SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 27


__ADS_3

Kirana termenung di salah satu kamar yang di siapkan untuknya.


"Aku tidak mau bercerai dengan Satria. Kalau ada yang harus mengalah, itu adalah Yasmin. Aku bisa melakukan apapun dengan kekuasaan yang aku miliki."


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarnya


"Kenapa kau ada disini? acara makan-makan akan di mulai, tidak lengkap rasanya kalau kau tidak hadir." kata Bu Lidia.


Kirana menata hatinya.


"Baik, Ma. Aku segera turun."


"Mama tunggu!"


Bu Lidia meninggalkan kamar Kirana.


Semua sudah siap di meja makan panjang itu, termasuk Yasmin dan Satria.


Kirana datang dengan anggunnya.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu " ucapnya tersenyum.


"Tidak apa sayang.. Ayo duduk dekat suamimu."


Kirana duduk di dekat Satria.


Kirana melirik Yasmin yang tertunduk jesu.


Timbul niat jahatnya untuk menjatuhkan Yasmin.


Kirana sengaja menumpahkan minuman di meja.


Semua mata memandang kearahnya.


"Maaf, mungkin aku terlalu gugup karena kejutan yang Mama kasi. Yasmin, aku bisa minta tolong ambilkan lap?" ucapnya enteng.


Bu Lidia dan Satria serentak memandang Kirana. Padahal ada pembantu yang siap melayani mereka.


"Eeh boleh." jawab Yasmin seraya bangkit.


Satria benar'-benar merasa jengkel pada Kirana. Ia sengaja hendak mempermalukan Yasmin di depan teman-teman Mamanya.


"Kenapa harus Yasmin, ada banyak ART di sini yang akan melakukannya." kata Bu Lidia menyuruh Yasmin kembali duduk.


"Tidak apa, Ma. Aku biasa bekerja, lagian aku sudah menganggap ini rumah sendiri, apa hina nya melakukan pekerjaan di rumah sendiri ?" jawaban Yasmin sangat berkelas.


membuat Kirana membuang muka.


"Mama? sekarang dia berani memanggil Mama." Kirana bertambah geram.


"Benar kata Yasmin, orang akan terlihat hina kalau melakukan sesuatu untuk orang lain atau rumah orang lain." Satria ikut bersuara.


Acara makan malam itu berlangsung kaku. Kirana merasa muak, ia ingin segera minggat dari tepat membosankan itu.


Malam ini kalian tidak usah pulang... Semua kamar di rumah ini menunggu kehadiran kalian." ucap Bu Lidia tersenyum.


"Sebuah kehormatan buatku dapat menginap di sini, Ma."


"Ini rumah mu, kenapa harus sungkan?"


"Benar kata Mama, kenapa harus sungkan di rumah sendiri, kecuali kita bukan bagian dari keluarga itu sendiri, patutlah kita merasa sungkan." sangat jelas kata-kata Kirana menyindir Yasmin.

__ADS_1


Bu Lidia terhenyak namun tersenyum kembali. Sudah, sudah. kapan istirahatnya kalau mengobrol terus.


Yasmin dan Kirana masuk ke kamar mereka masing-masing. Sedangkan Satria memilih tidur di sebuah kamar sendiri.


Satria Mengirim pesan pada Yasmin.


(Besok datanglah ke kafe, aku akan mengajakmu memilih hadiah yang kau sukai)


Yasmin bahagia membuka pesan dari Satria.


(Aku sudah tidak perlu hadiah itu lagi, kau memaafkan kesalahanku saja bagiku sebuah hadiah yang tak ternilai) balas Yasmin.


(Ini bukan permintaan, tapi perintah. Justru kalau kau tidak patuh, aku anggap kau membuat kesalahan baru!) ketik Satria


"Ih, dasar manusia aneh. Kadang lembut seperti salju, kadang. Juga keras seperti batu." sungut Yasmin.


(Iya, aku akan datang) jawaban Yasmin membuat Satria tersenyum puas.


Ia bisa berjanji akan membalas kekecewaan Yasmin di pesta tadi.


Kirana merasa gelisah di kamarnya. Ia sibuk mencari cara untuk menjatuhkan Yasmin.


Kirana menelpon orang kepercayaan nya.


"Cari tau informasi tentang orang yang bernama Bram, dan apa hubungannya dengan Yasmin!" perintahnya dengan tegas.


"Tunggu saja, apa yang bisa aku lakukan, Yasmin." ucapnya geram.


Kirana menghampiri kamar dimana Satria istirahat.


"Ada apa,?" tanya Satria dengan malas.


"Rumahmu sangat besar, apalagi aku baru pertama kali bermalam disini? Aku merasa takut?" ucapnya percaya diri.


"Boleh, ya aku ikut tidur di sini?" ucap ya pelan.


Satria merasa heran. Ia merasa Kirana terlalu memaksakan diri dengan hubungan mereka yang sudah jelas statusnya.


"Aku janji hanya malam ini. Lagian kalau Mama mu tau kita tidur di kamar berbeda, apa dia tidak curiga?"


Satria merasa ragu.


"Ayo lah, aku tidak akan merusak persahabatan kita. Aku juga tau pilihanmu."


Akhirnya Satria menyuruhnya masuk.


"Kau tidur saja di ranjang. Aku biar di bawah saja."


Walau merasa tidak terima, tapi Kirana mengangguk.


Satria sudah masuk kedalam mimpi, tapi Kirana sama sekali belum bisa memejamkan matanya.


Ia menatap tubuh Satria yang terbungkus selimut.


Ia merasa tidak rela tubuh dan hati Satria akan menjadi milik Yasmin nantinya.


Kirana melihat ponsel Satria Yang tergeletak begitu saja.


Dengan hati-hati ia mengambilnya .


Matanya memanas saat membaca pesan di dalamnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia." ia berucap pelan.


Di ponselnya sendiri masuk sebuah pesan yang sedang di tunggunya.


"Ouh jadi begini ceritanya..?" ia tersenyum licik membaca identitas dari Bram dan tentang kaitannya dengan Yasmin.


'Sekarang aku punya senjata untuk menjatuhkan mereka." ucapnya puas.


Esok harinya.


Kirana sengaja membuka sedikit pintu kamar yang di tempatnya. ia semakin bersemangat saat di lihatnya Yasmin sedang berjalan mendekat.


"Pagi, Kiran..!" sapanya dengan ramah.


"Pagi, juga Yas... Pagi ini benar-benar pagi yang indah. Tentu saja bagi pasangan yang merayakannya." ucap Kirana sengaja melebarkan pintu di belakangnya.


"Kau tidur disini?" tanya Yasmin tidak suka.


Setau dia, Kirana tidur di kamar yang paling ujung yaitu kamar Satria.


"Tapi kenapa dia ada disini?


"Kau tidak usah heran, tidur dengan pasangan itu bukan hal yang aneh." kata Kirana lagi.


"Jangan bilang kau tidur dengan Satria?" Hati Yasmin mulai was-was.


"Sayangnya kecemasanmu itu sudah terjadi.


Kami tidur sekamar, dan memang itu seharusnya. Jadi bangunlah dari mimpimu itu!" ejek Kirana.


Saat itu Satria yang mendengar keributan di depan kamarnya. Langsung keluar. Ia kaget mendapati Yasmin sedang menatapnya penuh kekecewaan.


"Apa yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan." ujar Satria panik.


Yasmin menatapnya namun tidak berkata apa pun. Ia melangkah meninggalkan Satria dan Kirana yang saling pandang tak mengerti.


"Aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa salah paham begini, padahal aku sudah jelaskan bahwa di antara kita tidak ada apa-apa, tidak terjadi apa-apa." Kirana merasa menyesal.


"Biar aku yang bicara padanya!"


Satria mengejar Yasmin. Yang menuju halaman.


"Kau pasti salah paham. Dengar, tadi malam dia datang Karna merasa takut di rumah yang baru baginya dan harus tidur sendirian. Menurut ku masuk akal saja dia merasa takut."


"Lalu kau, merasa bertanggung jawab menemaninya, begitu, kan?" ucap Yasmin cuek. Ia terus menyiram tanaman.


"Aku tau kau cemburu, dan aku senang itu. Tapi..."


"Kau senang, kan kalau aku cemburu? Teruskan saja! Kenapa masih perduli padaku?" kali ini Yasmin tidak bisa menahan emosinya.


Satria memijat keningnya.


"Dengar, aku tidak mau berdebat hanya karna masalah sepele." kata Satria hendak meninggalkan Yasmin masuk.


"Sudah berapa kali aku bilang, Kirana itu licik. Dia tidak mau menerima kalau kau kembali padaku. Tapi kau tidak pernah percaya!" teriak Yasmin. untung disana sepi, jadi tidak ada yang mendengar tentang pertengkaran mereka.


Satria terus meninggalkan Yasmin dengan kesal.


Setelah Satria pergi. Kirana datang menghampiri Yasmin.


"Kau tidak akan mampu mengalahkan aku, lupakan niatmu untuk bersama Satria."

__ADS_1


"Aku tau ini rencanamu. walaupun saat ini Satria belum terbuka matanya untuk menyadari kelicikanmu. tapi ingatlah, kejahatan tidak akan seterusnya menang." jawab Yasmin dan meninggalkan Kirana sendiri.


💞mohon maaf karena telat terus


__ADS_2