SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 46


__ADS_3

Satria merasa bersyukur karena Dio cepat datang.


Ia cepat memakai pakaiannya dan mengajak Dio keluar.


"Dio, papa temani Dio tidur, ya?"


'Benar, Pa?"


Satria mengangguk membuat Dio gembira. Sangat jarang dua bisa tidur dengan papanya.


Kirana mengangkat ponselnya yang berbunyi.


meletakkan kembali saat tau siapa yang menelpon.


ponsel itu terus saja berbunyi, karena Kirana tidak menghiraukannya, Sebuah pesan masuk.


(Jangan coba-coba untuk menghindari ku! Atau semuanya akan ku bongkar di depan Satria)


Kirana membanting ponselnya di kasur.


"Dasar pemeras!"


Ia membalas pesan Edgar.


(Jangan berani-berani mengancam ku dengan hal yang satu itu, kau kira aku tidak bisa melakukan sesuatu padamu? Ok, kali ini aku masih bersabar. Apa maumu?)


(Cepat keluar, aku ada di belakang rumah ini!)


"Gila..! Apa dia sudah gila? Berani sekali dia kesini, padahal Satria sedang berada di rumah." Kirana berpikir keras.


(Cepat turun! Atau aku yang masuk ke kamarmu?)


(Kau jangan gila, Satria sedang di rumah, Mama juga belum tidur, kalau aku keluar jam segini, jelas mereka akan curiga) balas Kirana geram.


(Aku tidak mau tau, aku tunggu dua menit. kalau tidak muncul juga, aku yang masuk)


Dengan terpaksa Kirana keluar. Ia melihat Bu Lidia masih di ruang tengah.


"Kiran, mau kemana?"


"Eeh ini, Ma. Mau keluar sebentar, sekalian beli pembalut. Kebetulan punyaku sudah habis " ucapnya berbohong.


Bu Lidia mengerutkan keningnya.


"Tumben tidak menyuruh pak Slamet belikan. Atau, punya Mama masih banyak tuh, pake saja!" ujar Bu Lidia.


Melihat Kirana masih diam kebingungan, Bu Lidia merasa heran.


"Kenapa, Kiran? Kok masih disitu?"


Kirana bingung mencari alasan apa lagi. Kalau tidak segera keluar, Edgar pasti naduk kedalam dengan berbagai cara.


 "Aku mau keluar saja, deh Ma. sekalian mau cari cemilan.. Mama mau nitip barangkali?"


tawar Kirana.


"Nga deh kayaknya."


"Kalau gitu, Kiran pergi sebentar, ya Ma.."


Bu Lidia hanya mengangguk. Walaupun ia agak heran, tapi Bu Lidia membiarkan menantunya pergi.


Setelah berjalan baru tiga langkah,


Kirana berpapasan dengan Satria.


Pria itu hanya meliriknya sedikit, tanpa bicara apapun dia terus melangkah kedapur.


Kirana cepat cepat menyelinap keluar.


Ia langsung menuju bagian belakang dari rumah besar itu.


"Kau sudah gila, kita bisa ketahuan kalau begini caranya." omelnya pada Edgar.


""Tidak akan pernah ketahuan kalau kau tidak membuatku jengkel " jawab Edgar.


"Tutup mulutmu!" suara Kirana cukup keras.

__ADS_1


Satria yang sedang mengambil air di kulkas merasa heran karna mendengar suara samar-samar.


Karna penasaran, ia mencoba membuka jendela dapur.


Edgar menutup mulut Kirana saat melihat jendela dapur itu bergerak.


"Sssttt...! Ada orang di dapur.." bisiknya di telinga Kirana.


Setelah menengok kanan kiri namun tidak ada apa-apa, Satria kembali menutup jendela.


Ia berpikir mungkin kucing yang sedang bercinta. Ia kembali ke kamar Dio.


"Apa maumu?" ujar Kirana sambil melepas paksa tangan Edgar


"Jangan galak begitu, begini - begini aku ayahnya Dio."


"Jaga mulutmu!" ucap Kirana semakin geram.


"Bukannya kau sudah pamit keluar, ayo kita pergi!* tanpa menunggu persetujuan, Edgar sudah menarik tangan Kirana ke mobilnya.


"Kita kemana?" ujarnya protes.


"Jangan banyak tanya!" Kirana terpaksa diam mengikuti kemauan gila Edgar.


Mereka berhenti di depan sebuah rumah.


"Rumah siapa ini?" tanya Kirana heran.


Edgar langsung membawanya kedalam kamar.


"Eh, kau mau apa?" Kirana mundur ketakutan.


Ia melihat Edgar mengunci pintu dan membuka bajunya.


"Edgar, berapa yang kau inginkan?"


"Kali ini aku tidak ingin uang mu. Tapi ingin dirimu!" ucapnya menyeringai.


"Kau boleh minta yang lain, tapi jangan lakukan itu padaku!"


Kirana bersimpuh.


Kirana mulai menangis. Walaupun ia wanita jahat, tapi untuk melakukan hal itu, ia merasa ngeri juga.


"Kenapa kau harus merasa takut? Kita hanya membuatkan adik buat Dio, kok. Tenang, nikmati saja...!" ucap ya enteng.


Kirana melempar Edgar dengan bantal.


"Kau sudah tidak waras!" pekiknya.


Ia menyesal telah berurusan dengan pria sakit jiwa itu.


"Terserah, kalau kau tidak mau melayaniku, aku akan telpon Satria sekarang juga!" Edgar menyambar ponsel di tangan Kirana.


Ia langsung mencari kontak Satria.


"Jangan kira aku cuma bercanda..."


Karna merasa ketakutan. Kirana membujuknya.


"Baiklah, serahkan ponsel itu padaku. Aku akan melakukan apa yang kau mau.." ucap Kirana dengan cemas.


"Janji?"


"Iya, aku janji..." jawab Kirana dengan wajah tertekan.


Edgar menjatuhkan ponsel itu di atas ranjang.


Kirana menatap pria itu dengan penuh kebencian.


Ia juga menyesal kenapa ponselnya tidak memakai sandi.


Dengan terpaksa, malam itu ia melayani Edgar.


Setelah selesai, Kirana bergegas memakai kembali pakaiannya.


'Terima kasih sayang... Servis mu sangat memuaskan." ucap Edgar dengan keadaan lemas.

__ADS_1


Kirana menatapnya dengan jijik.


"Kau boleh tertawa menang sekarang, lihat saja, mungkin kau tidak akan sempat melihat matahari terbit..!" ucap Kirana dalam hati.


Kirana pulang dengan taksi.crumah sudah sepi saat dia masuk dengan berjingkat.


Tak di sangka ia kembali berpapasan dengan Satria.


"Tidak baik bagi seorang ibu pulang larut malam..." ucap Satria sambil lalu.


"Eeh, aku ada urusan sedikit. Dan tidak menyadari kalau sudah malam sekali..." ucapnya terbata.


Satria tidak menoleh lagi. Ia kembali duduk dan asik dengan laptop di pangkuannya.


Perlahan di masuk kekamarnya sendiri.


Setelah menutup pintu dengan rapat.


Ia menelpon seseorang.


"Aku mau dia lenyap malam ini juga tanpa meninggalkan jejak! Aku tidak mau mendengar kata gagal. dan uangnya segera aku transfer.


Kirana langsung mengirimkan alamat dan photo Edgar.


"Haah.. Mudah mudahan saat terbangun esok hari, aku di sambut dengan berita yang menyenangkan.." gumamnya sambil merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk.


Pagi harinya, Saat Dio masih di kamar mandi. ponselnya berbunyi, Dio yang kebetulan ada di kamar papanya langsung mengangkatnya.


"Halo, siapa ini?"


"Papa, ad" bukannya menjawab, suara kecil di sebrang malah balik bertanya.


"Papa siapa? Ini handphone papaku. Kau siapa?" Rayyan tertegun.


"Ini Rayyan... Kau siapa?"


"Aku Dio.. Kau pasti salah sambung!" ucap Dio kasar dan langsung menutup telponnya.


"Siapa yang menelpon?" Satria yang baru keluar melihat Dio menutup telpon dengan cemberut.


"Ga tau, di nyari papa? Enak saja nyari disini, Dio bilang salah sambung."


Satria langsung mengambil ponselnya dari tangan Dio.


Dia menelpon balik nomor Yasmin.


"Halo, ini Rayyan, kan?"


"Halo, papa, selamat pagi.." suara Rayyan begitu menggemaskan.


"Pagi juga, Ray. Lagi ngapain?"


"Baru selesai mandi."


"Oh,ya Mama dimana?"


"Mama di kamar mandi, makanya Ray diam-diam pake handphonenya Mama."


"Ya sudah dulu, pah.. Takut ketahuan Mama nanti Ray di marahin."


Telpon terputus.


Satria sangat menyesalkan kenapa Rayyan memutusnya, dia masih merasa betah mendengar bocah itu bicara.


Satria tidak menyadari ada bocah lain yang sedang cemberut.


"Siapa dia, Pa? kenapa manggilnya papa juga?" tanya Dio tidak suka.


Satria memangku Dio.


"Dio ingat anak yang ketemu di mall waktu itu? Itu dia, namanya Rayyan. Bagus, kan?"


"Jelek..! namanya jelek. Dio tidak suka dia manggil papa." ucapnya masih ngambek.


"kan papa udah bilang, Dio tidak boleh pelit, tidak boleh egois, harus bisa berbagi dengan siapapun.."


"Tapi kata Mama, Papa itu hanya milik Dio..!"

__ADS_1


Satria menarik nafas panjangnya.


Kirana sudah menanamkan hal-hal negatif pada putranya.


__ADS_2