SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 66


__ADS_3

Bram mengerahkan anak buahnya untuk mencari Yasmin.


Namun ia kehilangan jejak.


Yasmin sudah mengganti nomor ponsel dan juga penampilannya. Siapapun tidak akan bisa mengenalinya.


Sore itu, dia memutuskan menyamar menjadi wanita malam yang nakal. Dengan berbekal nekat ia memasuki sebuah club' milik Bram. Dengan penampilan yang menyolok dia mengundang perhatian pengunjung yang kebanyakan pria.


Yasmin sengaja duduk di tempat sepi sendirian.


Setelah memesan minuman,


Ia mulai menyulut rokok di tangannya. Rasanya ingin batuk karena tidak terbiasa.Tapi ia tahan sekuat mungkin. Sebelumnya dia sudah belajar menghisap rokok untuk melancarkan rencananya.


Seorang pria datang mendekatinya.


"Sendirian saja..?" tanya dengan genit.


Yasmin hanya mengangguk.


"Mau aku temani?"


Yasmin hanya tersenyum. Pria itu semakin bersemangat mendekatinya.


Siapa yang tidak terpikat dengannya? Dengan tubuh sintal dengan kaki jenjangnya, dengan mudah dia bisa menggaet banyak hati.Yasmin adalah wanita idaman semua pria. hal itu pula yang membuat Bram susah melupakannya.


Tak berapa lama kemudian, Bram datang di temani seorang anak buahnya.


Pandangannya langsung tertuju pada meja Yasmin yang di kelilingi beberapa pria hidung belang.


Melihat Bram datang, mereka menyingkir teratur.


Bram sama sekali tidak mengenalinya.


Bram mendekatinya, dengan senyuman menggoda Yasmin membuat tertarik.


Mereka mulai mengobrol.


Yasmin terpaksa tidak menolak saat Bram mengelus tangan mulusnya.


"Aku tidak suka basa basi, Mas. berapa kau berani membayar ku? karna aku masih perawan. Hanya karena hutang ayahku, maka aku terjebak di dunia hitam ini" bisik Yasmin di telinga pria itu.


Bram melemparkan selembar cek ke:wajah Yasmin.


"Aku tidak percaya kau masih perawan, kau pasti hanya membual untuk menipu setiap pelanggan mu.


Tulis saja berapa nominal yang kau inginkan..!"


Yasmin tertegun sejenak. Dirinya merasa sangat terhina. Tapi kemudian ia sadar bahwa semuanya demi Satria.


"Aku minta seratus juta..!"


Bram menatapnya.


"Dia memang sangat cantik. Tapi ...?"


"Aku pikir, nominal itu tidak seberapa di bandingkan dengan semua yang kau miliki saat ini... " bisik Yasmin lagi sambil membelai wajah Bram.


Tanpa pikir panjang Bram menyetujuinya.


"Ok, aku setuju. Tapi itu kalau kau benar-benar masih perawan." Mata Bram menatapnya dengan bengis.


"Deal...!" Yasmin mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

__ADS_1


Bram menyambutnya sambil mencium tengkuk Yasmin.


Lalu ia memperhatikan Yasmin dari atas sampai bawah.


"Wanita ini mengingatkan aku pada Yasmin.. Entah dimana sekarang anak itu berada." pikir Bram.


Yasmin membuang pandangannya. Tatapan Bram membuatnya ngeri.


"Tatapannya menakutkan, , seakan dia ingin menelanku bulat -bulat." ucap Yasmin dalam hati.


Bram mulai menggeser duduknya lebih dekat lagi. Yasmin merasa risih.


"Kenapa kau gugup begitu? Bukannya sudah biasa menghadapi pelanggan sepertiku?"


Tanya Bram sambil tangannya mulai di paha Yasmin.


Yasmin berkeringat dingin.


"Aku, aku memang sudah sering menghadapi pelanggan. Tapi entah kenapa dengan Mas Bram ini sangat berbeda. Itulah sebabnya aku menjadi gugup begini."


"Santai...! Aku lebih suka bermain lembut. Aku jamin kau tidak akan kesakitan, bahkan mungkin akan ketagihan." ucapan Bram membuat Yasmin mual. Tapi lagi-lagi dia berusaha menahan dirinya.


Yasmin kembali memberikan Bram gelas yang baru saat di lihatnya sudah kosong. Ia berusaha mengulur waktu sebanyak mungkin agar Bram mabuk berat.


Setelah habis beberapa gelas, Bram ambruk di bahunya.


Yasmin memanggil dua orang anak buah Bram yang sedang berjaga.


"Tuan kalian mabuk berat. Bawa dia ke kamar..,!"


"Aku tidak mabuk, aku masih kuat..! Lihat ini." Bram berdiri namun langsung linglung lagi.


Yasmin memang sempat mencampurkan sesuatu di minuman Bram. Hal itu lah yang membuatnya hilang kesadaran.


Saat kedua pria itu hendak berbalik. Yasmin memanggilnya.


"Kalian berjaga yang benar. pastikan tidak ada yang mengganggu kesenangan kami. Kalian juga tidak perlu khawatir kalau mendengar hal yang janggal dari dalam. Kali ini, aku akan membuat Bos kalian ini bertekuk lutut padaku. mengerti?" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Mereka mengangguk patuh.


Setelah mengunci pintu rapat-rapat. Yasmin mengamati seluruh ruangan itu.


Ia membuat beberapa kamera pengintai di ruangan itu tidak berfungsi.


Lalu dia menatap Bram yang bergulingan di ranjang sambil tertawa kecil.


"Yasmin...!" ucapnya tiba-tiba.


Yasmin menjadi tegang. Ia menatapnya kaget. Ternyata Bram mengenalinya.


"Gawat, aku dalam masalah.." pikirnya gugup.


"I- iya, Om...!" jawabnya gugup. Ia keceplosan memanggilnya Om.


"Apa kau bilang? Om?" Bram terkekeh kembali.


"Apa aku sudah setua itu hingga kau panggil Om? lagi pula, panggilan itu khusus hanya milik Yasmin.' ucapnya tertawa.


Yasmin menarik nafas lega. rupanya pria itu belum mengetahui siapa dirinya.


"Siapa Yasmin?" ia berusaha membuat Bram bercerita.


"Dia adalah gadis yang luar biasa. Dia pemberani dan keras kepala." jawab Bram dengan suara lemah.


"Lalu dimana dia sekarang?"

__ADS_1


"Dia pergi dari ku hanya demi cinta seorang anak ingusan." Bram tertawa lagi.


Yasmin pura-pura terkejut.


Anak ingusan? Aku tidak percaya, orang segagah Mas Bram ini harus kalah sama anak ingusan."


Bram terlihat semakin kewalahan.


"Siapa anak ingusan itu?" pancing Yasmin.


Usaha nya berhasil. Mata Bram menyala karena emosi


Ditengah kesadarannya yang mulai menghilang dia masih bisa berkata,


"Dia sudah tamat, End...! kau tau? aku sengaja menjebaknya sehingga sekarang dia akan membusuk di penjara."


Lalu dia mulai mengoceh tentang rencana yang di siapkannya untuk Satria waktu itu.


"Jadi begitu?"


Yasmin mau bertanya tentang bukti rekaman itu tapi Bram terlanjur ambruk tak sadarkan diri.


"Dia terlalu cepat pingsan nya, lalu dimana aku harus menemukan bukti itu? dengan rekaman ocehannya saja kurang meyakinkan." batin nya.


"Flashdisk..! ya, aku harus menemukannya, Saat itu aku melihatnya."


Yasmin mulai mengacak-acak isi ruangan itu.


Ia berusaha menemukan barang bukti yang saat itu di perlihatkan oleh Bram.


Dia tertegun saat melihat brangkas yang tersembunyi.


"Pakai sandi lagi, aku tidak tau apa sandinya?" Yasmin kebingungan.


Dua pria yang berada di depan pintu saling pandang, suara gaduh dari dalam membuat mereka tersenyum sendiri.


Mereka menyangka Bosnya sedang bertarung dengan wanita yang bersamanya itu.


Yasmin merasa panik, bagaimana kalau Bram keburu sadar sedang bukti belum dia dapatkan?


"Ayo berpikir, Yasmin.., ayo berpikir."


"Bukankah dia sangat memujaku? Bukan tidak mungkin dia memakai namaku atau yang lainnya "


Tergesa Yasmin mencoba angka ulang tahunnya, namun ternyata gagal. Lalu dia ingat kalau Bram juga memuja mertuanya.


"Mungkin nama Mama bisa." ucapnya. Tangannya gemetar karna takut Bram akan sadar.


Dan benar saja. Dia berhasil membukanya.


Yasmin mengacak isinya. dia menemukan barang bukti yang di carinya dan sebuah map berwarna biru. Tidak sempat memeriksanya. Yasmin langsung membereskan lagi tempat yang berantakan. Setelah itu dia sengaja merobek sedikit baju atasnya serta mengacak rambutnya. Dengan begitu orang akan beranggapan kalau dia dan Bram sudah bersama.


"Kalau Bos kalian mencari, sampaikan terima kasihku, dia sangat perkasa..!" bisiknya genit.


Dia melangkah dengan terseok meninggalkan dua pria itu yang tersenyum geli.


Yasmin cepat masuk kedalam kamarnya. Setelah menguncinya rapat, dia mulai memeriksa Flashdisk yang di bawanya


"Alhamdulillah.. Ini benar bukti yang aku cari.


Lalu apa isi map ini?" Yasmin membuka map itu. Setelah membacanya. Ia bertambah kaget.


"Jadi? Papanya Satria meninggal karena Bram juga? Satria harus tau tentang ini. Tapi..."

__ADS_1


Yasmin terhenyak. Ia teringat bagaiman Satria membencinya saat ini.


__ADS_2