SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 56


__ADS_3

Di saat Satria dan Yasmin tengah menikmati kebahagiaannya. Tiba-tiba saja Dio datang mengejutkan semua yang ada disitu.


"Papa, Oma..!" Dio berdiri di depan pintu ruangan itu.


"Dio...?" Satria dan Bu Lidia langsung kaget dan menghampirinya.


Namun tiba-tiba Kirana muncul dari samping Dio dan menghadang langkah Satria.


"Maaf, Satria, dan juga Mama... kalian boleh mendekati Dio tapi ada syaratnya."


"Kau jangan macam-macam Kiran!" bentak Satria.


"Tidak, aku hanya ingin memberikan keadilan pada anak ku saja.." jawab Kirana dengan santai.


"Apa maksudmu, Kiran? Mama tau kau dan Satrio ada masalah, tapi jangan bawa-bawa Dio." sentak Bu Lidia.


"Mama... Aku juga tau, Mama bicara begitu karena sekarang sudah menemukan menantu dan cucu Mama yang hilang, lalu setelah ini aku di buang, begitu,.kan? aku mengerti, kok!"


Yasmin menahan nafas mendengar ocehan Kirana.


Ia menyesali dirinya kenapa dulu bisa sampai membuat kesepakatan dengan wanita seperti Kirana.


"Kau ini ngomong apa? Mama ngga ngerti!."


"Dio sini... ! kita lihat kakak mu."


Bu Lidia meraih tangan Dio, tapi Kirana menepisnya.


"Kiran!" Bu Lidia berteriak tidak suka.


"Lalu apa maumu sebenarnya?" Satria mencoba menahan amarahnya.


"Kau harus menyatakan kalau Dio adalah putramu yang sah..!"


"Kau gila .! Kau tau sendiri, kalau Rayyan juga adalah putraku yang sah."


Yasmin mendekati Rayyan dan memeluknya, ia tidak ingin Rayyan sedih dengan keributan yang terjadi.


Satria menarik tangan Kirana dengan paksa untuk menjauhi kamar Rayyan.


"Kita bicara baik-baik di luar. ini rumah sakit!"


Kirana menurut tapi ia juga tak lupa menggandeng Dio.


Bu Lidia mengurut dada melihat kelakuan Kirana.


"Sudah, biarkan mereka menyelesaikan masalah di antara mereka. sekarang Oma hanya ingin menemani Rayyan disini." hibur Bu Lidia.


"Sebenarnya, Satrio sudah melayangkan gugatan cerai pada Kirana. tapi itulah, Kirana berkeras tidak mau. kalau secara agama sih mereka sudah sah bercerai. Tinggal menunggu putusan pengadilan saja." tutur Bu Lidia.


Yasmin hanya terdiam.


"Apapun yang terjadi di antara kalian bertiga. Mama hanya berharap yang terbaik buat cucu - cucu Mama." ucapnya lagi.


Saat Bu Lidia membacakan dongeng untuk Rayyan.


Diam-diam Yasmin keluar dari kamar dan dan mencari keberadaan Satria dan Kirana.


Dia menemukan Kirana mereka sedang berdebat.


"kalau kau masih ingin melihat Dio, katakan pada semua orang bahwa dia anakmu yang . kau prioritaskan. Dia tidak boleh di bawah Rayyan dalam hal apapun!"

__ADS_1


"Aku tidak setuju. Rayyan dan Dio akan mendapatkan hak yang sama. Tidak ada lebih di prioritaskan dari satu dan yang lainnya." jawab Satria.


"Kalau begitu, Dio aku bawa. Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi." ancam Kirana.


"Kalau begitu, kita tanya Dio saja, dia ikut aku atau kau?"


"Dio, Dio mau ikut Papa atau Mama?" tanya Satria sambil membelai rambut Dio.


"Mama dan Papa..!" jawab Dio.


Kirana dan Satria saling pandang.


"Dio, papa dan Mama tidak bisa tinggal bersama lagi. Karena itu, Dio harus pilih, Mama atau Papa?"


"Dio maunya Mama dan Papa tinggal bersama! " teriak anak itu kencang.


Kirana merasa di atas angin. Kalau Dio mau mereka tinggal bersama, berarti Satria bisa saja membatalkan gugatannya.


"Baiklah, sekarang Dio ikut Papa, kita lihat kakak Rayyan. Dio punya kakak, Lho.."


Bujuk Satria.


"Tidak bisa..! Dio tidak boleh ikut denganmu sebelum kau memperjelas posisinya."


Satria menatap Dio dengan iba.


"Nanti aku pikirkan dulu, sekarang biarkan dia bersamaku."


Kirana berkeras membawa anaknya pergi. Walaupun Dio meronta tidak mau pergi, tapi Kirana tetap memaksanya masuk mobil.


Satria merasa tindakan Kirana sudah melewati batas.


Dia mengambil paksa Dio. Dia tidak perduli dengan teriakan Kirana.


Bersama Dio, berarti kau juga harus tetap bersamaku!"


Satria tersenyum sinis.


"Aturan darimana itu?" ledeknya membuat Kirana semakin marah.


"Tunggu , lepaskan Dio , dia bukan anakmu, pak!"


Langkah Satria terhenti oleh sebuah suara.


Saat ia menoleh, di lihatnya seorang pria yang babak belur tengah berdiri sempoyongan sambil memegangi lengannya yang berdarah.


"Benar, pak.!" :ulang pria itu.


Kirana menghampiri Edgar dan berusaha menutup mulutnya.


"Kau jangan cari mati!" ancamnya dengan suara pelan.


"Aku tidak perduli sekalipun kau membunuhku untuk yang kedua kalinya. Asal aku bisa membongkar kebusukan mu aku rela mati." ucap Edgar emosi.


"Aku bilang diam! diam..,!" teriak Kirana.


Yasmin dan orang-orang yang menyaksikannya ikut tegang.


"Hey Bung, siapa kau, kenapa kau bilang kalau Dio bukan anak ku?"


"Kau jangan dengarkan ocehan orang gila ini ." teriak Kirana. Ia menampar pipi Edgar beberapa kali. Namun itu tidak bisa menghentikan Edgar untuk menunjukkan kebenaran.

__ADS_1


Satria mendorong Kirana ke samping.


"Tolong jelaskan maksud ucapan mu tadi. kalau sampai kau berani main-main dengan ucapanmu barusan, aku bisa membunuhmu sekarang juga!"


Satria menarik kerah baju Edgar dengan kasar. Wajah Kirana sudah ketakutan.


"Saya tidak bohong, pak. Dio adalah putraku!"


Tangan Satria mengepal. Dan sebuah tinju melayang di pelipis Edgar.


Dua orang petugas keamanan melerai mereka. Untung kejadian itu di parkiran rumah sakit hingga tidak menganggu para pasien.


"Pukul saya sepuas hati bapak, tapi itu tidak akan merubah kenyataan bahwa Dio bukan lah putramu!" tantang Edgar.


Satria memandang Dio yang ketakutan. Hatinya tidak bisa menerima kalau anak yang dia besarkan dengan kasih sayang itu bukanlah putranya.


"Aku mau kejelasanmu. Jawab sekarang juga! apa benar apa yang di katakan pria itu?" bentak Satria.


Kirana menangis sambil menutupi mukanya.


Satria lemas di buatnya, Rahangnya mengeras menahan emosi yang membuncah.


"Bukan itu saja, pak. wanita licik ini, juga dalang dari semua kejadian yang menimpa Rayran."


Yasmin dan Satria tercengang.


"Dia berusaha memisahkan kalian dengan berbagai cara. percayalah pada keterangan saya ini."


"Diammm...!" Kirana menutupi kedua telinganya.


Saat itu Bara datang bersama dua orang polisi.


Yasmin mengajak Dio pergi dari tempat itu agar tidak menyaksikan kejadian yang tidak pantas.


"Dari rekanan cctv, kami curiga pada mba Kirana ini, jadi kami harus membawanya, untuk sementara hanya sebagai saksi."


Bara mengangguk mengiyakan.


"Jangan, pak. Aku tidak bersalah! Tangkap saja wanita yang bernama Yasmin itu!..." seru Kirana ketakutan.


Setelah Kirana pergi. Edgar menghampiri Satria.


"Sayalah yang sudah melaporkan Kirana, dia sudah merencanakan pembunuhan terhadap saya karna takut saya akan membongkar kebohongannya."


Satria masih terdiam. Ia merasa shock berat.


Ia menyesali diri kenapa selama bertahun-tahun Kirana bisa membohonginya. bahkan dia sudah membesarkan anak Edgar dengan penuh kasih sayang.


Mobil polisi yang membawa Kirana sudah .menghilang.


Satria masih terduduk lesu.


Dia begitu terguncang oleh penghianatan Kirana.


Satria bangkit dan bermaksud ke kamar Rayyan.


Tapi di koridor dia melihat Yasmin yang tengah menatapnya.


Satria memeluk Yasmin erat.


"Tolong cubit aku, Yas. apakah aku sedang bermimpi? Disaat aku bahagia karena seorang putraku sudah kembali, aku juga harus mendengar kenyataan bahwa putraku yang lain ternyata..." Satria mengusap matanya dengan unjung kemejanya.

__ADS_1


Yasmin tidak bisa bicara apapun. Ia ikut merasakan duka yang di alami pria itu.


__ADS_2