
"Aku punya info penting untuk Nona.. "
Ucap pria berkepala botak itu.
Yasmin merasa heran. Ia sama sekali belum pernah melihat pria itu sebelumnya.
"Bicara yang jelas, apa sebenarnya tujuan anda memanggil ku ke sini?" tanya Yasmin dengan angkuhnya.
Gadis cantik yang masih belia itu terlihat tidak sabar.
"Tenang, Nona.. Kita pesan minum dulu. Kau pasti haus, kan?"
"Aku tidak haus, aku hanya ingin mendengar tentang info yang kau bicarakan." jawab Yasmin dingin.
"Ini tentang Bram..."
Mata Yasmin membulat.
"Om Bram?" ulangnya kaget.
Pria itu mengangguk.
"Dia seorang mafia kejam.." lanjut pria itu.
"Tolong, ya. Infonya yang lebih berkualitas. Tentang itu sih aku sudah tau!"
'Sabar Nona, itu hanya bagian kecil dari info saya." pria itu kelihatan mulai tak sabar menghadapi Yasmin yang tidak bersahabat.
"Kau lihat ini!" pria itu menyodorkan ponselnya.
Saat melihat photo di dalamnya, Yasmin mengerutkan keningnya.
"Om Bram dengan Om Mizwar terlihat begitu akrab?" Yasmin heran, dalam photo itu Bram dan Mizwar terlihat sedang duduk di sebuah Bar dengan di temani beberapa wanita.
Yasmin tidak mempermasalahkan dengan siapapun Bram duduk, tapi kesepakatannya adalah, Yasmin bersedia berteman dengan Bram, karena Bram berjanji akan membalaskan dendanya pada Mizwar. Yasmin begitu benci pada Om tirinya itu. Ia yakin kematian papanya ada hubungannya dengan Mizwar.
Tapi apa yang di lihatnya membuatnya bimbang.
"Kalau kau mau melihat sesuatu yang lebih meyakinkan, datanglah ke kamar hotel nomor 09." bisik pria itu tersenyum dan bersiap pergi.
"Tunggu! Atas alasan apa aku harus percaya padamu?" tanya Yasmin sambil memakai kaca matanya.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, kalau kau merasa butuh infoku lebih lanjut, silahkan datang, kalau tidak juga tidak masalah." pria itu benar-benar meninggalkan Yasmin sendirian.
Yasmin menimang-nimang ponselnya.
"Aku penasaran, apa lagi yang di sembunyikan Om Bram padaku. Aku akan melihatnya." Yasmin memutuskan pergi ke kamar hotel seperti kata pria itu.
Satria dan Bara diam-diam mengikuti langkah Yasmin.
"Aku membaca gelagat yang kurang enak dari pria botak itu." ucap Satria pelan.
"Kau benar sekali, sikapnya sangat mencurigakan " timpal Bara.
"Bar, biar aku tangani masalah Yasmin. Kau balik saja ke kantor, disana lebih membutuhkan mu." bisik Satria.
"Yakin mau sendiri saja..?"
Satria mengangguk pasti.
"Ya elah bilang saja tidak mau di ganggu bertemu Yasmin." ledek Bara.
"Bukan itu masalahnya, aku masih bisa menghandle pria botak itu sendirian, nanti kalau aku butuh bantuan aku pasti telpon kalian."
Ok, Bos. Siap!" ucap Bara dan langsung meninggalkan Satria sendirian.
Satria kembali mengikuti Yasmin.
__ADS_1
Sampai di depan kamar yang di maksud, Yasmin terlihat ragu.
"Apa yang berusaha di tunjukkan oleh pria botak itu, ya?" Yasmin mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci.
Setelah masuk, pintu itu langsung di tutup oleh pria itu.
Yasmin kaget.
Hey apa yang kau lakukan?" tanya Yasmin panik.
"Tenang cantik, bukankah kau mau info tentang Bram? Santai... aku pasti memberikannya padamu."
Saat Yasmin lengah, pria itu membius mulutnya dari belakang, hingga akhirnya Yasmin terkulai pasrah di tempat tidur.
"Beres...! Ucap Pria itu.
Dia mulai menjalankan misi utamanya. Dia membuka kancing baju Yasmin, ia semakin bersemangat saat melihat kulit gadis itu yang putih mulus begitu menantang di depan matanya.
Karna nafsunya, ia sampai lupa misi utamanya yaitu membuat Yasmin seolah sudah melakukan hubungan intim dengan seorang pria, Lalu memberikan bukti kepada Bram, setelah itu Bram akan meninggalkannya. Itulah rencana Chaterine sebenarnya.
Tapi sebelum pria hidung belang itu berbuat lebih jauh, Satria sudah menerobos masuk. Feeling nya mengatakan Yasmin dalam bahaya.
Satria menghajar pria botak itu dengan geramnya.
"Ini karna kau sudah berani menyentuhnya.!"
Sebuah pukulan mendarat telak di pipinya.
"Ini hadiah karna kau sudah berani menatap tubuhnya..!" sebuah bogem yang lebih keras lagi mendarat tepat di hidungnya.
Satria merasa tak rela ada yang menyentuh Yasmin.
Setelah pria itu di amankan petugas.
Satria baru sadar kalau baju atas Yasmin masih terbuka, banyak karyawan hotel yang sedang menonton mereka
Ia bergegas membuka jaketnya dan menutupi tubuh Yasmin.
Yasmin mulai tersadar, ia memicingkan matanya, memastikan siapa yang sedang mengangkatnya.
Walaupun terkejut menyadari Satria yang sedang membopongnya, ia berpura-pura belum sadar. Yasmin menikmati tangan kokoh yang mengangkatnya.
Satria sudah sampai di dekat mobilnya.
Tak sengaja ia melihat Yasmin yang sudah tersadar.
Mereka saling bertatapan.
"AW..!!" Yasmin mengerang memegangi pantatnya yang terhempas ke lantai.
"Kalau tau kau cuma pura-pura, ogah aku nolongin kamu!" ucap Satria sinis.
"Siapa yang pura-pura? Kalau gak niat nolong gak usah saja, aku juga tidak mengundang mu datang!" tukas Yasmin tak kalah ketus. Ia merasa tersinggung karna sudah di tuduh berpura-pura.
"Jalan sama Om-om saja bangga.." Ledek Satria dengan suara pelan.
"Apa maksudmu?" Yasmin merasa tidak suka di Katai jalan sama Om-om.
Yasmin terdiam, Ia berpikir yang di maksud Satria pastilah Om Bram. Lalu dari mana dia tau? Pertanyaan itu menggelayut di benak Yasmin.
"Dasar pria tak jelas..!" desis Yasmin sambil mengibas pantatnya.
"Apa kamu bilang barusan?" Satria tidak terima. Rasa cemburunya pada Bram membuat sikapnya sinis pada Yasmin.
"Tidak ada, yeek..!" Yasmin menjulurkan lidahnya untuk meledek Satria.
"Kau..?" Satria bertambah kesal.
__ADS_1
"Nih jaketnya.. Jangan lupa suruh si Kiran cuciin, ya!" Yasmin melempar jaket itu dan melenggang pergi.
"Dasar cewek tidak tau terimakasih!" Satria menggerutu kesal.
Ia memakai jaketnya kembali, lalu masuk ke mobilnya.
Dari bagian lain di tempat itu, Yasmin berhenti dan mengawasi Satria dari tempat tersembunyi.
Rasa rindu yang membuncah membuat matanya membasah. Tapi gengsinya begitu besar hingga mengalahkan perasaan yang sebenarnya.
"Aku ingin sekali memelukmu, Satria.. Tapi jarak di antara kita begitu nyata..." isaknya mengusap butiran bening yang mulai deras.
Ia melangkah gontai meninggalkan tempat itu.
Sampai di kantornya, Satria masih terlihat kesal.
"Bagaimana Yasmin? Dia tidak apa-apa, kan?"
Bara menyambutnya dengan pertanyaan.
"Dia tidak apa-apa, aku yang kesal di buatnya..!" sungut Satria melempar jaketnya.
Bara tertawa lebar.
"Tertawa saja terus...!" ucap Satria geram.
"Bos, kau lucu kalau lagi jatuh cinta." seru Bara di tengah tawanya.
"Jatuh cinta? Sama cewek keras kepala itu?"
Bara mengangguk.
"Akui saja, Bos." ledek Bara lagi.
"Sudah, Kerjakan tugasmu! Jangan mengoceh terus.."
Satria mengibas tangannya. Bara semakin tergelak sambil meninggalkan Bos nya yang lagi keblinger.
Saat sore tiba, Satria bersiap untuk pulang.
Tapi diam-diam Mamanya mengikutinya.
Nyonya Lidia tercekat saat menyadari putranya masuk kerumah kecil yang begitu sederhana.
"Jadi selama ini dia tinggal disini? Satrio, Satrio. Kau meninggalkan kemewahan mu dan tinggal di gubuk kecil ini?"
"Bu Lidia tidak berani masuk karna jelas Satria akan marah.
Keesokan paginya, Kirana yang sedang memasak di dapur merasa kaget karna ada mobil truk yang berhenti di halaman rumah Satria.
Seisi rumah jadi heboh di buatnya.
Satria masih mengalungkan handuknya saat ikut melihat keluar.
"Siapa mereka? Kiran, kau memesan barang-barang ini? Kenapa tidak tanya terlebih dulu, kalau memang kau menginginkannya, aku bisa masih mampu." Satria terlihat tersinggung.
"Tapi aku tidak pernah memesan apapun!" jelas Kiran.
"Tidak usah di ributkan, Mama yang pesan semua ini untuk kalian." Nyonya Lidia muncul tiba-tiba.
"Mama?" Satria begitu kaget.
"Putraku... Ternyata kau sudah menikah, dan kenapa kau sembunyikan menantu Mama yang sangat cantik." Nyonya Lidia tidak memberi kesempatan Satria untuk menjelaskan pada Kiran maupun Mamanya.
"Tante.. Mamanya Satria?" Kiran menggeleng tak percaya.
"Kiran, Kiran. Aku akan jelaskan semuanya." Satria maju kedepan.
__ADS_1
"Ia sayang.. Aku Mamanya Satrio, dan tentunya Mama mertuamu, dong!"
Satria memijat keningnya, kepalanya terasa berdenyut.