
Satria begitu marah memikirkan kalau Yasmin jatuh ke pelukan Om nya sendiri.
"Kenapa aku merasa tidak rela kalau Yasmin bersama Om Bram? Ah, ini pasti karna janjiku pada almarhum ayahnya saja." Satria menepis perasaanya sendiri.
Kiran yang memperhatikan sikap aneh Satria menjadi bertanya-tanya.
"Ada masalah yang aku tidak boleh, tau? Aku lihat kau sangat gelisah."
Kirana memberanikan diri bertanya.
"Tidak ada apa-apa, Kiran. Aku hanya kecapean." jawab Satria beralasan.
Satria bangkit meninggalkan meja makan.
Ia tak sadar dompetnya terjatuh.
Tanpa sepengetahuan Satria, Kirana memungutnya.
Ia melihat Poto Yasmin masih terpampang di sana.
"Kau memang tidak pernah bisa melupakan Yasmin.." gumamnya perlahan.
Keesokan harinya,
Kirana sengaja menghampiri Satria di kamarnya.
"Sat, kita liburan yuk, setiap hari kita hanya di sibuk kan oleh pekerjaan dan pekerjaan, bagaimana?" tawar Kiran dengan penuh semangat.
Satria memandangnya dengan rasa bersalah.
"Maaf, Kiran, aku ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan." jawab Satria.
Kirana terlihat kecewa.
"Pekerjaan tentang Yasmin, ya?" tebak Kirana, membuat Satria menoleh padanya.
"Maafkan aku karna sudah menyeret mu dalam masalah ini, aku belum bisa memberimu sesuatu yang seharusnya kau dapatkan. Tapi percayalah, semua itu tidak ada hubungannya dengan Yasmin. Kenapa juga aku harus memikirkannya, dia saja sudah senang dengan pria lain." ketus Satria.
"Pria lain?" tatapan Kiran menelisik wajah Satria
Satria merasa bingung karena sudah kelepasan bicara, Kirana pasti curiga kalau dirinya sudah mencari informasi tentang Yasmin.
"Maksud ku, dia tidak pernah perduli padaku sebagai suaminya, itu aku anggap dia sudah menemukan pria lain, begitu."
Walaupun Kirana tau apa yang di ucapkan Satria itu bohong semua, Namun iya berusaha tersenyum lega.
"Syukurlah.. Aku sudah sempat ketakutan akan kehilangan diri mu." ucap Kirana pelan.
Satria tersenyum kecut.
Ia terpaksa membohongi Kirana dan hatinya sendiri, bahwa dia tidak membutuhkan Yasmin.
Satria merasa bersalah karna sudah melibatkan Kirana dalam masalah hatinya.
__ADS_1
Ia bingung, bagaimana cara melepaskan diri dari Kiran, Niat hati ingin membuat Yasmin sakit hati dengan bersikap manis pada Kirana, membuat gadis itu berharap banyak padanya, padahal Satria tidak merasakan apa-apa pada Kirana.
Satria menyudahi sarapannya.
"Terima kasih, sarapannya enak.." puji Satria.
Hal itu membuat hati Kirana berbunga-bunga.
Setiap hal-hal kecil yang di lakukan Satria selalu membuat Kirana bahagia.
"Sama-sama ..." jawabnya tersenyum, wajah Kirana tidak lagi murung seperti tadi.
"Hari ini aku tidak ke bengkel, aku ada urusan di luar sedikit. Urusan bengkel sudah aku serahkan pada anak buahku." kata Satria beralasan.
Padahal rencananya, dia akan akan mengunjungi seseorang yang selama ini paling menderita karna kehilangan dirinya.
Hari itu, Satria pergi ke kantornya, Ia berpapasan dengan beberapa karyawan dan staf yang mengangguk hormat padanya dengan tatapan heran dan terkejut.
Satria langsung menuju ke ruangan yang dulu menjadi ruangannya.
Saat membuka pintu, ia tertegun menatap sesosok tubuh yang selama ini di rindukannya.
"Selamat pagi Ma." sapanya pada seorang wanita paro baya yang terlihat berwibawa dengan setelan baju kantornya.
Mata wanita itu terbelalak menatap ke arah Satria.
"Satrio..? Benarkah ini kau? Apakah Mama tidak mimpi?" wanita itu mencubit lengannya sendiri untuk meyakinkan.
"Aku Satrio, aku sudah datang..!" Satria membuka tangannya lebar.
"Maaf, karna aku sudah menghilang begitu lama, pasti Mama sangat sedih dengan keputusanku itu." kata Satria ikut merasa sedih.
"Mama tidak akan mempertanyakan alasanmu, asal kau berjanji tidak akan meninggalkan Mama sendiri lagi. Setelah kepergian mu, Mama menyadari semua ucapanmu ternyata benar. Edward bukan pria yang baik, dia mendekati Mama hanya karna menginginkan harta kita. Mama minta maaf karna terlambat menyadarinya..." wanita itu kembali memeluk putranya.
"Syukurlah Mama sudah sadar. Aku tidak takut kehilangan harta, asal Mama bahagia.." bisik Satria lagi.
Keputusannya untuk kembali selain karna Yasmin, ia juga tau bahwa Edward, pria yang mendekati mamanya sudah hengkang dari kehidupan mamanya. Walaupun menyepi dan menyamar menjadi Satria si pemilik bengkel, ia tidak pernah membiarkan mamanya tanpa pengawasannya. Karna itulah, dia selalu tau perkembangan yang terjadi.
"Karna kau sudah kembali, Mama mau pensiun dari sini." ucapnya semangat.
Satria memandang wanita yang sudah melahirkannya itu dengan seksama, masih terlihat cantik walau garis garis samar sudah mulai muncul menghiasi wajahnya.
"Lalu bagaimana kabar Om Bram?"
Satria bertanya seolah tidak tau yang terjadi. Ia ingin mendengar tanggapan mamana tentang adik iparnya itu.
Mamanya menarik nafas panjang.
"Mama malas berurusan dengan Bram, walaupun dia banyak berbuat curang pada perusahaan kita, Mama tidak pernah mengindahkannya."
Satria tau, Semenjak kematian papanya,
Bram berusaha mendekati mamanya.
__ADS_1
Namun mamanya selalu menolak dengan berbagai alasan. Hal itulah yang membuat Bram sakit hati dan mengibarkan bendera perang pada ipar dan keponakannya.
Satria mulai memanggil orang-orangnya termasuk Bara.
Mereka mengadakan rapat tersembunyi.
"Mulai sekarang, kita akan mengadakan perombakan di beberapa club. Memeng tidak bisa secara langsung. tapi aku ingin club dan tempat hiburan kita bersih dari hal-hal berbau haram."
Bara dan teman-temannya merasa bingung.
"Tapi Sat, tempat hiburan dan semacamnya memang identik dengan barang-barang itu, kebanyakan mereka datang Karna untuk itu." Bara menyela.
"Tepat sekali..! itu maksudku, aku ingin usaha kita ini bersih. Tapi tentunya tidak bisa semudah itu. Seperti yang aku katakan barusan, kita akan melakukan secara berkala."
Bara mulai bingung dengan strategi bisnis sang Bos. Namun ia tidak berani membantah.
Mulai besok kita akan merebut kembali beberapa tempat yang di ambil Om Bram!" perintah Satria tegas.
Rapat tersembunyi itupun bubar.
Satria hendak kembali ke tempatnya saat mamanya menahan tangannya.
"Jangan pergi lagi, kau punya rumah, kenapa kau mau meninggalkannya? Mama kesepian sendirian dirumah yang sebesar itu."
Mamanya memohon.
Aku janji, akan segera pulang. Tapi sekarang belum bisa, karna ada urusan penting."
Mamanya melepas Satria dengan berat hati.
"Oh, ya.. Sherly masih setia menunggumu..!" teriak mamanya.
Satria tidak perduli.
Sherly adalah wanita yang dekat dengannya sebelum ia mengasingkan diri. Entahlah bagaimana kabar gadis itu setelah kepergiannya, tapi yang jelas, Satria tidak pernah merasa kehilangan semenjak mereka berpisah.
Satria merubah penampilannya saat pulang ke tempat Kiran, ia tidak mau Kirana tau siapa dirinya yang sebenarnya.
Ia sengaja membuat rambutnya agak berantakan.
"Sudah pulang?" wajah cantik Kirana menyembul dari balik pintu kamarnya.
"Ia, kau belum tidur?" sapa balik Satria.
Kiran menggeleng.
"Aku menunggumu, mau aku hangatkan makanannya?"
"Owh aku sudah makan, kau sendiri?"
"Aku sengaja menunggumu untuk makan malam. Tapi kalau kau sudah makan tidak apa-apa.." ucap Kiran kecewa.
Satria tidak tega melihat gadis itu bersedih.
__ADS_1
"Ya sudah, aku temani makan." ucapan Satria membuat Kirana berlari kebelakang untuk menghangatkan makanan.
Tabah favorit dong 🙏🙏