SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 61


__ADS_3

Yasmin terus menguatkan Bu Lidia meski hatinya sendiri gelisah.


"Satria akan segera bebas, dia orang baik, Allah pasti menolong orang baik." bujuk Yasmin.


"Mama sudah bilang punya firasat buruk, tapi dia tetap saja pergi." ratap Bu Lidia.


"Sebaiknya saya antar kalian pulang. jangan khawatirkan Satria, pengacara bersamanya."


Yasmin mengangguk dan mengajak mertuanya masuk kedalam mobilnya Bara.


"Mas Bara, menurutmu apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini sebuah konspirasi?" tanya Yasmin.


"Aku belum tau persis, tapi melihat keanehan yang terjadi, bisa jadi."


"Perusahaan juga sedang mengalami masalah, apa Satria tidak cerita?"


Yasmin dan Bu Lidia menggeleng.


"Masalah apa? Pantas aku lihat dia sering bengong dan berpikir. Ketika aku tanya, dia bilang tidak ada apa-apa." jawab Yasmin cemas.


"Mungkin dia tidak mau membuat kalian ikut khawatir." ucap Bara.


"Memangnya ada masalah apa?" Bu Lidia ikut bicara.


"Beberapa hari yang lalu, petugas mencurigai perusahaan kita menyelundupkan barang terlarang. Entah dari mana mereka mendapat laporan itu. Sampai sekarang kasus itu belum selesai sudah di tambah lagi dengan kejadian ini."


"Ada masalah sebesar ini Satrio tidak mau cerita? Dasar anak itu?" Bu Lidia sewot.


"Tenang, Ma.. Mungkin benar kata Mas Bara. Satria tidak ingin kalau kita ikut cemas memikirkannya." Yasmin mengusap punggung mertuanya lembut.


"Tapi kalau sudah begini apa tidak membuat kita cemas namanya...?" ucapnya masih sewot.


"Ibu tidak usah khawatir, saya akan mengurus masalah ini."


"Iya, aku harap begitu. Cepat bebaskan putraku dari tempat itu. kasihan anak dan istrinya, mereka baru saja bertemu sekarang sudah harus berpisah lagi..." keluh Bu Lidia.


***


"Cepat urus masalah ini, saya ingin cepat keluar dari sini." ucap Satria pada pengacaranya.


"Iya, saya akan berusaha sebisa saya agar pak Satria bisa cepat bebas dari tuduhan pembunuhan ini.


Tapi mungkin agak ribet masalahnya Karena cctv sebagai bukti satu-satunya di tempat itu menghilang." ucap pengacaranya.


 Satria mengepalkan tinjunya.


"Siapa yang telah membunuh Kirana? dan apa motif nya? " Satria masih tidak percaya kalau Kirana sudah tidak ada.


"Atau ada orang yang sengaja ingin menjebak ku."


"Betul, Pak. Ada yang ingin menjatuhkan pak Satria dengan kasus ini.


Setelah pengacaranya pergi. Satria duduk merenung di sel yang dingin itu.


"Siapa sebenarnya yang ada di balik ini semua? apakah Edgar, atau Bram?"


Satria terus menebak-nebak.


ponselnya menyala, saat di bukanya


ada pesan dari istrinya.


(Kau baik-baik saja? Mereka memperlakukanmu dengan baik, Kan?)

__ADS_1


Satria tersenyum membacanya.


(Aku baik-baik saja, kau jangan khawatir, siapapun tidak bisa menyentuhku karena aku masih berstatus saksi, belum tersangka)


Yasmin menarik nafas lega.


(Syukurlah, yang kuat, ya.. ! Aku, mama, Rayyan dan yang lainnya selalu bersamamu)


(Terimakasih, berkat cinta kalian, aku akan baik-baik saja. Love you..)


Yasmin mendekap photo Satria yang terpajang di meja. Padahal sebelum pergi, Dia sudah berjanji mereka akan melewatkan malam bersama.. Tapi nasib berkata lain, kini dia harus sendirian di sel yang dingin. Mengingat semua itu, hatinya seperti teriris sembilu.


Baru saja mereka berkumpul kembali dan kini harus berjauhan lagi.


Pagi sekali Yasmin sudah terbangun. dia langsung membersihkan diri, Setelah membantu Rayyan berkemas dia langsung pergi menemui Satria.


Dengan bergegas dia masuk. Untung petugas jaganya sangat ramah. Ia di persilahkan untuk menunggu.


Tak berapa lama kemudian Satria muncul.


Dia langsung membuka tangannya saat


Melihat Yasmin.


"Bagaimana keadaan di rumah?"


"Baik, mama tidak tau aku kesini. beliau masih di dalam kamarnya."


"Rayyan?"


"Dia bertanya terus? Terpaksa aku bohong padanya..." jawab Yasmin.


Satria mengeratkan pelukannya.


Yasmin menggeleng menatapnya.


"Jangan berkata begitu, aku merasa sedih." jawab Yasmin hampir menangis.


"Aku janji akan segera keluar dari tempat ini. aku tidak bersalah, aku bukan pembunuh Kirana." Satria kembali meyakinkan nya.


"Aku percaya seratus persen padamu."


Jawab Yasmin sambil membelai wajah suaminya.


Ponsel Yasmin berbunyi. Sebuah Pasan masuk.


Satria membiarkan istrinya membaca pesan itu sejenak.


(Pagi sayang... Aku mendengar kabar yang kurang baik pagi ini. Suami mu tercinta tersandung kasus pembunuhan, kasihan, kau harus di tinggal lagi. Karena Om, yakin Satria akan mendekam cukup lama di penjara)


Jantung Yasmin hampir saja berhenti berdetak. Bisa-bisanya Bram mengiriminya pesan seperti itu.


"Siapa?" Satria melihat perubahan wajah Yasmin.


"Eeh, tidak penting. Seorang rekan kerja. Dia minta bertemu. mana mungkin aku meninggalkanmu."


Satria tau kalau Yasmin menyembunyikan sesuatu. Tapi dia tidak mau memaksa.


...Jam bertemu sudah usai. Satria dan Yasmin ...


Terpaksa harus berpisah.


"Jaga dirimu...!" bisik Satria lirih.

__ADS_1


Yasmin langsung tergesa pulang.


Ia merasa berang oleh pesan dari Bram.


Setelah mengunci kamarnya. Ia menelpon nomor Bram.


"apa maksud chat mu, tadi?"


Semprot Yasmin langsung tanpa basa-basi.


"Aku merasa terhormat, aku kirim pesan kau langsung menrlponku manis.. Ada yang salah dengan kalimat Om di pesan itu?" jawaban Bram begitu santai.


"Tentu saja.. Om itu masih keluarganya, kenapa sepertinya tidak ada sedikit saja simpati pada keponakanmu itu."


"Sayang.. Jangan marah-marah begitu. Kau, kan tau kalau hubungan kami tidak pernah harmonis."


"Pokoknya aku tidak mau tau, Om Bram jangan pernah lagi hubungi aku. Aku mohon, Om."


"Baiklah kalau itu maumu. Om Juga yakin kalau Satria sudah melarang mu berhubungan dengan Om."


Yasmin langsung memutuskan panggilan itu .


"Apa maksudnya coba, dia bilang Satria akan mendekam di penjara cukup lama." gumam Yasmin geram.


Pesan dari Bram masuk.


Dengan malas ia membukanya


(Om tidak akan menghubungi mu lagi, tapi jika suatu saat kau membutuhkan bantuan Om untuk masalah Satria, pintu Om Bram selalu terbuka untukmu) Yasmin mendengus kesal.


"Yasmin.." suara Bu Lidia dari luar kamarnya.


"Iya, Ma." Yasmin membuka pintu.


"Mama mau kemana sudah rapi banget?"


"Mama mau ketemu pengacara dari jakarta. Kita tidak bisa hanya menunggu saja."


"Yasmin perlu ikut, Ma?"


"Tidak usah, nanti Rayyan mencarimu."


"Baiklah, hati-hati, Ma. aku doakan semoga semua lancar."


Bu Lidia mengangguk dan mencium kening Yasmin.


Bu Lidia memanggil pengacara dari jakarta untuk menangani kasus Satria.


Mereka bertemu di sebuah tempat untuk membicarakan kasus Satria.


Kaus itu terus bergulir, tapi belum ada titik terangnya. Polisi mengalami kesulitan melacaknya karena cctv di TKP menghilang dengan misterius.


Sekalipun dengan dua pengacara, Satria masih terancam.


Berkasnya sudah di limpahkan kepengadilan.hal itu membuat Yasmin dan yang lainnya merasa putus asa. Di tengah ke putus asaannya dia teringat dengan Bram.


"Mungkin tidak salahnya aku coba minta bantuannya. Walaupun Satria mungkin akan marah padaku, aku harus berani mengambil resiko.." ucap Yasmin mantap.


(Om, bisa kita bertemu? Kalau bisa, temui aku sekarang di kafe 'lincha')


"Ting! Bram langsung membalas.


(Tentu bisa, dong sayang)

__ADS_1


Yasmin menunggu dengan gelisah. Ia sadar keputusannya ini bisa saja akan menciptakan jarak antara dirinya dan Satria, tapi tidak ada jalan lain lagi. Ia tidak mau melihat suaminya itu meringkuk di penjara dengan tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.


__ADS_2