SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 39


__ADS_3

Yasmin membuka matanya perlahan.


Ia tidak mendapati Satria di dekatnya.


Ia bergegas bangun dan meraba rambut, dan memeriksa ponselnya. Semua terlihat biasa.


"Penyamaran ku masih aman..." ucapnya lega.


 Dari kejauhan, ia melihat Satria tengah berjalan mendekatinya sambil menenteng sebuah tas kresek.


"Makanlah..!" Satria menyodorkan bungkusan di tangannya.


"Bapak dapat darimana?" tanyanya curiga.


Dari pelayan sekitar sini." jawabnya singkat.


"Oh, ya? kenapa kau tiba-tiba pingsan?"


Yasmin meringis malu.


"Ada binatang kecil merayap di kakiku."


Satria hanya tersenyum.


Yasmin membuka bungkusan itu. Ia ragu, nasi bungkus itu cuma satu. Lalu apakah Satria sudah makan?


"Kenapa hanya di pandangi saja?"


"Bapak juga pasti belum makan. Bagaimana saya bisa makan sendiri. Bapak juga pasti lapar." tebak Yasmin.


"Aku laki-laki, masih bisa menahan lapar lebih lama." jawabnya acuh.


Yasmin belum juga mau menyuap makanannya .


"Saya tidak mau makan sendiri."


Satria memandangnya penuh arti.


"Kau makan saja, nanti sisakan buat ku!"


Mendengar itu, Yasmin tersenyum.


Dengan semangat ia hendak menyuap. Tapi telinganya menangkap sesuatu.


Satria salah tingkah dan memalingkan wajahnya, ia merasa malu karena perutnya berbunyi dan Yasmin mendengarnya.


"Kita makan bareng saja, pak!" ucapnya membuat Satria menoleh.


"Kalau bapak mau, kita bisa makan bareng. Nasinya kita bagi dua bagian sebelah sana untuk bapak, dan yang disini untuk saya.."


mata Yasmin mengerjap indah. Ingin rasanya Satria membuka kedok Yasmin saat itu juga. Tapi ia berusaha menahannya. selain takut kalau Yasmin akan menjauhkannya dari Rayyan, posisinya juga sangat bahaya kalau di ketahui Kirana.


"Ya, sudah.. Mungkin bapak merasa tidak selevel makan bareng wanita seperti saya.."


Ucap Yasmin kecewa.


Satria langsung duduk di dekatnya.


"Baiklah, karna kamu memaksa.. Aku akan makan." ucapnya sambil tersungut.


Dalam hati, Yasmin tertawa.


"Bilang saja, perut udah keroncongan.. pake acara bilang di paksa segala."


Saat mulai mengambil nasi,


hati mereka berdebar kencang, karena jemari mereka saling menyentuh.


"Bapak tau? Kadang makan pake tangan begini terasa lebih nikmat."


Satria tidak menjawab. Ia hanya memandangi Yasmin yang sedang berceloteh.


Tatapan mereka kembali bertemu. Yasmin merasa salah tingkah.


"Kenapa dia menatap ku seperti itu? apa kata-kata ku ada yang salah, ya barusan?." Yasmin semakin salah tingkah. Ia sampai tersedak.

__ADS_1


Satria menyodorkan air mineral.


"Terimakasih, pak."


"Apakah aku boleh tau sesuatu?" tanya Satria tiba-tiba.


Yasmin mengangguk.


"Dimana papanya Rayyan?"


Air mineral yang di pegangnya sampai terjatuh.


"Maksud bapak?" tanya Yasmin balik sambil menutupi debaran jantungnya.


"Papanya Rayyan..." ulang Satria.


Yasmin mengatur nafasnya.


"Papanya Rayyan.. Kami sudah berpisah sejak Rayyan masih dalam kandungan." ucap Yasmin emosional.


"Apa kau tidak ingin kembali padanya..?" selidik Satria. Ia ingin tau kenapa Yasmin harus menyembunyikan jati dirinya.


"Ah, tidak, pak! Mungkin dia sudah bahagia dengan keluarga barunya. Dan saya pun begitu. Hidup saya cukup bahagia bersama Rayyan dan Adam, calon suami saya."


Satria menghembuskan nafas kasar. Entah kenapa ia merasa tidak suka mendengar nama Adam.


"Apakah papanya Rayyan tau tentang Rayyan?"


Yasmin menoleh kaget.


"Kenapa pria ini bertanya sampai sedetil itu? Apakah sebenarnya dia sudah tau siapa aku?"


batin Yasmin.


"Sorry.. Tidak perlu di jawab!" kata Satria cepat. Ia menyadari pertanyaannya mungkin sudah membuat wanita di depannya itu tersinggung.


Yasmin memandang ke lautan lepas.


"Saya tidak ingin Rayyan tau tentang papanya, saya takut dia akan mengalami kekecewaan seperti yang saya alami."


"Hari sudah sore, pak. Apa kita akan bermalam disini?" tanya Yasmin.


"Orang suruhan Bara sudah dalam perjalanan kesini."


Yasmin menarik nafas lega.


Hari sudah gelap saat mereka sampai di kota.


Yasmin menolak di antar pulang oleh Satria.


"Saya turun di sini saja, Pak! Adam akan menjemput saya." Jelas saja Yasmin takut kalau Satria sampai tau tempat tinggalnya.


"Kalau begitu, Aku akan menunggu sampai pacarmu itu datang, baru aku pergi."


Terimakasih, pak! tapi tidak usah, saya berani sendiri, kok." ucapnya berbasa basi, namun beneran berharap Satria meninggalkannya.


Satria tidak perduli, ia duduk menunggu di dalam mobilnya.


Benar saja, Adam datang dengan sekuter bututnya.


"Kenapa lama datangnya?" Yasmin sengaja menggelayut mesra di bahu Adam.


"Ayang, tumben romantis?" sahut Adam senang. Ia belum menyadari isarat mata Yasmin.


"Kan, tiap hari kita romantis.." balas Yasmin sambil berbisik.


"Ada pak Satria..!"


Adam baru mengerti.


Satria menahan tawanya. Ia merasa geli oleh akting Yasmin.


"Pak, terima kasih. Kami duluan." teriak Yasmin sebelum ia naik di belakang Adam


Yasmin sengaja memeluk mesra pinggang Adam. Ia berharap Satria melihat semuanya.

__ADS_1


***


Di tempat lain, Bara sedang tercengang karna baru menyadari pemilik Yasdesign bernama Yasmin. Apakah ini suatu kebetulan atau ada hubungannya dengan... ? Ah mungkin ini hanya perasaanku saja." Bara menepis pikirannya sendiri.


Ia buru-buru menutup berkas di depannya saat Kirana tiba-tiba masuk.


"Sorry, aku tidak mengetuk pintu." ucap ya pada Bara.


Walau sebenarnya tidak suka oleh perbuatan Kirana, Bara tetap tersenyum.


Bagaimanapun Kirana saat ini masih istri dari sahabatnya, Satria.


"Ada yang bisa aku bantu?" Bara menawarkan diri


"Satria, kemana dia sampai jam segini? Dio sudah menunggunya."


Bara terdiam, ia tidak mungkin bilang kalau Satria sudah pergi bersama Yosi.


"Mungkin sebentar lagi dia pulang." Bara berusaha menenangkan emosi Kirana.


"Aku tidak tertarik mengetahui kegiatannya, tapi Dio mencarinya."


"Kau sudah menelponnya?"


"Sudah. Tapi dia matikan ponselnya." keluh Jelita.


Pada saat yang sama Satria muncul di pintu.


"Itu dia orangnya, panjang umur!" goda Bara.


"Ada apa,?" tanya Satria, wajahnya terlihat masam.


"Dio terus mencari mu, ke apa kau matikan ponsel?"


"Baterai habis!" jawab Satria sekenanya.


"Oh,ya Bar. Aku balik ke hotel, sebaiknya kau juga. Masih ada hari esok untuk bekerja."


Setelah berkata demikian, Satria melangkah keluar.


"Kau lihat? Begitu, tuh sikapnya padaku, gimana aku tidak naik darah di buatnya." ucap Kirana emosi.


"Kalau sudah begini aku lagi yang salah, tidak mendidik Dio, lah.." Kirana masih mengomel. Padah Satria susah tidak ada.


Lain dengan Kinara, lain lagi dengan Yasmin.


Ia langsung melempar tasnya di sofa ruang tamu.


Dilla menghampirinya.


"Kau terlihat kecapean."


"Capek bersandiwara terus, Dil. Aku bersama Satria." jawab Yasmin asal.


"Satria? Itu kode alam. Kau memang harus berusaha membuka diri, beri kesempatan padanya."


"Aku takut kecewa, aku juga tidak sanggup melihat kekecewaan Rayyan. Dia sudah punya keluarga. Lagipula Mama Lidia tidak merestui ku."


"Itu dulu. Waktu bisa saja merubah segalanya"


Yasmin merenungi ucapan Dilla.


Tiba-tiba mereka di kagetkan oleh suara kaca jendela yang pecah.


Rayyan yang kaget sampai berlari keruang tengah.


Yasmin dan Dilla saling pandang.


"Biar aku periksa." kata Yasmin.


Dilla dan Rayyan mengikuti dari belakang.


Yasmin mendapati batu yang di bungkus kertas.


"Ada seseorang yang sengaja melempar jendela kita." ucapnya jengah.

__ADS_1


__ADS_2