
Satria tidak bisa berbuat apa-apa atas keputusan Mamanya.
"Ma, Mama, kan baru mengenal Yasmin. Kenapa begitu percaya mengajaknya tinggal di rumah kita?" ujar Satria masih berusaha menggoyahkan keputusan Mamanya.
"Dia, kan teman kalian? Lagian Mama tau dia gadis baik, ceria dan menyenangkan. Mama juga sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya.'
"Bertemu dengan Yasmin?" ulang Satria tak percaya.
Nyonya Lidia mengangguk."Dimana Mama sudah bertemu Yasmin? Dan syukurlah.. Mama menyukainya. mudahan ini sebuah awal yang baik." ucap Satria dalam hati.
Di saat yang sama, Yasmin dan Kirana datang mendekati mereka.
"Aku sudah siap Tante." kata Yasmin tersenyum lebar.
Satria terlihat tidak suka.
"Dia terlihat sangat bahagia bisa pergi dari sini." batin Satria kesal.
"Oh Ya, Mama hampir saja lupa dengan tujuan Mama datang sore ini."
Wanita itu mengambil sesuatu dari dalam mobilnya.
Ia menggamit tangan Kirana memasuki rumah kembali.
"Ini rahasia.. Mama kasi tau di dalam." ujar Bu Lidia dengan senyum penuh misteri.
Satria dan Yasmin saling pandang tak mengerti.
"Apa yang mau mereka bicarakan?" gumam Satria bingung.
"Kalau ingin tau, ikut saja sana!" canda Yasmin.
"Yas, kayaknya kau senang mau tinggal di tempat Mama, kau senang karna berjauhan denganku? iya, kan?" tuduh Satria.
"Bukan, begitu. walaupun kita menolak juga tidak bisa, kan? Jadi.. aku manfaatkan saja momen ini untuk bisa mengambil hati Mama mertua." Jawab Yasmin cengengesan.
"Lalu aku? aku harus masih terus berpura-pura menjadi suami yang baik buat Kirana di depan Mama." keluh Satria manyun.
"Tapi aku mohon, berhati-hati lah pada Kirana," kata Yasmin serius.
Satria menyangkalnya, ia tidak percaya kalau Kirana berniat jahat.
"Kau belum mengenalnya dengan baik, selama tiga bulan ini, aku lah yang bersamanya. Jadi aku tau betul bagaimana karakternya. Dalam hal ini dia juga korban. Lalu untuk apa dia harus berbuat licik segala."
Satria masih membela Kirana.
Yasmin terdiam karna nyonya besar dan nyonya kecil terlihat keluar sambil bergandengan tangan.
Satria menatap Mamanya dan Kirana bergantian.
"Sudah siap? Ayo kita berangkat!" ucapnya pada Yasmin.
Kirana sengaja pura-pura merangkul Yasmin.
"Selamat menikmati kekalahan mu, kau akan merana disana tanpa Satria." bisik Kirana sambil berusaha tersenyum manis.
"Iya, terimakasih karena kau sudah memberiku jalan untuk dekat dengan Mama.
Dan aku titip Satria, suatu saat aku akan datang mengambilnya kembali." balas Yasmin tak kalah pedas.
Kirana melepaskan rangkulannya dengan wajah masam.
Sedangkan Yasmin tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak usah sedih begitu, kau bisa menjenguk ku di rumah Tante Lidia, atau sekali waktu aku yang menginap disini."
Ucapan Yasmin di sambut anggukan oleh Bu Lidia.
"Tante terharu sekali dengan persahabatan kalian.." Bu Lidia merangkul Kirana.
Mobil Bu Lidia sudah menghilang di tikungan jalan.
Satria masih berdiri di halaman memandanginya.
__ADS_1
"Mudahan Mama bisa betah pada gadis tomboy itu." ucap Kirana berlagak simpati.
Satria menoleh padanya.
"Mana pasti suka pada Yasmin, aku yakin itu." Jawab Satria.
"Oh ya? Apa yang di bilang Mama padamu?"
Tanya Satria lagi, ia baru ingat dengan keanehan Mamanya tadi.
"Itu, aku juga tidak enak mengatakannya..." jawab Kirana sambil menggaruk tengkuknya.
"Apa?" desak Satria.
"Mama memberi ku jamu, katanya itu di minum sebelum tidur." Kirana tampak ragu.
"Jamu? Untukmu? Memangnya kau sakit, kalau cuma ngasi jamu kenapa pake acara ngumpet segala." sungut Satria sambil berlalu kedalam.
"Itu jamu kesuburan!" ucap Kirana spontan, membuat Satria membalikkan badan.
"Itu jamu agar aku subur dan cepat memberinya cucu..." ucap Kirana ragu.
"Jamu kesuburan? cucu? Kadang-kadang Mama memang suka berlebihan." ujar Satria sambil mengerutkan keningnya.
"Maaf, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Mama, aku takut membuatnya kecewa. aku melihat harapan yang begitu besar di matanya." Imbuh Kirana.
"Tidak, kau tidak salah...! keadaan lah yang memaksa kita terjebak dalam sandiwara ini."
Satria melanjutkan langkahnya. Kirana tersenyum kecil.
"Lihat saja permainanku.. tidak akan aku biarkan kau kembali ke pelukan Yasmin begitu mudah, aku kau anggap apa?" omel Kirana sambil mengikuti langkah Satria masuk.
***
Sementara itu di tempat Bram, pria itu merasa gelisah karna mendapat laporan bahwa Yasmin sudah bersama Satria.
"Sial..! Kenapa bocah itu harus muncul lagi?Sudah bagus dia menghilang dari peredaran, dan tinggal sedikit lagi semua aset miliknya jatuh ke tangan ku, tapi dia muncul begitu saja."
"Dan parahnya, dia mengambil Yasmin dariku. Dia pasti sudah meracuni pikiran Yasmin agar membenciku."
Bram berteriak hebat.
Bram sangat kecewa karena Bu Lidia sebagai mantan iparnya sudah menolaknya, kini Yasmin juga lepas dari tangannya.
Dendamnya kepada Satria semakin kuat, ia berpendapat semua masalah berpangkal dari Satria.
"Awas kau Sat, akan ku rebut kembali sesuatu memang harus menjadi milikku.!" geram Bram sambil mengepalkan tinjunya.
"Kenapa sayang? Kau lagi patah hati, ya? Gadis ingusan itu pasti sudah lari meninggalkanmu, atau kalau tidak, dia pasti sudah kepincut cowok yang seusianya..."
ledek Chaterine sambil menghembuskan asap rokoknya di wajah Bram.
"Aku tidak pernah merasa di remehkan seperti ini sebelumnya..." ucapnya geram.
"Benar, kau seorang yang punya pengaruh besar. Lakukan sesuatu. Hancurkan mereka!"
Bisik Chaterine sambil tersenyum menggoda pria di depannya.
Bram mengibaskan tangannya, ia bangkit dan pergi meninggalkan wanita itu dengan wajah kesal.
"Bagus! Tanpa aku harus turun tangan, gadis itu sudah tersingkir dari mu. Itu yang aku harapkan." desisnya penuh kebencian.
Sementara itu, Yasmin menyeret kopernya memasuki istana Bu Lidia.
Silahkan kau pilih kamar mana yang kau sukai... Mau atas atau bawah, terserah!"
Ucap wanita tersenyum ramah.
"Terima kasih, Ma...!" ucap Yasmin.
Bu Lidia menoleh cepat karena panggilan Yasmin.
"Ups..! Maaf Tante, keceplosan. Maklum.. Dari kecil aku sudah ditinggal oleh orang tuaku, jadi saat melihat Tante aku merasa menemukan sosok Mama dalam diri Tante. Sungguh aku minta maaf." Yasmin menunduk merasa bersalah.
__ADS_1
"Kenapa harus minta maaf? Suaramu sangat merdu saat memanggilku Mama. selama ini hanya dua orang yang memanggilku dengan sebutan itu. Yaitu Satria dan Kirana. Kalau kau mau juga, Tante akan lebih senang." wanita itu tersenyum tulus.
"Mama...!" Yasmin memeluk mertuanya dan di sambut oleh Bu Lidia dengan suka cita.
"lihatlah, aku sudah maju selangkah lagi Saya..." ucap Yasmin dalam hati.
"Ma, aku boleh minta sesuatu?" ucap Yasmin saat mereka sedang bersantai malam itu.
"Tentu, kau mau minta apa?"
"Yasmin mau kerja di kafe itu saja, Ma. Di sana aku merasa tertantang mengembangkan potensiku. Kalau bekerja di kantor Mama, rasanya aku malu pada diriku sendiri. Aku pasti dapat posisi yang baik karena Mama sebagai pemilik perusahaan. Bukan karena kemampuanku."
"Tapi ini kalau Mama setuju..." imbuh Yasmin pelan.
"Kalau yang itu terserah padamu saja. Bekerjalah dengan hatimu, jangan karena Mama menyuruhmu kau mengorbankan perasaanmu. Pilih sesuatu yang membuatmu nyaman." Bu Lidia mengakhiri ucapannya.
Malam berikutnya, Yasmin kembali bekerja seperti biasa. Namun bedanya kali ini dengan dukungan suami dan mertuanya, hal itu membuatnya semakin bersemangat.
Ia merasa tak sabar menunjukkan pencapaiannya pada Kirana.
Malam itu, Yasmin kembali tampil memukau dan mendapat tepuk tangan meriah dari para pengunjung kafe.
Termasuk Bram juga hadir disitu. Ia merasa perlu berhati-hati, karna walaupun terlihat aman, bukan tidak mungkin Satria menempatkan anak buahnya untuk menjaga Yasmin.
Bram cepat menyelinap keruang dimana Yasmin duduk istirahat.
"Yasmin..!"
Yasmin kaget dan berdiri melihat kehadiran Bram.
"Om Bram? Ngapain disini?" sergah Yasmin mundur selangkah.
"Jangan takut begitu, Om sedih melihatmu seperti orang asing seperti itu."
"Om hanya ingin melihatmu, memastikan bahwa kau baik-baik saja."
"Terimakasih, aku baik, kok. Jadi Om tidak perlu lagi mengkhawatirkan aku." jawab Yasmin mulai bisa bersikap santai.
" Om dengar, sekarang kau bersama seorang pria yang bernama Satria. Betul?"
Yasmin menatapnya kaget.
"Iya, ku harap Om juga masih ingat aku pernah cerita bahwa aku punya seseorang di masa laluku, dia lah Satria."
Bram mengangguk.
"Jadi kau sudah menemukan pria di maa lalu mu itu?"
"Iya..!" jawab Yasmin mantap.
"Baiklah, Om tidak akan mengganggumu lagi. Tapi kalau kita sekedar berteman, masih boleh, kan?"
Yasmin mengangguk. Kalau Bram menawarkan persahabatan apa salahnya, Satria juga pasti tidak akan keberatan. Pikirnya.
Bram keluar dari tempat itu dengan senyum lebar.
Ia senang karna bisa mendapat kepercayaan gadis itu lagi walaupun cuma sekedar sahabat.
Di parkiran Bram berpapasan dengan Bu Lidia.
Mereka saling menatap kaget.
"Lidia?" sapa Bram gugup.
"Apa yang kau lakukan disini?" jawab Bu Lidia ketus.
"Kau masih saja galak seperti dulu, itu yang membuatku tidak bisa melupakanmu." goda Bram lagi.
Ia menatap mantan kakak iparnya dari atas sampai bawah. Masih tidak berubah dari lima tahun lalu saat ia mengutarakan cintanya.
Bu Lidia merasa risih di pandangi seperti itu, ia melenggang masuk meninggalkan Bram yang masih mengikuti dengan pandangan matanya.
💞Dukungannya say...
__ADS_1
.