
Satria meninggalkan rumah Yasmin dengan perasaan mengganjal.
Siapa sebenarnya yang sudah meneror Yasmin? Apa benar Kirana sudah senekat itu?
Satria berencana akan segera memperkenalkan pada publik bahwa Yasmin adalah istri nya yang telah lama menghilang.
Begitupun kepada Mama Lidia. Ia berpikir Mananya pasti senang mendengar kabar itu karna setelah kepergian Yasmin waktu itu, ia sangat menyesal.
Pertama Tama yang di lakukan Satria adalah menginstruksikan pada Bara untuk menjaga Yasmin sekeluarga.
"Jangan sampai mereka kenapa-kenapa! dan satu lagi, usahakan Yasmin atau yang lainnya jangan sampai tau kalau kita sedang mengawasi mereka."
"Siap, Bos!" jawab Bara.
"Oh, ya, Bar... Carikan aku rumah atau apartemen atau apalah yang bisa ku tempati dalam jangka waktu lumayan lama."
Kening Bara mengerut.
"Kau mau mau tinggal disini?"
"Tentu saja, sampai Yasmin dan Rayyan mau ku boyong ke Jakarta." jawab Satria santai.
"Lalu Kirana bagaimana?"
"Bagaimana lagi? Dia harus terima dengan lapang dada. Dari awal dia juga sudah tau kalau aku dan Yasmin suami istri "
"Maksud ku, Dio.. kalau Kirana Ok, lah dia harus mengerti. Tapi Dio? Dia sudah terbiasa kau manjakan, aku khawatir dia tidak bisa menerima kenyataan ini."
Satria terdiam. memang yang jadi beban pikirannya saat ini adalah bagaimana menjelaskan pada Dio, ia sangat menyayangi anak itu. Walaupun dia lahir tanpa di kehendaki, dan dari wanita yang tidak di cintainya, Dio tetaplah anaknya sebagaimana Rayyan.
"Aku akan mencoba bicara dengannya. Dan aku harap, Kirana belum sempat meracuni pikiran anak itu."
"Semoga begitu.."
Ponsel Satria bergetar.
Ia melihat nama Dio disana.
"Yang baru di omongin sudah muncul, Dio ngajak video call..." ucap Satria antusias.
"Iya, Nak... Dio kok belum tidur?"
wajah Satria berubah masam saat yang muncul malah wajah Kirana.
"Dio sudah tidur, aku sengaja memakai nomor nya, kalau punyaku, kau pasti tidak mau angkat."
"Kalau sudah tau seperti itu, kenapa kau masih nekat menelpon ku?" Satria acuh.
"Aku hanya ingin tau kau dimana?"
"Kau terlalu norak, aku masih ada kerjaan!" Satria langsung menutup telponnya.
Bara tersenyum kecil melihat Bosnya uring-uringan.
__ADS_1
"Aku heran, kau sudah memperlakukannya seperti itu, tapi dia masih tetap saja perhatian, dan mengharapkan mu. Apa tidak terpikir sedikit saja untuk memberi ya kesempatan?" goda Bara.
Wajah Satria terlihat garang menatapnya.
"Kau mau? dekati saja, siapa tau dia bisa melupakan ambisinya terhadapku!" ucap Satria dengan kesal.
"Bukan itu maksudku bro...! Gini-gini tipe ku juga bukan seperti Kiran. Aku hanya merasa heran saja, dia cantik, kaya, Apa sih yang dia tidak punya? Atau penyebabnya dia kurang bergaul kali, ya?"
"Jangan bahas dia lagi, malas aku!" sergah Satria. walaupun ucapannya galak, tapi ada sedikit senyum tersembunyi di ujung bibirnya.
"Kalau begitu kita bahas Yasmin saja, gimana?"
Senyum Satria langsung melebar.
"Itu lebih menarik kayaknya... Tapi tidak usah,! Ngapain aku harus ngebahas tentang istriku dengan mu?"
"Ya.. elah Bos, segitunya sama belahan hati." ledek Bara. Bagaimanapun, Bara merasa senang melihat senyum lepas dari Satria. Sudah begitu lama pria itu tenggelam dalam kesedihan yang tak berujung. Menyaksikan kebahagiaan Satria, hatinya ikut lega.
Walaupun hubungan mereka Bos dan bawahan di kantor, tapi di luar kantor, Bara adalah sahabat sejatinya. Hanya dengan Bara lah Satria bisa berbagi suka dukanya selama ini. Tak heran pula kalau Bara sangat tau tentang kehidupan Satria.
"Lalu, apakah Yasmin sudah bisa menerimamu, Sat?
Satria menghela nafas berat.
"Kayaknya agak sulit, Bar. egonya sangat tinggi.
Tapi aku yakin dia juga punya perasaan yang sama dengan ku, tapi begitulah... dia minta aku menjauhinya, alasannya aku akan membahayakan nyawa Rayyan."
Pagi harinya, Rayyan yang tidak mendapati Satria di rumahnya menjadi rewel.
"Ray, kenapa harus sama Papa? Sama Om Adam juga asik kok..." bujuk Adam.
"Benar kata Om Adam, dia mau kok jadi teman main Rayyan. Mau main apa? Kuda-kudaan, perangan juga dia bisa." kata Yasmin membujuknya.
Yasmin tidak perduli pada Adam yang melotot ke arahnya.
"Ayo, Ray kita main, tapi jangan yang aneh-aneh, ya?" ucap Adam memperingatkan.
Rayyan mengangguk. Pertama ia mengajak Adam main kuda-kudaan, setelah itu main perang-perangan. Dan sialnya, Rayyan menyerang Adam dengan gagang sapu.
dan Adam sama sekali tidak boleh menghindar ataupun membalas.
"Ayo, Om!" teriak Rayyan yang melihat Adam berhenti sejenak untuk minum.
"Yas, tolongin aku, cariin kek permainan yang lebih kreatif, ini sih nyiksa batin namanya..!" omel Adam yang di sambut tawa oleh Dilla.
"Kau pikir aku bisa mengendalikan Rayyan. semenjak ketemu papanya, dia susah mendengarkan aku. Cuma Satria yang bisa menolongmu.," goda Yasmin.
"Ogah! Sampai kapanpun, aku tidak akan minta bantuan padanya, harga diriku mau di bawa kemana ? Aku mau bersaing secara sehat, walaupun terpaksa tubuhku babak belur oleh Rayyan." ucapnya dan berlari karna Rayyan sudah memanggilnya.
"Makan tuh cinta...! ledek Dilla lagi.
"Tapi kasian juga Adam, Dil. Tapi memang hanya Satria yang bisa mengendalikan Rayyan.
__ADS_1
Di tengah kebingungan mereka, sosok pria jangkung yang tampan itu muncul sambil bersiul kecil.
"Pangeran mu datang, Yas..!" gumam Dilla sambil menatap Satria tanpa kedip.
"Pangeran, pangeran!" Yasmin mengusap wajah Dilla hingga gadis itu tergagap.
Satria langsung masuk.
"Aku tidak di persilahkan masuk, nih?"
Tanya Satria saat melihat kedua wanita itu di tengah pintu.
Sontak Yasmin dan Dilla menyingkir.
"Silahkan, pak..!" ucap Dilla cengengesan.
"Kau tidak menyuruhku masuk juga?" bisiknya di telinga Yasmin saat melewatinya.
Tanpa menunggu jawaban dar Yasmin, dia sudah menuju kamar Rayyan.
Rayyan yang melihat Satria langsung berlari dan melompat kedalam pangkuan pria itu.
Satria menggosokkan hidungnya di hidung anak kecil itu dengan gemasnya.
Yasmin hanya memandang dari kejauhan.
"Sungguh cinta antara seorang ayah dan anaknya, walaupun terpisah jarak dan waktu tidak mengurangi cinta mereka." Yasmin membatin sendiri. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri.
"Dar!!" hayo ngaku, lagi ngelamunin apa?"
suara Dilla mengagetkannya.
Belum sempat Yasmin menjawab, mereka terpingkal saat melihat Adam datang dengan wajah yang sudah tidak berbentuk.
Rambut acak acakan, wajahnya di penuhi coretan tinta.
"Yasmin, kau harus tanggung jawab. lihat perbuatan Rayyan! Ini benar-benar penyiksaan. Pelanggaran ham!" pekik Adam sewot.
"Dan jangan lupa berterimakasih padaku, karena kedatangan ku, Rayyan bisa lepas darimu!" ujar Satria tambah meledeknya.
"Tuh, kan. Setelah datang papanya, dan setelah puas menyiksaku, dia membuang ku begitu saja." ucap Adam geram.
Rayyan hanya tersenyum sambil memeluk manja leher Satria.
"Awas kau bocil...!" ujar Adam lagi. Rayyan hanya tertawa sambil menjulurkan lidahnya.
Tapi semuanya tau kalau Adam tidak benar-benar marah. Rayyan begitu dekat dengannya bahkan sedari masih orok, Adam sudah bersamanya.
"Sumpah, aku kewalahan menghadapi Rayyan saat ini, semenjak dia mengenalmu, dia tidak mau mendengarkan ku." keluh Yasmin.
"Karna itu, tinggallah bersamaku, kita bisa awasi Rayyan sama-sama. Dia sangat membutuhkan kasih sayangmu, tapi dia juga membutuhkan sosok pelindung seperti aku. Semua harus sejalan." ucap Satria hati-hati. Ia sadar, luka yang Yasmin alami tidak gampang di sembuhkan hanya dengan kata cinta semata. dia harus kembali merebut hati wanita itu dengan perhatian dan ketulusannya.
..
__ADS_1