
"Selamat datang di tempat yang tepat sayang.. " sambut Br pada Yasmin yang datang di kantornya siang itu.
"Terima kasih, Om. Aku datang untuk membicarakan kesepakatan kerjasama kita." ucap Yasmin serius.
"Masalah itu gampang, anggap saja semuanya sudah deal sesuai keinginanmu...
sebaiknya kita rayakan kerjasama kita kali ini."
Bram menepuk tangannya duka kali. Dan beberapa pelayan datang membawa makanan beraneka ragam.
Yasmin menatap tidak percaya pada Bram.
"Tidak usah heran, kita baru saja bertemu lagi setelah sekian lama berpisah, bukankah itu perlu di rayakan?"
"Tapi aku datang kesini membicarakan masalah pekerjaan, bukan untuk makan."
"Tentu saja, tapi sebelumnya tidak ada salahnya juga kita makan dulu. Karna Om pikir kau tidak akan mau Im ajak makan di luar. Karena itu makanannya saja yang di pesan kesini." ucap Bram sambil mengulurkan setangkai mawar merah.
Yasmin tertegun. Ia merasa tak tega mengabaikan segala usaha Bram menyenangkan hatinya.
Ia menerima mawar itu dengan mengucapkan berterimakasih.
Bram begitu bahagia dengan sikap Yasmin yang agak melunak.
"Bagaimana keadaan putramu?"
"Baik, Om. cuma saja, dia belum bisa melupakan papanya."
"Tenang, lama-lama dia akan melupakannya."
Yasmin mengangguk setuju.
"Karena kita sudah makan dan lain sebagainya. Sepertinya kita harus segera membicarakan tentang tujuan utamaku kesini."
"Ok, boleh." Bram membaca menerima beberapa berkas yang di bawa Yasmin.
Tanpa membacanya, dia langsung bilang,
"Tawaranmu pasti menarik, aku tidak perlu membacanya.. dan ini draft kontrak kerjasama nya. silahkan kau baca dan tanda tangan.." ucap Bram dengan santai.
"Yasmin membacanya... Lalu dia hendak tangan. Namun tiba-tiba dia mengurungkan niatnya.
"Kenapa?" Bram merasa heran.
"Apa ada yang salah disitu?"
Yasmin menggeleng.
"Setelah ku pikir - pikir. kita terlalu buru-buru, Om. Lain kali saja aku tanda tangan. Dan kayaknya aku harus segera pulang. Terima kasih atas jamuan dan bunganya." ucap Yasmin sembari bangkit dari duduknya.
Bram berusaha tersenyum walau merasa kecewa.
"Kenapa kau tidak jadi tanda tangan, takut kalau aku curang?"
"Tidak, cuman aku merasa aku mendapatkan kontrak ini karena belas kasihan mu, bukan karet kemampuan atau dedikasiku."
Bram terdiam. Ia baru sadar kalau Yasmin tidak bisa dianggap remeh. Dia begitu cerdas membaca situasi. Bram semakin kagum padanya.
Sementara itu , Satria mendatangi Yasmin di kamarnya.
"Ada apa Sat? tumben kau mau ke kamarku?"
Hati Kirana begitu gembira, ia mengira Satria sudah berubah pikiran.
"Aku hanya ingin memberikan ini. Terserah mau datang atau tidak. Tapi saranku datanglah kalau tidak ingin berlarut -larut."
__ADS_1
Kirana membuka perlahan surat itu dari pengadilan itu.
"Sidang pertama guratan cerai?"
Satria mengangguk
"Kau jahat! Aku tidak mau bercerai. Kau tidak punya hati, setelah lima tahun lebih aku bersabar, justru ini yang kau berikan padaku?"
Kirana memukuli dada Satria.
"Aku yakin kau sudah tau kalau ini lah akhir dari penantianmu. Cuma saja kau membutakan matamu untuk melihat kenyataan."
Kirana menatap Satria dengan penuh kebencian, benar kata pepatah, bahwa antara benci dan cinta itu sangat bedanya sangat tipis. Itulah yang di rasakan Kirana saat ini. Ia terlanjur sakit hati karena Satria.
Pria itu meninggalkan kamar Kirana dengan langkah ringan.
Sedang Kirana memandangi punggung yang tegap itu dengan amarah yang menyala.
"Aku tidak mau hancur sendirian.. Kau juga harus ikut merasakan perihnya di tinggalkan orang yang kau sayangi..."
Satria menggebrak meja saat mendengar kabar kalau Bram sudah muncul dan terlihat bersama Yasmin di suatu tempat.
Ia begitu marah sampai tidak menyadari Kirana sedang mengawasinya.
"Rupanya ini sebabnya dia ingin pergi dariku dan menuduhku yang tidak-tidak. Dasar pria tua bangka, dia masih saja terobsesi dengan Yasmin." Satria menggeram kesal.
"Terus mata matai dia...!" perintahnya pada Bara
***
Pagi itu Rayyan di antar Dilla kesekolah, berhubung Yasmin ada keperluan yang tidak bisa di tinggalkannya.
"Hanya sampai jam delapan, nanti biar aku yang menjemputnya, Dil."
"Beres.." jawab Dilla.
Dilla mengantar Rayyan dengan motornya.
Sambil bernyanyinya kecil mereka menyusuri jalanan yang belum terlalu ramai.
Tiba-tiba saja sebuah mobil melaju kencang dari arah yang berlawanan dan sengaja menyerempet motor Dilla.
Dilla yang gugup akhirnya tidak sempat menyelamatkan diri.
Mereka terpental ke aspal. Mobil itu terus lari memperdulikan keadaan korbannya.
Di tengah kesadarannya, Dilla masih bisa melihat plat mobil yang menabraknya itu. Dengan bersimbah fay dia meraih Rayyan yang ikut pingsan dengan wajah di penuhi cairan merah.
"Ray.. Bangun..!" orang-orang mulai ramai. Jalanan menjadi macet oleh kerumunan.
Satria yang juga kebetulan lewat di jalan itu ikut mencari tau. Dia langsung merangkul Rayyan dalam pelukannya. ia tidak perduli jas mahalnya yang ikut berlumuran darah.
Ia menerobos kerumunan sambil membawa tubuh anaknya ke mobil.
"Tolong naikkan korban yang satunya ke mobil saya.!"
"Ray, yang kuat, Nak.. Ini papa.". Satria terus mengajak Rayyan bicara sambil memegang tangan Rayyan dengan sebelah tangannya.
Sampai dirumah sakit. Rayyan dan Dilla langsung mendapat perawatan.
Satria duduk lemas sambil menunduk menatap lantai rumah sakit.
Pakaiannya masih berantakan berlumuran darah.
Ia mendongak saat melihat Yasmin datang dan menangis histeris.
__ADS_1
"Rayyan.. Dilla Sat, mereka tidak akan kenapa-kenapa, kan?" ucapnya dengan dada terguncang menahan tangis.
Satria tidak bisa bicara. ia menarik Yasmin dan mendekapnya dalam dadanya.
"Mereka harus selamat! Rayyan tidak boleh kenapa -napa.." isaknya lagi.
Satria semakin erat mendekapnya.
"Mereka akan baik-baik saja. Anak kita pasti selamat.." ucap Satria dengan mata ikut basah.
Untuk sementara, Yasmin melupakan pertikaiannya dengan Satria.
Mereka duduk saling diam di kursi di depan ruang ICU.
Ponsel Satria berdering.
"Sat, pulanglah.. Dio kecelakaan, dia dirumah sakit sekarang." suara Kirana sambil menangis.
"Tapi disini Rayyan juga sedang kritis."
"Terserah kau saja. Tapi jangan sampai kau menyesal kalau terjadi sesuatu pada Dio!" Kirana memutuskan panggilannya.
Satria begitu bingung. kenapa harus terjadi berbarengan? Bagaimana dia harus membagi dirinya menjadi dua.
Ia tidak mungkin meninggalkan Rayyan yang masih kritis. Tapi dia tidak mungkin mengabaikan Dio yang juga putranya.
Yasmin menatapnya. Ia melihat wajah Satria yang terlihat bingung dan cemas.
"Dio juga kecelakaan. Kirana minta aku datang.." ucapnya lirih sambil menyeka air mata. Ia di hadapkan pada dua pilihan yang sama sulitnya.
"Pergilah.. Mungkin dia membutuhkanmu disana." ucap Yasmin dingin.
"Tapi Rayyan juga membutuhkan aku disini." ucapnya bimbang.
"Pergilah, Pak Satria. Biar saya yang menemani Yasmin disini." Adam sudah ada disana.
Satria menatap Yasmin sendu.
Yasmin mengerti keadaan Satria. Dia mengangguk padanya.
Dengan berat hati Satria bangkit, sebelum pergi dia melihat pintu yang masih tertutup rapat.
"Tolong bilang pada Rayyan bahwa aku sayang padanya.." ia mengusap air mata mata dengan lengan bajunya yang Kumal bekas ceceran darah.
Satria melangkah dengan berat hati.
Sampai di jakarta, dia langsung menuju rumah sakit dimana Dio di rawat.
"Bagaimana kejadiannya?" Satria langsung menghampiri Kirana yang sudah menunggunya."
Dio terlihat di perban dari ujung kaki sampai kepalanya, yang terlihat hanyalah kedua matanya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Satria gusar.
"Dio sedang bermain bersama temannya saat sebuah motor melaju dan menabraknya."
Satria tertunduk lesu.
"Mau kemana?" tanya Kirana khawatir.
"Aku mau menemui dokter, aku ingin tau keadaan Dio yang sebenarnya.
"Tidak usah, Dokter nya sedang keluar. Nanti saja, ya!" bujuk Kirana lagi.
Satria mencoba menghubungi Yasmin dan bertanya apakah Rayyan sudah bangun atau belum. Ia semakin khawatir saat tau bahwa Rayyan belum sadar juga.
__ADS_1
Maaf ya say telat up nya. Ada gangguan Jaringan🙏🙏
.