasmin tersipu merah. Ia menjadi salah tingkah.
Ia hendak bangkit dari duduknya. Tapi sial,
ia kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleng kesamping. Dengan cekatan Satria menangkap tapi sayangnya rambut yang di pakai Yasmin terlepas.
Kedua nya saling terpaku.
Yasmin buru-buru memungut rambut palsunya, tapi Satria menahan tangannya.
Satria menggeleng.
"Cukup Yasmin! Kita akhiri permainan ini."
Satria melepas kacamata di wajah Yasmin melepas tahi lalat besar di dagunya.
Yasmin hanya terpana, ia bingung menyadari kalau Satria sudah tau siapa sebenarnya Yosi.
Satria meraih tubuh ramping itu dan membenamkan dalam pelukannya.
"Pak..."
"Ssst....! Aku mohon diamlah." Satria memotong ucapan Yasmin. Ia mendekap tubuh Yasmin sambil memejamkan mata. Yang ada hanya keheningan di antara mereka.
"Sangat lama aku mencari mu. sampai akhirnya aku lelah dan menyerah. Tapi harapan dalam hatiku masih tetap menyala...
Kenapa kau tega sekali meninggalkanku? Aku seperti orang gila setelah kepergian mu!"
Kenapa?" Satria mengguncang bahu Yasmin.
"Aku..aku..." Satria kembali menariknya dalam rengkuhan.
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku lagi, aku lelah sudah."
Yasmin masih belum percaya yang terjadi. Ia masih ragu meyambut rangkulan Satria.
"Rayyan... Dia sangat mirip dengan ku. siapa pun tidak akan ragu kalau dia adalah putraku. Benar, kan?"
Bibir Yasmin membisu. Ia tidak tau harus berkata apa. semua terjadi begitu cepatnya. Ia benar-benar belum siap menghadapinya.
"Maaf, tapi di antara kita sudah ada jurang yang begitu dalam. kita tidak mungkin bersama lagi. Aku tidak mau Rayyan akan kecewa seperti halnya aku..."
Satria mendekapnya semakin erat. Air matanya berurai tak terbendung.
Yasmin merasakan ada setitik air yang jatuh di wajahnya. Itu adalah air mata Satria, suami yang sangat di rindukannya. Tapi ada sesuatu yang menghalanginya untuk memeluk pria itu.
"Aku tida ingin mendengar alasan apa pun juga. Aku mohon jangan pisahkan aku dengan kedua nyawaku lagi. Kau dan Rayyan adalah nafasku. Bagaimana aku bisa hidup tanpa kalian?"
"Dio? Kirana?" sampai disitu suara Yasmin tercekat.
"Kirana? Dia hanya patung dalam hidupku."
Entah apa maksud ucapan Satria itu.
"Apakah kau tidak merindukan ku?" tanya Satria dengan ekspresi kesal.
"Tidak!" jawab Yasmin cepat.
Namun air matanya tidak bisa berbohong.
Satria menatapnya lembut.
"Dasar pria tidak perasa! dia tidak tau apa? kalau batin ku tersiksa setiap saat karna merindukan dirinya?"
"Aku ingin buktikan kalau kau tidak merindukan ku" setelah itu, Satria tidak membiarkan Yasmin bicara lagi. Bibirnya sudah mendarat di bibir Yasmin.
__ADS_1
Ciuman hangat penuh cinta dari insan yang saling mencintai dan sudah terpisah begitu lama.
Di tengah syahdunya suasana. Tiba-tiba pintu lift terbuka. Satria dan Yasmin tidak menyadari banyak pasang mata sedang mengawasi mereka.