SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 60


__ADS_3

Malam menjelang, Satria masih gelisah karena bukti bahwa perusahaannya tidak bersalah belum juga di temukan.


"Kali ini gerakan mereka sangat rapi, Sat. Kita sulit melacaknya." keluh Bara lewat telpon.


"Kenapa aku perhatikan kau seperti orang gelisah, ada apa?" Yasmin mendekati suaminya yang sedang termenung di depan laptopnya.


Satria menoleh dan tersenyum.


"Hanya masalah perusahaan, kau tidak usah khawatir, aku baik-baik saja."


"Oh,ya.. Jam berapa Mama tadi datangnya?"


Satria mengalihkan pembicaraan.


"Jam enam. Dari baru datang dia di kamar Rayyan. Bahkan makan malam saja belum mau."


"Semenjak ada Rayyan dia lupa padaku.. Lihat saja, dia hanya menyapaku sebentar lalu pergi lagi ke kamar Rayyan." Satria menggeleng sambil tersenyum.


"Ray juga sangat lengket sama Oma nya." timpal Yasmin.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita bikin adiknya Rayyan saja?" Satria mengedipkan sebelah matanya sambil menutup laptopnya.


Yasmin menggeleng pelan.


"Jangan sekarang, ada Mama..." sergahnya tertunduk malu.


"Kenapa kalau ada Mama? Kita beda kamar."


"Iya, tapi..." Yasmin tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Jangan khawatir begitu, justru Mama akan senang kalau kita buatkan mainan baru untuknya selain Rayyan..' bisiknya lagi.


'Aku rindu saat-saat seperti ini, bersamamu, dan hanya bersama mu.." ucap Satria sambil menyibak anak rambut istrinya.


Tatapan mereka bertemu. Dada Yasmin berdebar kencang. Pria sejuta pesona yang sah menjadi suaminya itu kini mengungkungnya setelah sebelumnya mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Cahaya yang remang-remang membuat suasana semakin romantis. Mereka baru saja hendak memulai ritualnya.


Ponsel Satria menyala.


"Dari Edgar.."


(Pak, Satria.. Maaf saya menganggu malam-malam begini. Bisa minta tolong jemput Dio? Dia menangis ingin bertemu bapak. Sedangkan saya sedang mengurus kepindahan Kirana dari rutan ke rumah sakit)


"Kenapa?"


Tanya Yasmin penasaran


"Edgar minta tolong aku menjemput Dio. dia sedang sibuk mengurus Kirana.'"


Jawab Satria.


Pada saat yang sama Bu Lidia mengetuk pintu kamarnya.


"Yas, Satrio ..! buka pintunya sebentar."


Yasmin langsung melompat dari tempat tidur dan menyalakan lampu.


"Aduh.. Ini masih jam berapa? Kalian sudah gelap-gelapan." goda Bu Lidia.


Yasmin tersipu malu.


"Ada apa, Ma?" Satria muncul di belakang istrinya.


"Firasat Mama tidak enak, ngga tau kenapa? Apa kalian juga merasakannya?"


Satria dan Yasmin kompak menggeleng.


"Sudahlah, mungkin hanya perasaan Mama saja."


Sebenarnya Yasmin. Juga merasakan hal yang sama. Entah kenapa ia merasa gelisah.


"Kalian sendiri kenapa? Kelihatannya serius begitu?"


"Aku dapat pesan dari Edgar, dia minta aku menjemput Dio. Dia sendiri sedang pengurus Kirana."


"Kiran sakit?" tanya Bu Lidia.


"Aku lupa kalau dia sakit jiwa." dia menjawab pertanyaan nya sendiri.


"Sebaiknya jangan menghujatnya lagi, dia sudah mendapatkan karma dari semua perbuatannya." saran Satria. Yasmin mengangguk setuju.


Satria masuk kembali kekamarnya

__ADS_1


"Kau mau pergi?"


Satria mengangguk.


"Kau keberatan? "


"Sebenarnya tidak, tapi entah kenapa setelah Mama bilang begitu. Perasaanku tidak enak. Boleh tidak jangan pergi malam ini." pinta Yasmin lirih.


Satria tersenyum manis.


"Kau hanya terbawa ucapan Mama saja. Tidak usah di pikirkan."


Yasmin mengangguk. Ia mencoba mengerti walaupun sebenarnya perasaanya masih gelisah.


"Aku kasian pada Edgar, nanti sekalian aku jemput Dio. Tidak apa-apa, kan kalau Dio nginap disini?" tanya Satria sambil memakai jam tangannya.


Yasmin menggeleng. " Aku justru merasa senang kalau ada Dio disini, Rayyan ada teman." jawab Yasmin sambil membenarkan kerah jaket suaminya.


"Aku berangkat, ya..! malam ini kau lolos, tapi besok malam jangan harap bisa lepas lagi." bisiknya nakal lalu mencium kening Yasmin.


Yasmin menatap Satria lekat.


"Kenapa? Kau seperti berat melepas ku, seperti suamimu akan pergi berperang saja." ujar Satria tertawa.


Yasmin masih terdiam.


"Kenapa lagi?" Satria menarik Yasmin dalam pelukannya.


"Mungkin kau benar kalau ini hanya ketakutan ku saja. Mungkin juga karena efek kita sudah lama terpisah. Jadi rasa takut kehilangan lagi itu sangat kuat." ucap Yasmin merengek manja.


"Dengar aku, kita tidak akan berpisah lagi. Kau mengerti? Aku tidak akan bisa hidup tanpa kau dan Rayyan." Satria mengecup puncak kepala Yasmin.


"Gimana? Sekarang aku sudah bisa pergi?"


Yasmin melepas pelukannya.


"Kau harus janji cepat pulang dengan selamat."


Satria mengangguk.


"Ma, aku berangkat..!" teriaknya di depan kamar Bu Lidia.


"Kau mau ikut membantu Kiran?" tanya Bu Lidia tidak suka.


 "Ya, sudah. Hati-hati dan cepat pulang. Jangan biarkan menantu Mama menunggu lama." ancamnya.


"Mama.. Yang anaknya aku atau dia, sih?" ucap Satria pura-pura cemberut.


"Yasmin menantu sekaligus putriku. Awas kalau saja kalau kau membuat putriku menangis.


Mama akan menjewer mu." timpal Bu Lidia lagi.


"Iya, iya... Satria akan menjaga menantu kesayangan Mama ini dengan sepenuh jiwa raga.." canda Satria lagi


"Sudah, sana berangkat!"


Bu Lidia mendorong pelan tubuh putranya yang masih memeluk istrinya.


Yasmin hanya tersenyum melihat tingkah ibu dan anak itu.


"Hati-hati..!" pesannya sebelum mobil Satria keluar gerbang.


Yasmin meraba tengkuknya yang berkeringat.


"Kau kenapa, Yas?" Bu Lidia terlihat khawatir.


"Ngga papa kok, Ma. Hanya gerah sedikit.


Yasmin beralasan


"Ya sudah, kembali tidur sama..!"


Bukannya kembali kekamar, Yasmin malah mencari Dilla di kamarnya.


"Dil, aku menganggu ngga?"


Dilla membuka pintu.


Yasmin langsung masuk dan menjatuhkan dirinya di tempat tidur.


"Eeh.. Kok malah tiduran disini? Berantem, ya sama pak Satria?" bisik Dilla.

__ADS_1


"Enak aja berantem. Dia sedang keluar."


"Lalu kenapa wajahmu terlihat cemas begitu? Owh aku tau, Pak Satria memang punya pesona yang susah di hindari para cewek-cewek, tapi kau harus yakin kalau cintanya padamu itu sangat besar." nasehat Dilla.


"Sok tau!" jawab Yasmin ketus.


Lalau mereka mulai mengobrol tentang banyak hal.


****


Satria langsung menuju rumah sakit di mana Kirana dirawat. Rumah sakit khusus menangani pasien yang mengalami gangguan mental.


"Terima kasih sudah datang, pak Satria." Edgar menyambutnya.


"Bagaimana keadaan Kiran?"


"Masih dalam perawatan, pak. Kondisinya semakin memburuk. Dia sudah menikam teman satu sel nya dengan garpu. Karena itu pula mereka memindahkan Kiran kesini." jelas Edgar.


"Aku ikut prihatin atas apa yang terjadi pada nya." ucap Satria tulus.


Terima kasih, Pak."


Satria merasa kagum pada pria di depannya itu. Walau Kirana sering mengecewakannya, tapi dengan setia dan sabar ia merawatnya.


Satria melihat jam tangannya, waktu sudah pukul sembilan.


"Kalau begitu aku pulang dulu, biar Dio aku bawa sekalian."


Edgar pergi memanggil Dio yang dia titipkan di resepsionis.


Sedangkan Satria masih di kamar itu.


Karena kebelet, ia meninggalkan Kirana yang sedang tidur.


Hanya sekitar lima menit, Satria keluar lagi dari kamar kecil. Ia kaget melihat wajah Kirana tertutup bantal.


Karna panik, dia langsung meraih bantal itu dan melihat Kirana sudah tidak bernafas lagi dengan mata sedikit terbuka dan lidah menjulur.


Satria masih bingung dan tercengang dengan apa yang di lihatnya.


Dengan bantal masih di tangannya saat Edgar dan seorang perawat masuk ke ruangan itu.


Edgar terbelalak melihat kejadian itu.


"Pak, Satria?" ucapnya tak percaya.


Satria yang masih bingung tidak bisa menjelaskan apa-apa.


Tidak butuh waktu lama ruangan itu sudah di penuhi oleh polisi yang bertugas.


Satria masih Shock.


Ia duduk di kursi dengan perasaan linglung.


Ia terus menatap Dio dan Edgar yang menangisi jasad Kirana.


Tak berapa lama kemudian Yasmin Bu Lidia dan Bara datang.


"Satrio..!" Bu Lidia datang dan merangkulnya.


Yasmin tak bisa membendung airmatanya.


"Sat, kau tenanglah.. pengacara akan segera datang." ucap Bara menenangkannya.


Yasmin mengguncang tangan Satria.


"Kau jangan khawatir, sedikitpun aku tidak percaya kalau kau yang melakukan semua ini.


.kami bersamamu." ucap Yasmin mengusap wajah suaminya.


"Aku tidak mengkhawatirkan itu, aku hanya shok dengan kematian Kirana yang tidak sewajarnya. Dan aku takut kalau Dio akan membenciku dan menganggap aku adalah pembunuh ibunya."


Suara Satria lirih.


Bu Lidia memeluknya tersedu.


Satria langsung di bawa ke kantor polisi. Namun pengacara menemaninya.


"Kau jangan khawatir , aku akan segera keluar. Aku tidak melakukan apapun.


Jaga Mama dan Rayyan..!" pesannya pada Yasmin.

__ADS_1


Yasmin memeluk Bu Lidia dan menenangkannya.


"Mama yakin, kan kalau putra Mama tidak bersalah? Jadi jangan bersedih. Dia akan segera bebas. Dan berkumpul bersama kita lagi." ucap Yasmin berusaha tegar.


__ADS_2