SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 12


__ADS_3

Karna merasa putus asa, Yasmin kembali ke club, menenggelamkan diri dalam suasana hingar bingar.


Ia kembali mabuk, dan kembali lagi di bawa oleh Bram ke tempatnya.


Namun esoknya ia juga kembali keluar dari sana dengan perasaan benci kepada Bram.


Yasmin memutuskan akan menemui Kirana.


"Kau pasti bertanya-tanya dengan maksud ku mengundangmu kesini." ucap Yasmin saat mereka sudah duduk berhadapan di sebuah kafe.


Kirana tidak menjawabnya.


"Aku mau langsung saja pada pokok pembicaraannya, aku tidak mau bertele-tele."


Kata Yasmin lagi.


Kiran Hanya terdiam.


"Aku ingin mengembalikan ini...!" Yasmin meletakkan beberapa surat surat di atas meja, termasuk surat perjanjian mereka.


Kirana tertegun.


"Maksudmu apa?"


"Aku sangat tersiksa, kau memang benar. Kalau harta kekayaan tidak menjamin kebahagiaan." ucap Yasmin sedih.


"Aku mau mengembalikan semuanya padamu." ucap Yasmin lagi.


"Aku tidak bisa menerimanya kembali karna kita sudah terikat perjanjian." jawab Kiran sambil mendorong kembali surat dokumen diatas meja.


'Aku tidak membutuhkannya, aku sangat menderita karna harta ini aku harus kehilangan seorang sahabat yang baik seperti Satria. Aku telah membuatnya membenci ku." Yasmin mulai meneteskan airmata.


"Aku tidak bisa, bukan kah kita sudah mengadakan perjanjian?" sergah Kiran.


"Aku tau, tapi bermurah hati lah sedikit, kembalikan Satria padaku!" rintih Yasmin.


Kirana berkeras menolak permintaan Yasmin.


"Aku sudah menyuruh mu memikirkannya baik-baik saat itu, aku tidak mengambilnya secara paksa, tapi kau sendiri yang menyerahkannya dengan suka rela.." ucap Kiran membela diri.


Yasmin menatapnya dengan tatapan memohon.


"Intinya, aku tidak bisa memberikan sesuatu yang sudah jadi milikku kepada orang lain." ucap Kiran kukuh.


Yasmin kembali dengan tangan hampa, harapannya agar Kiran mau mengembalikan keadaan seperti semula pupus sudah.


Kirana begitu menikmati kehidupannya sekarang. Walaupun Satria belum bisa menerima dirinya seutuhnya, ia selalu berharap dan berharap agar suatu saat Satria bisa menerimanya.


Yasmin yang merasa putus asa akhirnya menerima tawaran Bram.


"Aku senang kau kembali kesini, memang inilah pilihan terbaik buatmu." ucap Bram tersenyum gembira .


Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia hitam, sebenarnya hidupnya sudah di kelilingi banyak wanita. Karenanya tidak sulit baginya untuk mendapatkan seorang pendamping, tapi kenyataannya, hidupnya tetap sunyi walau di tengah gemerlap kehidupannya.


Sampai ia melihat Yasmin. Ia melihat ada sesuatu yang berbeda pada gadis itu.


Karna itulah dia berusaha mengikat Yasmin dengan caranya sendiri.


Di awal, Yasmin berkeras menolaknya.


Namun akhirnya ia bersyukur karena gadis itu kembali dengan sendirinya.


"Jangan Om kira aku kembali karna aku suka atau karna ancaman Om Bram itu." ucapnya dengan nada menantang.

__ADS_1


Bram hanya tersenyum mendengar ucapan Yasmin.


"Om tidak perduli apapun alasanmu itu, tapi nyatanya kau kembali lagi kesini tanpa Om minta, iya, kan?"


Yasmin hanya tersenyum kecut.


Ia mengamati pria dewasa itu dengan seksama. Di usianya yang sudah menginjak kepala empat, seharusnya dia sudah punya anak remaja. Tapi pria itu masih terlihat tampan dan berwibawa. Pakaiannya yang selalu rapi, rambutnya yang selalu klimis menambah kesan macho nya.


"Kenapa? Kau memandang Om seperti itu,?"


Yasmin merasa malu karna kepergok sedang memperhatikan pria itu.


"Usia boleh tua, tapi penampilan tidak akan kalah oleh pemuda dua puluh lima tahun, bukan?" ucap Bram sambil tersenyum kecil.


Yasmin membuang muka.


"Besok kau harus ikut Om ke kantor.


Ujar Bram dengan tegas. Ia lebih cenderung memerintah ketimbang bertanya pada Yasmin.


Yasmin sudah tidak perduli, apapun alasan Bram di balik semua itu, Yasmin tidak perduli.


Ia merasa hidupnya sudah berguna lagi saat Satria tidak menganggapnya lagi.


Keesokan harinya...


Yasmin di panggil oleh seorang mbak-mbak yang mungkin sebaya dengan dirinya.


'Nona di tunggu oleh tuan di meja makan." ucapnya hormat.


"Terimakasih, mbak. Aku akan segera turun.' jawab Yasmin.


Gadis itu berlalu dengan masih menunduk.


Saat Yasmin turun untuk sarapan, di lihatnya pria sedang menunggunya.


Ia sama sekali belum menyentuh makanan yang beraneka ragam di depannya.


"Silahkan..!" ucapnya sambil menarik kursi untuk Yasmin.


Yasmin hanya sarapan sedikit, setelah itu ia di minta bersiap untuk ikut Bram ke kantornya.


Entah kenapa, Yasmin mulai simpatik dengan pria dewasa itu.


Ia menurut saja saat pria itu menggandengnya di depan banyak pasang mata yang memperlihatkan nya.


Semua tampak hormat dan segan pada Bram.


"Inilah kantor ku, kau bisa datang kapan saja kesini, Om jamin semua yang ada di sini akan menghormati mu."


Yasmin mengangguk-angguk.


"Aku mau ke toilet sebentar, boleh?" tanya Yasmin.


"Tentu..!"


hanya dengan satu isyarat, seorang wanita datang mendekati Yasmin dan mengantarnya ke toilet.


Saat Yasmin ke toilet, seorang gadis berparas cantik mendatangi Bram.


"Om, kenapa kau membuang ku setelah ada gadis itu?" ucap ya memohon tak berdaya.


"Om, jangan campakkan aku!" pintanya dengan memelas.

__ADS_1


Bram hanya terdiam sambil menghisap rokoknya.


"Om, aku janji, tidak akan menuntut apa-apa asal Om tidak membuang ku!"


Yasmin datang dan sempat mendengar percakapan mereka.


"Aku sudah tidak membutuhkan mu, dulu kau yang mengemis padaku agar aku mau menerima mu, jadi aku juga bisa menendang mu kapan pun aku mau."


"Tidak, tidak.. lepaskan aku! Om tolong aku.'


Wanita itu terus berteriak dan meronta saat dia orang pria kekar memaksanya keluar dari ruangan Bram.


Yasmin kebetulan berada di depan pintu


Wanita itu memandang Yasmin dengan sinis.


"Kau boleh bangga dengan kecantikan dan usia muda mu, tapi akan ada saatnya pula kau akan di tendang Om Bram seperti diriku, cam, kan itu,!"


Yasmin memandang tak mengerti dengan ucapan wanita itu.


"Mbak, boleh aku tau, maksud dari ucapan wanita tadi?" tanya Yasmin heran.


Gadis yang bertugas mengantarnya tadi hanya menggeleng.


"Maaf, Nona.. saya tidak punya wewenang untuk bicara soal itu. Hanya tuan besar yang berhak bicara." ucapnya dengan segan.


Yasmin semakin tak mengerti.


Ia mengurungkan niatnya saat mendengar percakapan dari dalam ruangan Bram.


"Kalau tidak menurut, habisi saja,,!"


Yasmin. tercekat.


Ia masih ingat dengan suara itu. Itu adalah suara Om Bram.


Lalu siapa yang di maksud untuk di habisi bila tidak menurut? apakah aku? Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya.


Yasmin terus mencuri dengar percakapan Bram dengan anak buahnya.


Sampai tak sengaja ia menginjak sesuatu dan menimbulkan suara.


Semua menoleh padanya.


'Yasmin...?" tanya Bram heran.


Dua orang pria lawan bicara dari Bram langsung waspada. Mereka mengeluarkan senjata dan mengarahkan pada Yasmin.


"Tenang.. Dia biar aku yang urus, kalian kerjakan saja sesuai rencana tadi."


"Baik, Bos. Kami permisi."


Setelah Kedua orang itu pergi.


Bram mendekatinya.


"Kau kaget? inilah bisnis yang aku geluti. Sangat dekat dengan Kematian, aku ingin kau tau, biar tidak terkejut di suatu hari nanti."


"Lalu apa hubungannya dengan ku?"


"Kau harus tau pekerjaan yang di geluti oleh calon partner hidup mu."


Yasmin membuang muka, ia berpikir kenapa harus terjebak di tempat ini dengan orang sakit jiwa pula.

__ADS_1


..


__ADS_2