
Hari ini sidang perdana kasus pembunuhan Kirana akan di mulai.
Satria hadir bersama dua pengacaranya.
Sikapnya yang cool dan santai seolah tidak ada beban, membuat pengacaranya merasa lega.
Mereka sudah mewanti-wanti Satria untuk tidak menyerah dalam kasus itu.
Satria yang merasa enggan berdebat, memilih mengiyakannya.
Dia melangkah dengan tegap menuju ruang sidang.
Di lobi. Ia sempat berpapasan dengan Edgar.
Pria itu menunduk dalam, ia tidak berani menatap mata Satria.
Tidak ada kata terucap dari bibir Satria. Ia terus berjalan melewati Edgar yang salah tingkah.
"Ingat, Pak Satria. Kalau ada pertanyaan yang menyesatkan dari pengacara lawan, tidak usah di jawab ." Pesan pengacaranya.
Satria mengangguk.
Tak henti-hentinya Bu Lidia, Bara Adam dan Dilla membernya semangat.
Namun mata Satria terus menatap pintu masuk, seolah dia sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Semangat, Nak.. Kami percaya kau orang baik." bisik Bu Lidia
"Makasih, Ma."
Mata semua orang tertuju pada Bram yang baru datang. Bukan Bram yang menarik perhatian, tapi Yasmin. Dengan tertunduk, Yasmin mencari tempat duduk di samping Bram. Ia tidak berani menatap mata Satria.
Bu Lidia menarik nafas panjang melihat Yasmin. Ia memang tau niat Yasmin, tapi bukan berarti harus tampil berduaan seperti itu, apalagi ada Satria. Bu Lidia menganggap Yasmin sengaja membuat Satria semakin terluka.
Sidang berlangsung alot, masing-masing pengacara mengeluarkan kemampuan untuk membela klien mereka.
Satria duduk santai di kursinya, ia sama sekali tidak perduli dengan perdebatan sengit di sekitarnya. Dia juga tidak memandang kearah Yasmin sedikitpun.
Hal itu membuat Yasmin gelisah.
"Om, kapan kau bertindak? Akhiri semua ini secepatnya.. Kau bawa bukti rekaman itu, kan?" ucap Yasmin setengah berbisik.
"Kau tenang saja, biarkan mereka beradu argumen dulu. Seru, kan?" jawab Bram terkekeh
Yasmin mendesah panjang.
"Aku mau pulang, aku gerah disini." ucapnya langsung bangkit berdiri.
Bu Lidia sempat meliriknya.
"Yasmin..! tunggu dulu." Bram menangkap tangannya
Yasmin memandang tangannya dengan gusar.
Bram terpaksa melepaskannya karena melihat Yasmin kesal.
Bram mengejar Yasmin yang keluar dari ruangan.
"Om, Bram sudah ingkar janji. Kesepakatan kita batal...!" ucap Yasmin sengit.
"Apa maksudmu? Om hanya minta bersabar sebentar, kau sudah menuduh Om yang tidak-tidak."
'"Jangan berpura-pura lagi, Om. Kau memang tidak pernah menginginkan Satria bebas. Iya, kan?"
Bram menangkap tangan Yasmin.
"Kaulah yang memulainya, kau yang berpura-pura datang menyerahkan dirimu, tapi itu hanyalah muslihat mu, itulah yang membuat ku berubah pikiran.."
Yasmin memandang Bram dengan penuh kebencian.
"Om, benar-benar tidak punya hati.."
"Hati yang mana lagi? Hatiku sudah cukup besar untuk membiarkan dia tetap hidup. Kalau tidak, dia sudah ku lenyapkan sebelum sempat melihat dunia ini."
Pertengkaran mereka berlangsung seru.
Yasmin menyesal sudah percaya begitu saja bualan Bram untuk membebaskan Satria.
"Aku akan berjuang sendiri untuk membebaskan Satria. Aku janji.. Satria Akan bebas tanpa bantuanmu." Yasmin menunjuk wajah Bram dengan marah.
"Kau terlambat.. Seberapa besarpun usahamu, Satria sudah tidak percaya lagi padamu..!" teriak Bram tersenyum licik.
Yasmin tidak perduli.
Tapi ia membenarkan ucapan Bram, dirinya sudah kehilangan kepercayaan dari Satria.
Yasmin tidak berani pulang dan menceritakan kegagalannya pada Bu Lidia.
__ADS_1
Ia bertekad akan berjuang sendiri untuk membebaskan suaminya, sekalipun dia tau, kini Satria sudah membencinya.
Yasmin sengaja mencari hotel yang berdekatan dengan apartemen Bram.
Dari Sana dia berharap bisa mengawasi gerak gerik Bram dan anak buahnya.
Sidang hari itu terpaksa di tunda, karna dari pihak Satria minta penangguhan.
..."Kita hanya punya waktu satu minggu untuk...
mengumpulkan bukti-bukti." keluh pengacara.
"Iya, kau benar. Waktu kita sangat sedikit." jawab Bara.
Satria langsung pergi dengan petugas, ia sama sekali tidak menghiraukan kebingungan orang-orang yang mendukungnya.
"Kau baik-baik saja, Nak?" Bu Lidia mencegatnya sebelum dia di bawa oleh mobil polisi.
Satria mengangguk.
"Jaga diri, Mama. Aku titip Rayyan." ucap Satria memeluk Mamanya.
Dia sama sekali tidak menyinggung soal Yasmin. Bu Lidia sedikit heran.
***
Esok harinya,
Yasmin sedang duduk di bangku di sebuah taman kanak-kanak.
Tak lama kemudian, yang di tunggu akhirnya muncul juga.
Jam pelajaran usai. Para anak berhamburan mencari keluarga mereka masing-masing.
Yasmin langsung teringat Rayyan,
'"Bagaimana kabar jagoanku itu, pasti Dilla merawatnya dengan baik." ucapnya menghibur diri.
Kemudian dia mencari keberadaan Dio di antara anak-anak itu.
Dio berada di antara kerumunan anak yang menunggu jemputan. mereka di jaga oleh gurunya.
"Hay...!" sapa Yasmin kearahnya.
Dio yang memang sudah kenal dengan Yasmin langsung berseru gembira.
Seorang guru menghampiri mereka.
"Maaf, mba ini siapanya Dio, ya,?"
"Tidak usah khawatir, saya keluarganya, lihat saja Dio mengenal saya..!"
"Mohon maaf, Mba. Tapi ini perintah papanya.
keselamatan anak didik sangat kami utamakan."
"Saya mengerti, saya juga tidak akan membawa Dio. Oh,ya? Apakah yang biasa menjemputnya adalah papanya?"
"Benar, mba. Tapi sebelum papanya datang, kami berkewajiban mengawasinya."
"Baiklah, kami hanya akan ngobrol-ngobrol kecil kok."
Yasmin berharap Edgar cepat datang dan mereka bisa bicara.
"Mobil papa...!" teriak Dio.
Yasmin mengikuti arah telunjuk Dio.
Sebuah mobil mewah memasuki area sekolahan itu.
"Tentu saja Edgar mendapatkan fasilitas itu dari Bram atas kerjasama mereka menjebak Satria." pikir Yasmin geram.
"Dio, kita main disebelah sana, yuk."
"Tapi papa?"
"Papa akan mencari kita kesana."
Dio mengangguk dan mengikuti langkah Yasmin yang menggandeng tangannya.
Untung para guru pengawas tidak memerhatikan mereka.
"Pak, Edgar sudah datang?" sapa seorang guru.
"Iya, Bu. Dimana Dio?"
"Dio tadi..." guru wanita itu tercekat.
__ADS_1
Dia menunjuk ruang kosong.
"Barusan mereka main disini..." ucapnya bingung dan ketakutan.
"Mereka? Maksud Bu guru, Dio dengan seseorang?"
Lalu wanita itu menceritakan tentang Yasmin.
Edgar berlarian kesana kemari dengan panik.
Ia tertegun saat melihat Dio dan Yasmin sedang berada di taman sebelah.
"Yasmin?" ucap Edgar tak percaya.
"Papa...!" teriak Dio memanggilnya.
Dengan langkah ragu Edgar mendekati mereka
"Papa,.. " Dio memeluknya.
"Dio, tunggu di mobil, ya?"
Anak itu mengangguk dan berlari ke mobilnya.
Sedangkan Edgar memandang Yasmin.
"Bu, Yasmin..."
"Apa kabarnya pak Edgar? Setelah kepergian Kirana kayaknya kehidupanmu semakin makmur.." ucap Yasmin dengan tenang.
"Apa maksud ucapan ibu, itu? Saya tersinggung."
"Owh, maaf. Kau tersinggung?"
Edgar terdiam. Lalau Yasmin berkata lagi,
"Bagaimana rasanya saat aku pinjam Dio lima menit?"
"Jangan bawa-bawa anak kecil, Bu Yasmin."
"Tentu saja kau ketakutan, aku bisa melihat dari wajahmu."
Edgar tertunduk.
"Baru lima menit saja sudah panik, Lalu bagaiman dengan Satria yang kau pisahkan dengan anaknya dalam jangka waktu yang kita semua bahkan belum tau berapa lamanya. Apa kau pernah memikirkan itu?"
"Apa yang Bu Yasmin bicarakan? Aku tidak mengerti. Pak Satria berpisah dengan anaknya, Itu karena ulahnya sendiri. Jadi tidak ada hubungannya denganku."
"Ada..!" jawab Yasmin cepat.
Edgar terperangah
"Jelas ada hubungannya. Karena kau sudah merencanakan semua ini dengan rapi. Jangan pikir aku tidak tau."
Edgar semakin kaget.
"Kau bingung? Kau mau mengadu pada Bram?"
Edgar bertambah kaget karena Yasmin tau tentang Bram.
"Kau tidak usah kaget, aku tau semuanya..
Hanya saja aku belum memegang buktinya."
Edgar tertunduk semakin dalam.
"Ini belum terlambat, kalau kau mau bekerja sama denganku membebaskan Satria. Kau akan menolong Dio kelak dari kehancuran."
"Kalau kau ingat Dio, ingatlah Rayyan. Mereka masih kecil. Tak sepantasnya ikut menanggung akibat dari permusuhan orang tuanya.
Beram itu sangat licik. Aku yakin kau pasti sudah terjerat ucapan manisnya."
Edgar mendongak.
"Tapi, apakah masih ada jalan saya untuk membenahi semua kesalahan saya?"
"Pasti ada kalau kau mau."
Akhirnya kesepakatan terjadi di antara mereka. Yasmin bahagia karena Edgar berjanji mau memperbaiki semua kesalahannya dengan menolong Satria.
"Pulanglah, dan bersikap seperti biasa agar Bram tidak curiga." pesan Yasmin.
Edgar mengangguk dan berlalu ke mobilnya.
Yasmin menghembuskan nafas lega
"Kebebasan mu adalah hal utama bagiku. Walaupun saat ini aku sudah kehilangan kepercayaan mu..."
__ADS_1