
Bram sangat berambisi memiliki Yasmin.
Di matanya, Yasmin gadis berbeda dari sekian banyak wanita yang pernah di temuinya.
"Kenapa Om sangat yakin kalau aku mau menjadi partner hidup Om Bram?" tanya Yasmin sinis.
"Siapa yang bisa menolak pesona seorang Bramantyo... ? Om sangat yakin kau juga begitu. Mungkin sekarang memang belum, tapi itu hanya perkara waktu saja." ucap Bram percaya diri.
"Jangan percaya diri dulu, aku bersedia berada di sini bukan karna menyukai, mu.
Tapi karna aku ingin menghibur hatiku yang sedang terluka." kata Yasmin ketus.
"Terserah apapun alasanmu. Yang jelas Om percaya kau akan segera mengakui bahwa keberadaan mu disini memang karna kau yang mau."
Benar saja, Seiring waktu, Yasmin mulai terlena oleh perlakuan pria dewasa itu.
Walau belum sampai pada tahap suka, tapi Yasmin mulai merasa nyaman.
Walaupun belum bisa seutuhnya melupakan Satria, namun kehadiran Bram mampu mengalihkan pikirannya tentang Satria sementara waktu.
Sore itu, Yasmin sedang berenang di kolam yang besar dan mewah di kediaman Bram.
Bram datang diam-diam dan menyuruh pergi beberapa asisten wanita yang sedang menemani Yasmin di pinggir kolam.
Hanya dengan kedipan mata, tempat itu sudah kosong.
Bram duduk menikmati pemandangan di depannya di temani secangkir kopi.
Ia sangat kagum oleh bentuk tubuh Yasmin.
Yasmin sendiri tidak menyadarinya.
Seorang anak buah Bram datang untuk mengantarkan minuman yang di pesan Yasmin sebelumnya.
"Letak kan disitu!" perintah Bram.
"Baik, tuan..."
Tak sengaja mata pria itu kearah Yasmin yang sedang berenang.
Dengan gusar Bram memelintir tangannya.
"Ampun, tuan..,!" rintihnya kesakitan.
"Lain kali jaga mata mu, kalau tidak ingin merasakan yang lebih parah dari ini! Kau paham?"
Pria itu mengangguk sambil merintih kesakitan.
Yasmin yang menyadari kegaduhan itu, langsung naik dan memakai handuk kimono nya.
"Om, Bram.. kau disini? dan kenapa dengan orang tadi?" tanyanya penasaran.
"Tidak apa-apa.. " jawab Bram berbohong.
Namun Yasmin tak percaya begitu saja."Tapi kenapa kau menyakitinya?"
"Karna dia sudah lancang menatapmu saat berenang tadi!" jawab Bram lantang.
Yasmin terkesan.
Begitu besar perhatian Bram padanya, sampai ia harus menyakiti anak buahnya hanya gara-gara melihatnya saat berenang. Hal itu membuat Yasmin sedikit tersanjung.
__ADS_1
Di tepat lain, Satria sedang menerima info dari teman lamanya.
"Sat, Om Bram melanggar kesepakatan yang kita buat."
"Maksud, mu?" Satria masih santai menanggapinya .
"Hanya kau saja yang dia segani, sejak kau mengundurkan diri, dia semakin sewenang-wenang."
"Aku mau meninggalkan dunia kelam itu seutuhnya, aku sudah tenang dengan hidupku yang sekarang ini." jawab Satria.
Bara, teman Satri sekaligus mantan anak buahnya, memperlihatkan rekaman Bram yang sedang duduk santai di sebuah tempat.
Mulanya Satria cuek.
Namun saat matanya menangkap sosok Yasmin, ia tertarik.
"Tunggu..! " Satria mengamati ya dengan seksama..
"Benar, ini Yasmin .." gumamnya pelan.
"Kau mengenalnya?" tanya Bara ikut kaget.
"Bukan hanya kenal. Tapi dia istriku..!"
"istri?" Bara semakin bingung.
"Panjang ceritanya!"
"Yang aku dengar, Om Bram sangat menyayangi cewek itu lebih dari wanita manapun."
Cerita Bara semakin membuat darah Satria mendidih.
Ia tak habis pikir, kenapa Yasmin bisa bertemu Bram ketua mafia saingannya yang notabene masih Om nya sendiri.
Walaupun sama-sama berkecimpung di dunia hitam, Satria pantang berbuat curang. Lain halnya dengan Omnya itu, selain licik dan curang, dia juga kejam pada siapa pun. Nyawa orang seperti nyamuk di tangannya
Perbedaan itulah yang membuat jarak diantara Om dan keponakan itu menjadi renggang.
Pertikaian demi pertikaian semakin sering terjadi, karna Bram yang curang sering mengingkari kesepakatan di antara mereka.
Sejak Satria memutuskan meninggalkan dunia hitam itu, Anak buahnya merasa kecewa atas keputusannya, termasuk Bara.
Bara sering membujuknya agar Satria balik menjadi pemimpin mereka.
Namun Satria selalu menolak, sampai saat melihat Yasmin bersama Om nya, Bara melihat sorot mata mengerikan seorang Satrio Dewanto sang ketua mafia kembali lagi.
Bara merasa senang, ia merasa Yasmin adalah jembatan untuk menariknya kembali menjadi Satrio Dewanto, bukan sebagai Satria si montir tampan pemilik sebuah bengkel.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" pancing Bara.
"Yang jelas aku tidak akan membiarkan Yasmin jatuh ke tangan Om Bram." jawab Satria sambil mengepalkan tangannya.
"Tunggu aku di tempat biasa nanti malam!" ucap Satria penuh wibawa.
Bara mengangguk senang.
Ia yakin, Bram akan kelabakan kalau Satria sudah turun tangan.
Malam itu Satria terlihat berbeda, Dengan kaca mata hitamnya ia pergi ke club di mana biasanya Bram nongkrong.
Tidak ada yang mengenali Satria di tempat itu.
__ADS_1
Disana dia melihat Bram dan Yasmin sedang duduk bersama di sebuah meja. Mereka terlihat sangat menikmati suasana.
Satria perlahan mendekati meja mereka.
Beberapa orang anak buah Bram mencoba menghalanginya, Satria membuka kacamatanya dan membuat mereka mundur teratur.
Seorang anak buahnya mendekati Bram dan membisik kan sesuatu di telinganya.
Bram tampak terkejut.
Bram menyuruh beberapa orang mengajak Yasmin menyingkir dari meja itu.
Yasmin sempat meronta namun menurut juga.
"Satrio..?" sapa Bram kaget saat mereka sudah duduk berhadapan.
Satria membuka kaca matanya.
"Om pasti kaget melihat ku disini?" jawabnya penuh wibawa.
"Lalu kenapa kau kembali lagi, bukankah kau sudah memutuskan untuk pensiun dari bisnis ini?"
"Om tidak perlu ketakutan begitu, santai saja.
Aku banyak mendengar kecurangan Om, karenanya aku kembali. Aku harap Om, Bram mematuhi kesepakatan yang sudah kita buat, atau kau tau sendiri apa yang akan aku lakukan!" Satria berdiri dan memakai kaca matanya kembali.
Ia melangkah meninggalkan Om yang sekaligus rivalnya di dunia bisnis itu.
Namun ia tiba-tiba berhenti.
"Dan ingat satu hal.. Lepaskan Yasmin! Kalau kau tidak menurutinya, aku bisa berbuat sesuatu yang tidak kau duga."
"Kau jangan mengancam ku, gadis itu milik ku, kau tidak berhak mencampuri urusan pribadi ku! Urusan kita hanya dunia bisnis, selain itu tidak ada...!" Jawab Bram tak kalah berwibawa.
"Terkecuali Yasmin!" ucapnya penuh penekanan. Lalu melangkah keluar dari tepat itu dengan gagahnya.
"****..! Dia berani mengancam ku?" Bram menggebrak meja.
Dia langsung menyuruh anak buahnya agar menyelidiki tentang Satria selama ini, tentang hubungan Satria dengan Yasmin tentunya.
Setengah jam kemudian, Bram sudah mendapat laporan yang dia inginkannya.
"Yasmin adalah istrinya Satrio..? Tidak mungkin!" Bram melempar sebuah botol ke dinding hingga berantakan. Ia sangat terpukul mengetahui informasi tentang hubungan Yasmin -Satrio, sang keponakan yang sekaligus musuhnya selama ini.
Tidak ada yang berani mendekat saat pria itu sedang marah dan meluapkan emosinya.
Yasmin yang datang keruangan Bram terheran-heran saat melihat semua berantakan
"Apa yang terjadi? Kenapa dengan Om Bram?" tanyanya penasaran.
Namun semua masih membisu.
Yasmin memberanikan diri mendekati pria dewasa itu.
"Om, Bram... ada masalah?"
Menyadari kedatangan gadis itu membuat Bram memasang mimik ramah.
"Owh tidak ada apa-apa. Ini hal biasa, ada anak buah Om yang tidak becus bekerja. Makanya mereka harus di buat mengerti." jelasnya membuat Yasmin mengangguk.
"Owh, ya..? apa kau menikmati pestanya tadi?" Bram mengalihkan pertanyaan.
__ADS_1
Ia takut Yasmin akan bertanya lebih jauh penyebab kemarahannya. Ia tidak mau gadis itu sampai tau kedatangan Satrio di club.