SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 25


__ADS_3

"Ma, Bagaimana keadaan Yasmin sekarang?"


"Dia mengidap penyakit aneh, di lehernya timbul bercak merah, itu katanya biasa kalau dia lagi kurang enak badan.


"Mama sudah sarankan untuk ke spesialis, tapi dia belum mau pergi. sekarang saja masih tidur pulas."


 Satria tidak bertanya lebih detail lagi. Ia takut Mamanya akan curiga.


"Sat, ajaklah Kirana pindah kesini. Rumah kita akan lebih semarak lagi." pinta Bu Lidia.


"Untuk sementara biar saja dulu, Ma. Toh Mama juga tidak kesepian lagi karna ada Yasmin." sanggah Satria.


 Bu Lidia terdiam.


"Aku pulang dulu, Ma. Sudah agak malam juga." ucap Satria bangkit.


"Terimakasih, sayang.. kau sudah mau sering datang kesini." Bu Lidia mengelus rambut putranya. Ia sampai menangis karena terharu.


"Mama tidak usah sedih lagi, aku akan tetap berada di samping Mama."


Satria melangkah ringan menuju motornya yang terparkir.


"Pak Wawan..!" seorang pria paro baya datang tergopoh.


"Seperti kemarin malam." ucapnya sambil melenggang pergi.


Ia menitipkan motornya ke satpam di rumah Mamanya.


Dengan kerjasama yang baik antara dia dan pak Wawan, kini sudah ada tangga persis di bawah jendela kamar Yasmin.


"Tok tok tok..!"


Yasmin yang sudah tau itu adalah Satria, ia segera membuka jendelanya.


"Kata Mama kau masih tidur."


"Pura-pura tidur. Aku tidak mau Mama bertanya yang macam-macam tentang keadaanku ."


Satria memegang leher Yasmin dan mengamati tanda merah hasil karyanya.


"Tidak apa-apa."


Ia tersenyum tipis dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Oh, ya.. Kamar mu di sebelah mana?"


"Di depan langsung menghadap ke halaman."


"Pastinya paling mewah dari yang yang lainnya."


"Tentu saja, tapi aku lebih nyaman di kamarku yang sederhana di rumah sana." ucap Satria sambil membuka sepatunya.


Yasmin meraih handuk dan pergi ke kamar mandi.


"Aku mau mandi dulu. Gerah seharian harus berakting sakit, pake jaket siang-siang segala lagi."


Yasmin meninggalkan Satria ke kamar mandi.


Satria hanya tersenyum. setelah beberapa saat menunggu, timbul idenya.


"Yasmin.., buka pintunya!"


Yasmin terkesiap. Ia menyambar handuknya


"Tapi aku belum selesai mandi." jawabnya pelan.


"Buka saja sebentar..!" perintah Satria tegas.


Sambil memegangi handuknya Yasmin membuka pintu.


"Aku juga mau mandi sekalian.."


Tanpa memperdulikan Yasmin yang masih tercengang, Satria sudah masuk ke dalam bath up

__ADS_1


"Ayo!" Satria menarik tangan Yasmin yang masih berdiri mematung.


Tidak tau siapa yang memulai, tiba-tiba mereka sudah terlibat dalam ciuman panas penuh sensasi.


"Gimana? Sensasinya beda, kan?" goda Satria sambil memandang wajah Yasmin yang terlihat menggoda dengan rambut setengah basahnya.


"Kita sudah melakukan hal sampai sejauh ini, kau tidak akan meninggalkan aku, kan?"


Tanya Yasmin sambil merebahkan kepalanya di dada Satria.


"Tidak akan, aku pantang menyentuh wanita.


Aku berani menyentuhmu bahkan melakukan hal sampai sejauh ini karna aku yakin kau adalah jodohku." jawab Satria mantap.


Yasmin mendongak, ia menatap wajah Satria sambil tersenyum.


"Aku sangat beruntung menjadi pilihanmu."


"Aku juga berharap kau bisa menjaga kepercayaan ku. dengar, aku tidak suka melihatmu dekat dekat dengan Om Bram."


"Kenapa kau benci sekali padanya?"


"Dia pernah melecehkan Mama. Padahal saat itu papa masih hidup. Sejak saat itu aku jijik melihat wajahnya. Bukannya sadar Karena di tolak Mama, dia malah semakin berulah. Dia berusaha merebut semua aset dan properti milik kami."


"Aku tidak mentolerir kalau sampai melihat mu dekat lagi dengannya..." wajah Satria terlihat tegas.


Satria bergegas memakai pakaiannya.


"Sudah jam sembilan, aku harus segera pulang."


"Sat..." Yasmin memanggilnya pelan.


Saat ia menoleh, Yasmin berjinjit dan menciumnya.


"I love you...!"


Satria tersenyum tipis. Lalu keluar dan turun lewat tangga.


 Sore yang cerah. Yasmin bersiap-siap hendak ke kafe saat panggilan dari Satria menarik perhatiannya.


"Kenapa lama sekali ngangkat ponselnya?" suara Satria terdengar kecewa.


"Aku sedang di luar kamar. Jadi tidak bisa bebas bicara lewat telpon." jawabnya beralasan.


"Ya, sudah. Aku cuma mau memberitahumu kalau aku sudah membeli sesuatu untukmu."


"Benarkah?"


"Iya, nanti aku kirim gambarnya. Aku tidak pandai di bidang pilih memilih hadiah untuk wanita. tapi kali ini mudahan kau suka."


"Makasi, ya sayang...!" ucap Yasmin kegirangan.


"Gitu, dong. Mesra dikit sama suami." ujar Satria dengan wajah datarnya.


Dengan tak sabar Yasmin melihat photo hadiah dari suaminya.


"Wiih.. Keren banget, ternyata seleranya lumayan juga." ucap Yasmin sambil cengengesan.


Sebuah cincin dengan desain elegan yang sangat cantik. Satria juga bilang kalau di baliknya tertera inisial namanya.


Lalu dia membalas pesan Satria itu dengan emoj jantung yang sangat banyak.


Sore itu ia merasa benar-benar bahagia.


Di ruang tengah ia berpapasan dengan Bu Lidia.


"Kebetulan, Mama mau menemui mu,


malam ini ulang tahun Kirana, Mama sudah menyiapkan Kejutan untuknya, kau bisa pulang cepat malam ini?"


Kirana ulang tahun? Yasmin benar-benar tidak mengetahuinya.


"Yasmin, kau bisa pulang lebih awal, kan? kalau kau tidak ada, dia pasti akan kecewa."

__ADS_1


"Aku usahain, Ma." jawab Yasmin akhirnya.


Ia mengawasi Bu Lidia yang terlihat bersemangat menyiapkan kejutan untuk menantunya.


"Seandainya Mama tau kalau aku lah menantu yang sebenarnya, , apakah Mama masih sesemangat ini, Ma?" batin Yasmin.


Ia melangkah gontai meninggalkan rumah besar itu.


Di kantornya, Satria sedang memeriksa beberapa berkas yang tercecer di depannya.


Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Satrio, nanti sore kamu harus datang. Jangan lupa ajak istrimu, Mama sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untuk nya." suara Bu Lidia di ujung sambungan membuat


Satria terkejut,


"Ulang tahun istriku? Maksud Mama Kirana ulang tahun?" tanyanya kurang yakin.


"Ya, iyalah Kirana, masa Yasmin? Memang istri mu siapa lagi?" semprot Bu Lidia dari sebrang.


"Iya, Ma." telpon terputus.


"Kirana ulang tahun? Dia tidak pernah bilang, dan akupun tidak pernah bertanya." Satria menggaruk kepalanya.


Satria bingung harus memberi kado apa pada Kirana.


Ia terlihat bicara di telpon, sejurus kemudian Bara sudah berdiri di depannya.


'Ada yang bisa aku bantu?" tanya Bara dengan siaga.


"Kirana ulang tahun nanti malam, tolong siapkan kado untuknya!"


"Okey, tapi yang berbentuk apa kira-kira?" Bara berbalik lagi.


"Kalau aku tau, aku tidak minta tolong dirimu!"


Sergah Satria.


Bara keluar dari ruangannya dengan nafas lega.


Satria mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.


Ia menimang cincin di tangan nya.


"Mudahan Yasmin menyukainya."


Satria kembali memasukkan kotak cincin itu ke sakunya.


Ia tak sabar menunggu malam karna ingin segera memberi hadiah buat Yasmin.


Waktu yang di tunggunya pun tiba .


Dengan bersiul kecil ia pulang kerumahnya.


Satria memutuskan pulang mandi sekalian menjemput Kirana.


"Bersiaplah, Mama mengundang kita untuk makan malam."


"Makan malam? Yang benar, Sat?"


Kirana begitu gembira hingga tak sadar langsung memeluk Satria.


,"Maaf..!" ucapnya tersipu.


Satria tersenyum padanya.


"Tida apa-apa."


Kirana berlari ke kamarnya.


Ia mematut diri di depan cermin. Ia merasa sempurna. Namun ia merasa sedih karna tidak ada yang mengucapkan selamat padanya.


"Peduli amat. yang penting aku senang malam ini."

__ADS_1


"Yasmin Yasmin.... kasian sekali nasibmu, sudah tersisihkan harus merana karna tinggal bersama Mama." gumamnya sendiri.


💞Dengan susah payah akhirnya kelar juga walaupun sangat telat🙏🙏


__ADS_2