
Satria masih memeluk Yasmin dengan erat,
ia tidak membiarkan Yasmin bergerak sedikit pun.
Yasmin buru-buru mengurai pelukan Satria saat menyadari Bara yang berdehem, ia merasa malu jadi tontonan para karyawan.
Tidak dengan Satria. Sedikitpun ia merasa malu atau semacamnya.
Ia masih menggenggam tangan Yasmin erat.
"Syukurlah, kalian tidak apa-apa." ucap Bara lega.
"Aku sempat khawatir kalian kehabisan oksigen di dalam sana." timpalnya lagi.
"Salahmu lelet mengambil tindakan!" jawab Satria jutek.
Semua heran menatap kearah Yasmin. Mungkin mereka merasa heran, Bos besar dan angkuh seperti Satria bisa menggandeng Yasmin.
Yasmin merasa risih dan berusaha melepas pegangan Satria. Tapi Satria tidak melepaskannya.
"Kalian lihat apa? Ayo kembali ke pekerjaan kalian masing-masing!" suara berat Satria membuat nyali mereka menciut dan pergi dari tempat itu.
Satria terus membawa Yasmin ke mobilnya.
"Kita mau kemana?" tanyanya dengan gelisah. ia takut Kirana memergoki mereka, bisa gawat masalahnya.
"Kenapa kau seperti ketakutan begitu?" Satria balik bertanya.
"Jujur aku takut pada Kiran." ucapnya dengan wajah cemas.
Lalu ia menceritakan semua yang terjadi di rumahnya, juga tentang isi ancaman itu.
Satria sangat geram mendengar berita itu.
"Dimana alamat mu? Kita harus cepat amankan Rayyan." ucapnya dengan wajah cemas juga.
"Biar aku yang nyetir!" ujar Yasmin sambil menggeser duduknya. Walau Satria terlihat heran, namun Yasmin tidak perduli. Ia duduk di belakang kemudi.
"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau Rayyan kenapa-kenapa." gumam Yasmin.
"Kau kira aku akan diam saja?"
"Mana macet lagi....!" omel Yasmin.
Saat itu ponselnya berbunyi.
Saat di liriknya ternyata dari Dilla.
Hatinya semakin cepat was saat suara Dilla terdengar panik.
"Pa yang terjadi, Dil?" ia bertanya sebelum Dilla menjelaskan sesuatu.
"Rayyan, dia tidak ada di kamarnya...!" jawab Dilla gugup.
"Apa?... Cari di seluruh tempat!" pekiknya membuat Satria ikut panik.
"Kenapa Rayyan?"
Yasmin mulai menangis.
"Ini yang aku takutkan, gara-gara kau mendekati ku Rayyan jadi korban. Jadi mulai sekarang kau jauhi aku saja. Lupakan Rayyan!" kata Yasmin tegas.
"Tidak bisa! Apa kesalahanku? Reaksiku wajar saja saat menemukan istri dan anak ku yang telah lama menghilang." Satria tak mau kalah.
"Tapi apa kau tidak sadar kalau istrimu akan merasa terganggu."
"Aku tidak perduli.. Istri ku yang sesungguhnya hanya satu, yaitu kau!"
"Lalu Kiran?"
"Dia hanya istri di atas kertas."
Yasmin tidak puas dengan jawaban Satria.
"Uang jelas aku tidak akan melepaskan kalian lagi demi apa pun dan siapapun!" Satria menegaskan.
Mereka terus berdebat sampai tiba di depan rumah Yasmin.
Yasmin langsung menghambur kedalam di ikuti oleh Satria.
"Ray.. Ini Mama." teriaknya.
__ADS_1
"Belum ketemu, Yas.. aku dan Adam sudah mencarinya kemana kemana.
Yasmin bersimpuh di lantai, ia menangis sejadinya.
"Siapa yang yang sudah begitu tega nya melibatkan anak kecil."
pada saat itu Rayyan masuk sambil memegang es krim.
Anak itu kaget melihat Mamanya menangis histeris.
"Mama...?" semua mata mengarah pada Rayyan yang muncul di pintu sambil membawa es krim di tangannya.
"Ray...!!" Yasmin memeluknya dengan erat.
"Kenapa Mama menangis?" tanya Rayyan bingung.
"Ray, kemana saja? Mama dan Tante Dilla bingung mencari mu. Mama pikir Rayyan sudah hilang."
Ucap Yasmin tersenyum di sela tangisnya.
"Ray...!"
Satria membuka lebar kedua tangannya sambil berjongkok.
Rayyan begitu gembira menyadari kehadiran Satria.
"Papa...!" serunya dengan mata berbinar. Ia langsung lari memeluk Satria.
"Papa kangen sekali sama Rayyan... Apa Ray tidak kangen papa...?"
Rayyan mengangguk lucu. Dari ekspresi nya, dia sangat bahagia dengan kedatangan papanya.
Satria menciuminya tanpa henti.
"Papa akan selalu ada di dekat Rayyan, papa janji, papa akan temani Ray main, akan antar Ray kesekolah dan apapun yang Rayyan inginkan akan papa kabulkan." ucap Satria dengan mata yang sudah memerah. Ia sangat terharu dan bahagia.
Yasmin ikut terharu dengan adegan itu.
Tapi sejurus kemudian ia memasang wajah tegasnya.
"Aku ingin bicara berdua saja...!" ucapnya pada Satria.
Dilla dan Adam saling pandang. Merek tidak mengerti apa ya g terjadi dengan pasangan itu. Baru saja terlihat akur, sekarang sudah galak - galakan lagi.
"Ray, kenapa pergi tidak kasi tau Tante Dilla sayang?"
Rayyan terlihat mengingat sesuatu.
"Paman yang baik itu titip ini sama Mama."
Rayyan memberikan kertas lusuh pada Yasmin.
Dengan penasaran dia membukanya.
"KAU PASTI KETAKUTAN, KAN? KALI INI AKU HANYA MEMINJAMNYA. TAPI LAIN KALI....??"
Yasmin terhenyak membaca pesan di kertas itu. Satria yang penasaran langsung mengambilnya dari Yasmin.
Seketika rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Sangat jelas terlihat kalau pria itu sangat murka.
"Ray.. Paman yang baik hati itu siapa? Ray mengenalnya?" tanya Satria dengan nada lembut.
Rayyan menggeleng.
"Kenapa Rayyan bisa pergi dengannya?"
"Paman baik itu mengajak Ray ke warung sana untuk membeli es krim.. Dia bilang, besok kalau Ray mau lagi dia akan ngajak Ray pergi lagi..." ucap Rayyan senang.
Yasmin langsung emosi.
"Sudah Mama bilang, jangan pergi dengan orang asing! Ray sudah lupa, ya?" bentaknya dengan nada tinggi.
Rayyan ketakutan dan memeluk papa ya.
Satria memberi isyarat agar Yasmin jangan memarahinya.
"Tenanglah... Ray tidak usah takut. Mama hanya takut kalau Ray kenapa-kenapa." ia memeluk putra yang sangat di rindukannya itu.
"Iya, Yas. Jangan marahi Rayyan. Aku yang salah karena sudah lalai menjaganya... Aku minta maaf..!" ucap Dilla.
"Kau tidak salah.. Maaf, aku hanya emosi."
__ADS_1
Yasmin
Mengulurkan tangannya untuk memeluk Rayyan
"Maafkan Mama, Nak.. Mama begitu panik hingga tidak sadar sudah membentak mu."
Rayyan masih bersembunyi dalam pelukan papanya.
"Ray, peluk Mama sana! Mama begitu karna Mama sayang sekali sama Ray, dia tidak mau Ray kenapa-kenapa."
Dengan takut-takut Rayyan mendekati Mamanya.
"Mama minta maaf, ya!"
Rayyan mengangguk senang.
Dilla dan Adam membawanya ke kamar. Mereka memberi ruang pada Satria dan Yasmin untuk bebas bicara.
"Papa jangan pulang dulu, ya..!" Rayyan menoleh dan berteriak.
Satria mengangguk senang.
Suasana hening saat mereka sudah berdua saja.
"Tolong jangan terlalu dekat dengan Rayyan.!
Bukan apa-apa, tapi itu hanya akan mendekatkan Rayyan pada bahaya."
"Jadi, maksudmu, aku penyebab Rayyan dalam bahaya? buat putraku sendiri?" Satria terlihat tidak suka.
"Aku mohon mengerti lah.. Rayyan memang putramu, tapi demi keselamatannya apa kau tidak mau mengalah sedikit saja?" desak Yasmin lagi.
Satria menekuk mukanya.
Bagaimana mungkin ia mengabulkan permintaan Yasmin? Bertahun tahun dia berusaha menekan mereka, Lalu setelah bertemu, akan melupakannya begitu saja? Tidak! Satria menggeleng.
"Kita akan pikirkan nanti tentang itu."
Satria memegangi lehernya.
"Bertahun tahun tidak bertemu, apa kau tidak bisa bersikap manis sedikit, menawari segelas air putih untuk suami mu ini, kek? Kerongkonganku terasa kering." keluh Satria dengan wajah memelas
Ia tidak menanggapi permintaan Yasmin untuk menjauhi Rayyan.
Yasmin bangkit dengan berlagak kesal.. Namun hatinya bergemuruh tidak karuan.
Ia melangkah melewati pria itu dengan gugup.
Entah karna canggung atau kurang hati-hati. Kakinya terantuk sepatu Satria, tubuhnya limbung dan jatuh menimpa pria itu. Dengan posisi Satria telentang di sofa dan Yasmin di atasnya.
Tatapan mereka beradu.
"Kau semakin cantik dan dewasa..." bisik Satria. Membuat Yasmin menarik tubuhnya. namun Satria menahannya.
"Apakah kau tidak merindukan saat-saat seperti ini?"
Yasmin memalingkan wajahnya yang bersemu merah.
Tentu saja dia sangat merindukan momen itu. Tapi egonya yang besar mengalahkan perasaannya.
"Kau sudah punya Kirana!" ucapnya ketus.
"Tapi yang aku mau hanya dirimu...!" wajah Satria semakin mendekati wajahnya.
Yasmin menahan debaran jantungnya.. Ia memejamkan mata, menanti dengan pasrah apa yang di lakukan pria itu.
"Ehem...!" Suara Adam mengagetkan mereka.
Yasmin buru-buru berdiri dan membenarkan rambutnya.
"Bagaimana rautan? Sudah tidur?" tanyanya dengan salah tingkah karna kepergok oleh Adam.
"Sudah..!" jawab Adam ketus. Ia merasa cemburu melihat apa yang terjadi barusan di depan matanya.
"Pak Satria seharusnya pulang saja, Rayyan sudah tidur. Dan untuk keamanan rumah ini, kan sudah ada saya.." ucapnya dengan jutek.
Yasmin ikut membenarkan. Ucapan Adam.
Tanpa membantah, Satria bangkit dan meraih jaketnya,
lalu melangkah ke kamar Rayyan. Dilla langsung tersenyum mengangguk dan beringsut keluar saat melihat pria tampan itu masuk.
__ADS_1
"Papa, pulang dulu.. Papa janji, kita tidak akan berpisah lagi. Papa akan menjagamu dengan nyawa papa sendiri. Masalahnya sekarang, papa harus merebut hati Mama yang keras kepala itu. Sabar, ya Nak!" Satria mengelus rambut Rayyan yang lebat, Lalu menciumnya.
...----------------...