
Yasmin memungut batu yang di bungkus kertas yang bertuliskan
"KALAU MASIH INGIN MELIHAT ANAKMU, JAUHI SATRIA !!!"
Yasmin melipat kertas itu dengan tangan gemetar.
Ia meraih Rayyan dalam pelukannya.
"Benar, kan Dil.. Rayyan dalam bahaya. aku yakin ini perbuatan Kirana." ucapnya was-was.
"Tenanglah, itu, kan baru perkiraanmu saja. Lagian darimana dia tau rumah kita." Dilla menghiburnya.
"Kau tidak kenal siapa Kirana, dia wanita yang culas. Dia bisa berbuat apa saja dengan uangnya."
"Apa perlu aku telpon kan Adam untuk menemani kita malam ini? kalau ada dia paling nggak di rumah ini ada pria nya."
Yasmin mengangguk.
Ia menyingkap sedikit tirai jendela. Beberapa orang pria bertampang sangar terlihat sedang mengawasi rumah mereka.
"Mereka masih berada di luar, Dil. Bagaimana ini?" Yasmin menggigit bibirnya.
Ia menyuruh Rayyan masuk ke kamarnya.
Dilla ikut khawatir juga. bagaimanapun mereka cuma dua orang wanita yang tidak berdaya.
"Mudahan Adam cepat datang." doa Yasmin dalam hati.
Saat Adam datang mendekati rumah itu, Beberapa preman itu dengan cepat berlalu.
"Syukurlah.. mereka sudah pergi. Tapi bagaimana besok mereka balik lagi.?"
"Lapor polisi saja!" saran Adam.
"Jangan! Aku takut dengan kita lapor polisi, mereka akan bertindak lebih jauh. aku tidak mau Rayyan dalam bahaya." sentak Yasmin.
"Ya, sudah... ayang Yasmin tidak usah khawatir lagi. Kan ada aku disini." ucap Adam menghibur.
"Ueeek!!! Ledek Dilla.
"Jangan meledek, bisa-bisa kau yang bucin abis ke aku." gurau Adam.
"Sudah, sudah! Orang lagi panik, kok." ucap Yasmin sengit.
Dilla dan Adam langsung terdiam.
"Ups... Sorry. Aku terlalu gelisah, khawatir dan semacamnya. Itu membuatku bingung."
"Tidak apa-apa, Yas. Kami ngerti. justru kami sedang berusaha membuat kau rileks dan tidak tertekan. Makanya kami bercanda, ternyata nggak lucu, ya?"
Dilla merangkul bahu Yasmin.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Sepertinya aku harus membatalkan kerjasama badan semua hal yang berhubungan dengan Satria. Aku tidak mau Rayyan menjadi tumbal dari keegoisan ku." ucapnya penuh penekanan.
"Pikirkan baik-baik. sebelum kau mengambil keputusan."
"Iya, aku setuju dengan ayang Yasmin.
Sebaiknya kau menghindar dari pria yang bernama Satria itu."
"Kau bisa bilang begitu pasti karna merasa cemburu. Iya, kan?"
"Bukan begitu, Dil. Aku hanya tidak mau Rayyan dalam bahaya. Dan memang sih, aku tidak suka melihat bos tampan itu dekat dengan ayang Yasmin"
__ADS_1
"Yach, tekatku sudah bulat. Aku akan membatalkan kerjasama itu."
"Tapi kayaknya tidak bisa segampang itu deh, Yas. Mereka jelas tidak terima karena pemutusan secara sepihak."
'"Kau benar, lalu bagaimana caranya agar Rayyan jauh dari orang-orang berbahaya itu?" Yasmin menutup wajahnya.
"Sekarang kita istirahat dulu, besok kita pikirkan lagi." ucap Dilla menengahi.
Yasmin setuju. ia bangkit dan masuk kekamarnya.
Adam mengikutinya.
"Eeeh... Mau kemana?"
Dilla menarik kerah bajunya.
"Mau menghibur ayang, kan itu gunanya aku di panggil kesini." jawabnya jenaka.
"Kau di panggil untuk berjaga semalaman. Jadi... Selamat begadang, ya!" ucap Dilla sembari meninggalkannya.
Yasmin hanya menggeleng melihat ke kocakan dua orang sahabatnya itu.
"Akhirnya aku tidur di sini lagi.." ucapnya sambil menepuk sofa yang di duduknya.
Yasmin datang membawakan selimut dan bantal.
"Kalau mau, kau bisa tidur di kamar Rayyan." tawar Yasmin.
"Ah, di sini saja, Yang. Biar lebih deket kalau sewaktu-waktu Ayang membutuhkan bantuan " ujarnya cengengesan.
Yasmin meninggalkan Adam sambil tersenyum.
Sementara itu, Satria dan Bara sedang membahas sesuatu.
"Bagaimana? Sudah ada kabar dari orang-orang kita?"
Satria tidak sabar ingin mengetahui informasi tentang Yasmin. Tentang pemilik 'Yasdesign' juga.
"Nah ini ini dia yang kita tunggu, Bos!"
Bara mendekatkan layar laptopnya.
"Tepat dugaanku. Yosi adalah Yasmin. Dan Yasmin adalah pemilik 'Yasdesigne'
Dan aku sangat yakin kalau Rayyan adalah putraku.
tapi kenapa dia harus menghindar dariku, dan harus menutupi identitasnya?" keluh Satria.
"Tenanglah.. jangan terburu menghakimi. Kita tidak tau alasan yang sebenarnya." Bara menepuk bahunya.
"Sat, apakah Kirana sudah tau tentang hal ini?" bisik Bara lagi.
"Jangan sampai dia tahu dulu. Aku takut Yasmin dan Rayyan menjadi korban kegilaan wanita itu."
Satria menatap Bara yang seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.
"Ada apa?"
"Kemarin saat kau baru datang, dia terlihat sangat curiga dan mencari tau tentang kalian.." ucap Bara dengan ragu.
Satria mendongak seketika.
"Dia curiga?" Ia menggeleng keras.
"Jangan sampai Kirana berbuat nekat pada Yasmin dan keluarganya."
__ADS_1
"Rayyan!!" pekik Satria. Ia langsung bangkit dan bersiap pergi.
"Kau mau kemana?" tanya Bara khawatir.
"Aku harus memastikan mereka aman."
"Tapi apa ini perlu? Kau bisa menyuruh anak buah kita melakukannya."
Satria tidak perduli.
"Kau belum tau rasanya di tinggal orang yang kita sayangi. Di saat mereka kembali dan berada di depan mata, aku tidak akan membiarkan mereka kenapa-kenapa!" tegas Satria.
"Tapi apa tanggapan Yasmin saat tiba-tiba kau muncul disana? Bisa-bisa justru dia yang akan menjauhkan Rayyan darimu nantinya. Jelas dia takut kau akan mengambil anak itu darinya."
Satria tertegun. Yang di katakan Bara ada benarnya.
"Menurutmu aku harus bagaimana?"
"Kalau saranku, jangan temui dia langsung malam-malam begini, yang ada mereka tambah ketakutan.
Kau boleh lindungi mereka tapi jangan terang-terangan. Lagian aku pikir, Kirana tidak akan tinggal diam kalau melihat perhatianmu pada Yasmin."
"Coba kirim pesan padanya agar ke kantor besok pagi!" perintah Satria.
Bara setuju.
Ia mulai mengetik sesuatu.
"Sudah, lalu kalau dia datang besok, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku belum tau, yang jelas aku hanya ingin tau kabarnya saja." Bara tersenyum melihatnya.
Ia ikut bahagia saat melihat kebahagiaan dan semangat dalam diri Satria.
Satria langsung menyambar ponsel Bara Saat ada balasan pesan dari Yasmin.
(Baik, pak. ada hal penting juga yang ingin saya bicarakan)
Bara mengangkat bahu saat Satria memandangnya minta penjelasan.
***
Sementara itu, Kirana sedang meradang setelah mengetahui siapa sebenarnya Yasmin yang menyamar sebagai Yosi dan berpenampilan culun.
"Satria pasti sudah tau tentang hal ini, dan dia sengaja menyembunyikannya dariku.
awas kalian! " ia mengepalkan tangannya dengan geram.
Dan anak itu? Mungkinkah dia anaknya Satria? Aku yakin dia anaknya, melihat mereka begitu dekat saat itu."
Kirana semakin geram saat mengingat kedekatan Tautan dengan Satria.
"Tidak! Posisi Dio tidak boleh di ambil siapa pun. Hanya Dio satu-satunya anak Satria."
Kirana memikirkan cara untuk menjauhkan Yasmin dan Rayyan dari Satria.
Langkah pertamanya adalah memberi peringatan seperti yang sudah ia lakukan.
"Ini baru langkah pertamaku, lihat saja apa yang bisa aku lakukan kalau mereka tidak mengindahkan peringatan ku."
Kirana duduk menyesali dirinya, ia juga tidak mengerti kenapa harus terjebak dalam keadaan itu. Mencintai pria yang sama sekali tidak mencintainya. Bahkan ia merasa marah pada dirinya sendiri, kenapa harus mengejar cinta Satria sampai ia harus menghinakan dirinya sendiri. Padahal apa yang tidak dia punya?
Harta, kuasa? Ia tidak kurang suatu apa pun. Kecuali satu, yaitu kasih sayang. Dari kecil Kirana di tinggalkan orang tuanya meninggal. Ia terpaksa hidup dengan paman dari ibunya.
Walaupun bergelimang kemewahan, tapi hidupnya selalu kesepian.
__ADS_1
Mungkin itu yang menyebabkan sifatnya keras, apapun yang di inginkannya harus ia dapatkan.
.