SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 62


__ADS_3

Hari itu Bram menjenguk Satria di kantor polisi.


Dengan malas Satria menemuinya


Bram langsung menyambutnya dengan saat Satria keluar.


"Bagaimana keadaanmu, keponakanku..?" ucapnya dengan senyum lebarnya.


"Tidak usah berbasa basi, apa maksudmu menemui ku?" ucap Satria sinis.


'Sudah tersandung kasus yang cukup besar, pun kau masih sombong." ucap Bram menggeleng.


"Aku tidak punya waktu untuk meladeni mu." ucap Satria sambil bangkit hendak masuk kembali.


"Tunggu!" Satria menahan langkahnya.


"Kau mau dengar kisahku tentang seorang putri cantik?" Satria berbalik dan memegang kerah jaket Bram dengan kencang.


"Jangan coba-coba ganggu Yasmin...!" ucapnya geram.


Bram justru tersenyum.


"Kau sangat peka kalau menyangkut Yasmin. Tapi lepaskan jaketku.. jangan sampai hal ini


menambah berat kasus mu." bisik Bram tetap dengan senyum liciknya.


Satria melepaskan cengkeramannya dengan wajah kesal.


Sedangkan Bram mengibas jaketnya.


"Kau sudah di dalam sangkar, turunkan sedikit paruh mu."


"Dimanapun aku berada, aku akan tetap jadi bayangan hitam bagimu." ujar Satria tak mau kalah.


"Hanya satu peringatanku. Jangan sentuh keluargaku!"


"Ok, aku tidak akan menganggu keluargamu, tapi aku juga tidak akan menolak kalau dia sendiri yang datang padaku."


"Kau...?" Satria hampir saja mendaratkan bogem nya di wajah Bram. Tapi lagi-lagi pria paro baya itu tersenyum penuh misteri.


Membuat Satria was-was.


"Oh, ya.. aku bisa membantumu keluar dari masalah ini. Tapi ada syaratnya...."


"Aku tidak butuh bantuanmu. Kau dengar? Aku lebih baik membusuk di penjara daripada menerima bantuan dari pria licik seperti mu.!"


Jawab Satria ketus


"Baiklah, aku sebagai kerabat mu sudah menawarkan bantuan, tapi kalau kau tidak terima, terserah." Bram mengangkat tangannya.


Satria meninggalkan Bram sendiri.


"Dasar bocah keras kepala..! Lihat saja, aku akan membuatmu menangis darah." gumam Bram sambil melangkah pergi.


Satria merasa cemas oleh ancaman Bram.


"Bagaimana kalau dia memanfaatkan Yasmin? Ah tidak mungkin..!"


Satria memutuskan untuk bicara pada Yasmin.


Di saat Satria gelisah memikirkannya, Yasmin malah sedang duduk bersama Bram di sebuah kafe.


Bram memesan minumannya.


"Om merasa terhormat karna kau mengundang, Om ketempat ini."


Baru saja Yasmin hendak bicara, ponselnya berbunyi.

__ADS_1


Yasmin menatap Bram.


"Terima saja, silahkan!" ucap Bram ramah.


Yasmin permisi agak ketempat sepi.


'Iya, Sat.. Maaf aku telat mengangkatnya, aku sedang di toilet."


"Yas, aku hanya ingin mengingatkan. Jangan sekali-kali berhubungan dengan Bram. dia sangat licik."


Yasmin tertegun. Entah apa reaksinya kalau tau saat ini dia sedang bersama orang yang di bencinya itu.


'Sat.. tidak usah pikirkan itu, sekarang fokus saja bagaimana caranya agar kau bisa bebas."


"Aku tidak perduli, meskipun aku di di penjara sekalipun, yang penting kau harus jauhi dia...!"


Suaranya penuh emosi


"Iya, kau tenanglah. aku sedang berusaha mencari cara agar kau bisa bebas dari tuduhan itu.."


Satria menutup panggilannya.


"Bagaimana,?" tanya Bram setelah Yasmin kembali duduk di depannya.


"Begini, setelah aku pikirkan, ternyata aku butuh bantuan, Om. Aku ingin kau membebaskan Satria. Kami sudah putus asa."


"Kau tepat sudah datang pada Om Bram,


apa yang kau inginkan?"


"Aku mau Satria bebas dengan terhormat. Karena aku tau dia tidak melakukan pembunuhan itu."


Bram memandang Yasmin sambil tersenyum


"Kalau seandainya Om setuju, apa yang akan Om dapatkan?"


Yasmin terdiam.


Bram tertawa lebar.


"Yasmin... Yasmin. Om Bram sudah punya semua itu."


"Lalu?"


"Om Bram janji akan membebaskan Satria dari semua tuduhan dalam satu jam. Hanya satu jam saja..." Bram menyeringai.


"Tapi syaratnya, kau harus bersama Om Bram." Yasmin tercengang.


'Tapi.. Tapi itu tidak mungkin, Om."


"Om, tidak akan memaksamu. Terserah kau saja."


Yasmin menggigit bibirnya.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini, manis..


Dengan jasa sebesar itu, Om kira wajar lah dengan syarat yang di ajukan."


Yasmin masih terdiam.


"Aku memang sangat butuh bantuannya, tapi untuk bersamanya? tidak mungkin lah. Sebaiknya aku pulang saja. Percuma bicara dengan orang tua ini." pikir Yasmin.


"Kalau begitu aku pulang dulu, Om. sangat jelas kalau aku tidak bisa memenuhi syarat yang kau ajukan."


"Naiklah, Om tidak memaksamu, tapi yakin kalau kau akan kembali lagi." teriak Bram. Namun Yasmin tidak menoleh lagi.


Sepulangnya dari sana, dia langsung menemui Satria.

__ADS_1


"Aku Bu Gung, semua jalan sudah buntu." keluh Yasmin.


"Kau jangan putus asa. Allah tidak akan membiarkan hambanya yang mau berusaha. Aku yakin itu." Satria merangkulnya erat.


Lusa sidang pertamamu. Kalau kita tidak mendapatkan bukti yang cukup, lalu...." Yasmin tidak bisa meneruskan ucapannya. Suaranya terhenti di kerongkongan.


"Jangan pesimis begitu, kau adalah Mamanya Rayyan, dan Isti dari Satria." Satria menggeleng padanya.


Yasmin membenamkan wajahnya di dada suaminya.


"Sudah waktunya Rayyan pulang. Mana baju kotor mu?"


Yasmin membawa pakaian kotor suaminya pulang.


"Yasmin.. " Yasmin menoleh menatap suaminya.


"Yang tegar, aku ingin melihatmu tersenyum."


Yasmin tersenyum walau di paksakan.


"Satu lagi, jangan pernah Deket sama Bram lagi. Kalau itu sampai terjadi, aku tidak bisa mentolerir nya."


Yasmin menahan nafas. Ancaman Satria tidak main-main.


 Tak urung hatinya ketar ketir juga.


Kedua pengacara, Bara dan Bu Lidia sedan berkumpul dirumah.


Saat Yasmin datang, mereka mengajaknya bergabung.


Wajah Bu Lidia terlihat tegang.


"Ada apa sebenarnya?" Yasmin semakin cemas.


"Apakah ini menyangkut Satria?"


"Ada petunjuk. Kemari orangku mengajak Edgar minum-minum. Dan terungkap bahwa dia terlibat dalam pembunuhan itu. yang lebih mengejutkan, Om Bram yang ada di balik semua ini." Yasmin lemas.di tempatnya.


"Jadi aku sudah pergi memandang macam? Jadi Om Bram yang ada di balik semua ini?"


Ucapnya dalam hati.


Yasmin tidak mungkin mengatakan bahwa dia sudah bertemu Bram.


"Masalahnya, bagaimana kita akan mendapatkan bukti berupa rekaman kejadian yang ada di tangan Bram?" ucap Bara putus asa.


"Aku mengutuk manusia biadab itu, apa yang ada di pikirannya? Kenapa dia sangat membenci Satrio. Padahal mereka masih ada hubungan darah." sesal Bu Lidia.


Memang sangat tidak mungkin mendapatkan bukti itu dari tangan Bram. Tapi Satria tidak bisa menunggu lagi. Waktu tinggal dua hari lagi.


"Bagaimana kalau aku yang mendekati Om Bram?" ucap Yasmin hati-hati.


"Tidak! kau tidak boleh dekat-dekat dengan bajingan itu." Bu Lidia menentangnya tegas.


"Tapi nasib Satria di pertaruhkan, Ma!"


"Kau benar, tapi bukan berarti juga kau harus menyerahkan hidup mu padanya. Lagi pula Mama yakin Satrio tidak akan setuju."


Mereka kembali terdiam.


Semua jalan sudah di coba, tapi tidak ada yang berhasil.


Yasmin bertekad akan mendekati Bram untuk minta kebebasan Satria.


"Restui aku, Ma. Tidak ada jalan lain." Yasmin bersimpuh di kaki Bu Lidia.


"Tapi kau tau apa akibatnya?"

__ADS_1


Yasmin mengangguk.


"Satria tidak akan setuju. Tapi Mama tau apa yang sebenarnya."


__ADS_2