SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 33


__ADS_3

Hari itu Yasmin bersiap untuk mengadakan pertemuan yang kedua kalinya dengan perwakilan dari perusaan Satria.


Sebelum berangkat, ia sudah menitipkan Rayyan pada Dilla.


"Maaf, ya.. Aku terpaksa merepotkan mu lagi."


"Kau jangan hitung hitungan seperti itu, ohya, berkas --berkas penting sudah kau bawa semua? "


Yasmin mengangguk.


Yasmin tiba di tempat pertemuan lebih awal. Ia sangat berharap kerjasama itu akan deal hari ini.


Yasmin mengangkat ponselnya yang berbunyi.


"Maaf, mbak, tempat pertemuannya kami alihkan di hotel dekat mall. Itu permintaan dari CEO perusahaan kami. Dan beliau sendiri yang akan menemui, Mbak."


Yasmin terdiam.


"Tempatnya di alihkan ke hotel? Dasar bos angkuh. Pasti bis mereka orangnya tengil." ucap Yasmin. Ia merasa agak kesal juga dengan pergantian tempat yang tiba-tiba.


"Tau begini, aku tidak cepat-cepat datang kesini." omelnya lagi.


Akhirnya ia memanggil taksi untuk mengantar ketempat yang di maksud.


Yasmin celingukan di lobi hotel itu.


"Yang mana sih orangnya."


Yasmin cepat berbalik kearah tembok saat ada dua orang pria yang bercakap sambil berjalan.


"Apa utusan dari ''YasDesainer'' sudah datang?"


"Kayaknya belum tuh." jawab Bara.


Yasmin menggigit bibirnya.


"Jadi salah satu dari mereka ini adalah CEO perusahaan? kelihatannya sih mereka galak semua." nyali Yasmin hampir saja menciut, tapi saat mendengar Omelan salah satu pria itu ia menjadi kesal.


"Apa utusan mereka wanita?"


"Sepertinya iya.'


  "Karna inilah aku malas berurusan dengan wanita , terlalu ribet." ucap Satria sambil melangkah tergesa.


Hampir saja Yasmin meninju punggung pria itu. Tapi Yasmin tertegun. Ia baru menyadari suara itu seperti begitu familiar di telinganya.


"Siapa dia sebenarnya?"


Yasmin cepat membuka laptop di tangannya.


Seketika wajahnya memucat .


Pemilik perusahaan yang akan di ajaknya bekerja sama adalah Satria.


Yasmin bersandar di tembok.


"Kenapa ia begitu bodohnya, tidak menyelidiki dulu dengan siapa dia akan bekerja sama. Di batalkan sekarang juga sudah tidak mungkin.


Mereka akan curiga kalau dia batalkan secara sepihak.


"Ayo Yasmin, cari akal..!" ia membenturkan keningnya pelan.


Waktu tinggal beberapa menit lagi, mau menghindar juga sudah tidak mungkin lagi. Sedangkan Yasmin tidak mau di kenali oleh Satria.


"Satria semakin tidak sabar, beberapa kali ia melihat jam tangannya.


"Bara, batalkan kerjasama dengan designer itu, aku tidak suka orang yang tidak disiplin dengan waktu!" ucap Satria sembari bangkit dari kursinya.

__ADS_1


Pada saat yang bersamaan muncul seorang wanita yang masuk dengan tergesa.


"Maaf, saya terlambat.." ucapnya ragu.


Satria dan Bara menyaksikan gadis itu dengan seksama dari atas sampai bawah.seorang gadis berkaca mata, dengan poni yang tebal menutupi jidatnya.


Di dagunya terdapat tahi lalat yang cukup besar.


"Anda utusan dari Yasdesigne r?" tanya Satria dengan ragu.


"Ia pak.. Maaf sekali lagi saya terlambat." ucap Yasmin gemetar.


"Apa tidak ada orang lain yang lebih baik yang mereka punya?" gumam Satria sambil mempersilahkan Yasmin Duduk.


Yasmin lebih banyak menunduk. Ia takut bersitatap dengan mata elang milik Satria.


Ia melirik Satria dari balik kaca matanya Dadanya berdebar kencang.


Orang yang selama ini di rindukannya kini tepat berada di hadapannya.


Satria terlihat dingin, seperti tidak ada gairah dalam hidupnya.


"Silahkan duduk..!" Bara mewakili Satria.


"Ah, iya.. Terimakasih." Yasmin mengeluarkan semua berkas yang di bawanya.


"Bar, kau tangani." ujar Satria sambil bangkit dan berdiri di dekat jendela.


Wajahnya terlihat sedikit manis saat tersenyum tipis.


 Mata Yasmin terus mengikuti gerak langkah Satria. Ia begitu terpana melihatnya.


"Tentu saja, Om Bara sudah menyiapkan oleh-oleh pesanan Dio."


"Dimana Oma? Apa? Oma lagi pergi arisan? Terus Dio sama siapa dirumah?"


Dari bahasa ya, Yasmin tau kalau lawan bicaranya adalah anaknya.


Hatinya tiba-tiba pilu mengingat Rayyan yang begitu mendamba seorang ayah di sisinya.


".bak, kita jadi meeting nya?" suara Bara mengagetkan Yasmin.


Iya, maaf saya agak gugup." ucapnya. Lalu ia mulai memperkenalkan usahanya. Yasmin tidak perlu terlalu banyak berbicara, karna tempo hari dia sudah menjelaskan panjang lebar.


"Ok, kita jadi bekerjasama. Kau tinggal datang ke kantor kami untuk menanda tangani kesepakatan kontrak."


Yasmin berkemas untuk pulang. selama ia melakukan meeting dengan Bara. Satria terlihat duduk termenung memandang keluar. Sesekali ia menghela nafas panjang.


Yasmin melewati Satria yang masih asik melamun tanpa perduli dengan keadaan sekitarnya.


"Gadis itu sangat aneh, dia melihatmu terus. Barangkali di naksir padamu."


Ledek Bara setelah Yasmin menghilang dari hadapannya.


Satria hanya tersenyum tipis. Ia tidak merasa heran. Hampir setiap wanita yang bertemu dengannya, tidak ada yang tidak terpesona olehnya. namun Satria tetap acuh. Ia tidak bisa lagi membuka hatinya untuk wanita mana pun setelah kepergian Yasmin.


Di tempat lain. Yasmin menarik wig dari kepalanya.


"Untung saja aku ada ide mendadak." ucapnya sambil mengenang kejadian di mana ia harus memaksa seorang pegawai hotel yang ternyata waria. Dari dialah Yasmin bisa mendapatkan wig dan aksesoris lainnya hingga Satria tidak mengenalinya.


"Keadaan semakin memburuk. Satria... Kenapa kau harus muncul di sini, di saat Rayyan benar - benar merindukanmu." keluh Yasmin sambil menopang dagunya.


Malam harinya, ia menceritakan apa yang di alaminya tadi siang kepada Dilla.


"Rupanya Allah menjawab doa anak kecil seperti Rayyan.. Buktinya di saat ia merindukan papanya, Satria muncul tanpa di rencanakan."


"Tapi aku takut Rayyan akan kecewa. Satria sudah punya anak dari Kirana. Dan kelihatannya dia sangat menyayangi anaknya itu. Bagaiman kalau Satria tidak mau menerima kehadiran Rayyan sebagai anaknya?"

__ADS_1


"Jangan berprasangka buruk dulu, siapa tau justru sebaliknya, dia sangat merindukan Rayyan dan Mamanya." ucap Dilla tersenyum.


Yasmin tersenyum mendengar godaan Dilla.


"Intinya jangan mendahului takdir, kita berusaha dulu dengan segenap kemampuan kita. Sisanya biar Allah yang atur."


Yasmin kagum dengan kebijakan gadis itu.


Esoknya Yasmin harus ke kantor untuk tanda tangan kontrak kerjasama.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa menahan diri saat bertemu Satria lagi..."


"Heh bengong saja pagi -pagi." Dilla menyenggol lengannya.


Suara motor Adam memasuki halaman rumahnya.


"Tuh, papanya Rayyan sudah datang menjemputmu!" ledek Dilla.


Yasmin memandang Dilla, ia tidak suka dengan ledekan temannya itu.


"Yasmin... Ayo kita berangkat!" teriak Adam dari luar.


Suaranya membangunkan Rayyan yang masih tidur.


Bocah itu bangun dan mendekati Adam.


"Halo anak papa yang ganteng..". Ucap Adam dengan ramahnya. Namun Rayyan mundur selangkah


"Ray tidak mau papa kayak Om Adam. Ray mau papa yang gagah kayak yang ketemu di mall itu." ucapnya terus terang.


Akhirnya tidak ada yang bisa membujuk Rayyan. Kecuali memang harus di antar ke mall seperti kemauannya. Rayyan berharap bisa bertemu pria yang di anggapnya papanya.


Yasmin menghembuskan nafas kasar.


'Ini tugasmu Dil.. tolong bawa bos kecil ini ke mall."


Akhirnya Dilla dan Adam membawa Rayyan ke mall lagi.


Sedangkan Yasmin pergi ke kantor Satria untuk tanda tangan kontrak.


Di hotel tempat Satria menginap kebetulan sangat dekat dengan mall.


"Bar, kau pergi ke kantor dan urus pekerjaan di sana."


"Siap! Tapi kau mau kemana?"


"Aku ingin jalan-jalan. Mungkin besok kita sudah harus terbang ke Jakarta."


Bara tidak bertanya lagi.


Adam, Dilla dan Rayyan sudah sampai di mall yang mereka maksud.


Rayyan langsung menuju tempat dimana kemarin ia bertemu pria yang sudah mencuri hatinya.


Adam dan Dilla mengikuti dari belakang.


"Ray, pelan dikit jalannya." keluh Dilla.


Rayyan bisa sedikit anteng saat ada es krim di tangannya.


Asam dan Dilla bisa bernafas lega.


"Rayyan aktif banget, amit-amit deh jangan sampai kelak aku punya anak kayak dia." doa Adam sambil memejamkan matanya.


"Tentu saja jauh berbeda dengan Rayyan. Karna bibitnya juga lain. Kalau ibarat kata, Rayyan itu bibit unggul, selain Mamanya sudah cantik, papanya pasti juga cakep."sedangkan kau?"


Dilla dan Agam tergelak bersama. Mereka sampai tidak tahu kalau Rayyan sudah tidak ada di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2