SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 54


__ADS_3

Satria hanya bisa melihat Dio yang di perban seluruh tubuhnya. Yang terlihat hanya dua matanya saja.


"Kenapa keadaan Dio seperti itu? dia diperban seperti mengalami luka bakar saja." omel Satria.


"Aku juga tidak tau, kita ikuti prosedur dokter saja." jawab Kirana.


"Mama dimana?"


Kirana kebingungan saat Satria menanyakan Bu Lidia.


"Mama? Sudah jalan kesini." jawabnya sambil tersenyum.


Satria merasa heran, kenapa Mamanya tidak hadir di situ, padahal Dio adalah cucu kesayangannya. Bu Lidia lah yang paling panik kalau terjadi sesuatu pada Dio.


Satria masih memandang Kirana dengan ragu. Ia merasa ada tidak beres dengan kondisi Dio.


Diam-diam dia menghubungi Mamanya.


Kirana meliriknya.


Dia masih bisa bersikap tenang, Satria tidak mungkin bisa bicara dengan Mamanya karena hand phone Bu Lidia sudah di amankan oleh nya.


"Kenapa Mama tidak bisa di hubungi?" keluh Satria lagi.


"Tenanglah, mungkin sedang dalam perjalanan kesini." jawab Kirana.


Sementara itu, atas saran dari Kirana. Bu Lidia sedang menikmati perawatan di sebuah spa termahal.


"Kirana baik sekali, dia memberiku tiket perawatan cuma-cuma. Aah.. Rasanya ingin seharian disini." gumamnya senang.


"Kalau Mama ingin tenang disini tidak ada yang menganggu, matikan saja ponselnya. Nikmati semua pelayanan yang ada disini." ucap Kirana saat membujuk mertuanya.


"Owh, ya? Kenapa kamu tidak ikut sekalian?" tanya Bu Lidia.


"Aku, kan harus menjaga Dio. Kalau kita berdua di sini bagaimana dengannya? Pasti Satria marah pada kita berdua kalau sampai mengabaikan Dio. Sudahlah, Ma. Nikmati saja." bujuknya lagi. Padahal dia sedang menyusun sebuah Rencana agar Bu Lidia tidak bisa di hubungi oleh Satria.


Saat mendengar dari orang suruhannya kalau Rayyan belum meninggal. Ia menjadi cemas dan geram.


 Lalu dia merekayasa kecelakaan untuk Dio. Dengan maksud agar Satria tidak bisa menemani Yasmin disana. Kirana merasa tidak rela Satria berada di dekat Yasmin sedikitpun.


Dia tau, Satria sangat menyayangi Dio.


Dia tidak akan tega meninggalkan Dio demi Rayyan.


Ponsel Satria bergetar. Ia cepat mengangkatnya.


"Bagaimana keadaannya?" tanyanya tak sabar.


"Aku Adam, pak. Yasmin tidak sadarkan diri. Dokter minta donor darah segera , Rayyan kehilangan banyak darah, persediaan di rumah sakit ini sedang kosong."


Satria menggigit bibirnya.


Dia bergegas pergi.


Tangan Kirana menahannya.


"Jangan tinggalkan Dio, ku mohon! Dio membutuhkanmu." ucap Kirana berlinang air mata.


"Rayyan juga sedang berjuang di antara hidup dan mati."


"Kau boleh memilih antara Dio dan Rayyan. Sekali kau melangkah keluar dari sini, kau tidak akan bisa melihat Dio selamanya, aku bersumpah!" ucap Kirana mengancam.


"Kiran, tolong mengertilah aku, Rayyan putraku, Dio juga. Jangan kasi aku pilihan yang sulit. Aku mau keduanya selamat." jawab Satria memelas.


"Itu masalahmu, aku tidak akan melarang mu pergi kesana. Tapi aku sudah bilang konsekwensinya." Kirana masih keras.


Satria memandang Dio. Yang masih di penuhi alat dan perban.


"Maafkan papa, Dio. Papa pergi bukan karna tidak sayang padamu, tapi untuk menyelamatkan kakakmu...!"


Satria bergegas keluar dari tempat itu.


"Berhenti, Sat!" teriak Kirana putus asa.


Satria menahan langkahnya. Namun sedetik kemudian dia berlari ke parkiran , langsung ke bandara dan terbang ketempat Yasmin.

__ADS_1


Hanya butuh satu setengah jam. Dia sampai di rumah sakit itu.


"Ambil darah saya sebanyak-banyaknya, Dok. Rayyan harus selamat." ucapnya dengan nafas memburu bagaimana tidak? Dari bandara dia harus berlari karna terjebak macet, setengah perjalanan dia baru menemukan ojek.


"Bapak orang tuanya?"


"Saya ayahnya." jawab Satria tegas.


Tanpa sepengetahuan siapapun, Yasmin yang sudah terjaga karena mendengar suara riuh Satria.


"Berbaringlah, istirahat sejenak untuk menormalkan detak jantung anda."


Satria menurut


Seorang perawat langsung menyiapkan peralatan.


Sebenarnya kami mau mengambil darah Bu Yasmin, tapi dia masih pingsan." jelas perawat itu sambil menunjuk orang yang terbaring agak jauh dari ranjang Satria.


Satria melihat kearahnya.


Dia melihat Yasmin yang lemas dengan mata berlinang.


"Tenanglah, Rayyan akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan dia kenapa- napa, aku janji padamu." ucapnya dengan suara bergetar.


Yasmin tersenyum walau airmata masih membanjiri pipinya.


Ia bisa merasakan ketulusan di mata Satria.


Dia juga bisa melihat ketakutan di matanya, ketakutan akan kehilangan Rayyan putranya.


"Bagaimana aku bisa meragukan ketulusannya selama ini,?" gumam Yasmin pilu.


Satria memejamkan mata sambil berkomat Kamit. Ia tak henti melafalkan doa yang dia bisa untuk keselamatan Rayyan.


"Sudah, pak. bapak istirahat dulu, minum yang banyak ya!"


Yasmin menghampirinya.


Dia memandang pria yang sedang terbaring itu.


Satria cepat bangkit dan duduk di tepi ranjang.


"Rayyan adalah anak ku, dia kuat, dia tidak akan menyerah semudah itu, dia akan kembali pada kita, orang tua yang sangat menyayanginya." Satria menenangkan hati Yasmin.


Tak di sangka, tangis Yasmin meledak sambil memeluk Satria.


"Maafkan aku sudah meragukan mu selama ini. Aku... Aku sudah banyak menyusahkan mu, padahal kau sangat menyayangi Rayyan.." ucap Yasmin di sela isaknya.


"Terimakasih kau sudah percaya padaku." Satria memeluknya erat.


"Aku ingin menebus waktu lima tahun yang telah hilang di antara kita." ucap Satria terharu. Yasmin mendongak, ia melihat mata pria yang biasanya berwibawa itu sudah basah, Ia menatapnya tanpa berkedip.


Saat ini dia bisa melihat mata Satria seperti lima tahun yang lalu. Sangat teduh dan penuh cinta.


Satria mencium kening Yasmin.


Mereka tersenyum dengan air mata berurai. Senyum bahagia Karena setelah lima tahun perpisahan baru bisa saling mencurahkan perasaan masing-masing. Sedih, karena buah hati mereka sedang dalam bahaya.


"Ayo kita sholat dan memohon untuk keselamatan putra kita!" ajak Satria.


Yasmin mengangguk sambil menyeka air matanya.


Beberapa kali ponsel Satria bergetar. Namun ia mengabaikannya.


Dengan khusyuk mereka berdoa untuk keselamatan Rayyan.


Dokter keluar dari ruang operasi. Satria Yasmin dan Adam menyongsong nya.


"Bagaimana keadaan putra kami, Dok?"


"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. untunglah kalian cepat mendapatkan darah yang di butuhkan."


Yasmin dan Satria mengucap syukur.


"Terimakasih, kalau kau tidak cepat datang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Rayyan." ucap Yasmin.

__ADS_1


"Tidak ada hutang budi di antara ayah dan anak. Jadi, kau tidak perlu berterimakasih. Itu semua tanggung jawabku."


Satria memandang Yasmin dengan penuh cinta. Hatinya merasa damai saat melihat senyuman tulus Yasmin.


Ponselnya kembali berdering.


"Kirana?" tebak Yasmin.


Satria terdiam.


"Pergilah, Rayyan sudah tidak apa-apa. Dio membutuhkanmu disana.!" ucap Yasmin membuat Satria tak percaya.


Yasmin mengangguk meyakinkan pria itu.


"Terimakasih atas pengertianmu, sayang."


Satria kembali mendaratkan sebuah ciuman di kening Yasmin.


"Terus.. Terus saja jadikan aku obat nyamuk disini.." omel Adam.


Satria dan Yasmin tertawa menyadari ada Adam di antara mereka.


"Urus tuh, calon suami mu..!" canda Satria.


Yasmin mencubit pinggang Satria. hatinya benar-benar lega dan bahagia.


 Yasmin hanya tersenyum melihat pria yang di cintainya itu meringis.


"Ternyata kau masih ganas seperti dulu, ya?" ledek Satria lagi.


"Mau lagi?"


"Ngga deh, ampun!" jawab Satria lucu.


"Tapi bagaimanapun, aku berterimakasih padamu, Dam. Kau sudah menjaga istri dan anak ku selama ini." Satria merangkul Adam.


"Saya ikut bahagia, walaupun sebenarnya hati saya hancur, pak!" jawab Adam jenaka.


Dilla datang memakai kruk. Dia ikut bahagia melihat bersatunya Satria dan Yasmin.


Sekarang tinggal menunggu Rayyan sadar. Lengkaplah sudah kebahagiaan Yasmin sore itu.


Satria pulang ke jakarta dengan hati tenang.


Dia langsung menuju rumah sakit. Tapi ia terkejut karna Dio dan Kirana sudah tidak ada disana.


Dari keterangan dokter jaga. Dia tau kalau Kirana membawa Dio pulang dengan paksa.


"Kemana wanita itu membawa Dio?"


Satria menghubungi Mamanya


"Ma, Kirana sudah pulang, bagiamana. kondisi Dio?"


"Maksudmu apa? Dio kenapa?" jawab Bu Lidia bingung.


Satria segera pulang kerumahnya.


"Coba ceritakan yang jelas. Apa maksudmu di telpon tadi?"


Satria mulai bercerita dari awal sampai akhir apa yang terjadi pada Rayyan dan Dio.


"Lalu bagaimana keadaan cucu-cucu Mama?"


Ucapnya mulai menangis.


"Rayyan sudah melewati masa-masa kritis Ma. Kalau Dio aku belum tau kabarnya sampai sekarang."


"Dimana kamu Kirana? Mama tidak tau. Seharian Mama di spa. Itu juga atas rekomendasi dari Kirana"


"Terus Mama di suruh matikan ponsel, kan?" tebak Satria.


"Tentu saja biar aku tidak bisa menghubungi Mama dan bertanya tentang Dio. Aku jadi curiga, Jangan-jangan ini hanya rekayasa wanita itu."


"Maksudmu, Dio tidak apa-apa. Dia hanya sakit pura-pura, begitu, kan maksudmu?"

__ADS_1


Satria mengangguk.


Wajah Bu Lidia berubah tegang. Ia terlihat sangat marah.


__ADS_2