SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 58


__ADS_3

Edgar mengajak Dio bermain ketempat Satria. Karna Satria sedang di kantornya, mereka hanya bertemu dengan Yasmin.


"Eh, Dio.. Gimana kabarmu sayang?" sapa Yasmin dengan hangat.


"Dio ingin ketemu Papa.." jawab Dio acuh.


"Maaf, Bu Yasmin. Dio sedang sedih, saya tawarkan bertemu pak Satria, dan dia mau." ucap Edgar.


"Tidak apa-apa, cuman, Satria sedang di kantornya saat ini. Begini saja, Dio bisa ditinggal disini, Pak Edgar bisa jemput dia nanti sore " tawar Yasmin.


"Dio mau nunggu papa Satria disini?" tanya Edgar.


Dio mengangguk. Akhirnya Edgar pulang, sementara Dio ia tinggalkan bersama Yasmin.


"Dio, ayo kita lihat Rayyan di kamarnya." Yasmin mengandeng tangan Dio.


"Ray, ini Dio, ajak dia main sayang..."


Rayyan menyambut Dio dengan senyum lebar.


"Ayo sini kita main bareng." ucapnya ramah.


Dio langsung memilih beberapa mainan favorit Rayyan.


"Dio, mau yang ini, yang itu juga.." Dio mengambil mainan dari tangan Rayyan.


"Tapi jangan yang ini. Ini mau Ray pake." ujar Rayyan.


Namun Dio tidak mau mengerti. Sampai


Rayyan mengadu ke Mamanya.


"Maa.. Dio mengambil mainan punya Rayyan."


"Mainan Ray kan banyak sayang. kasih Dio pinjem. Ray anak baik kok." bujuk Yasmin.


Rayyan bisa mengerti.


Disaat Rayyan dan Dio sibuk bermain, Ponsel Yasmin bergetar.


Saat di angkatnya wajah tampan sang suami terpampang jelas di layar.


"Ada yang ketinggalan?"


Sapa Yasmin merasa heran.


Satria mengangguk.


"Apa?"


"Aku merasa gelisah tidak memandang wajahmu satu jam saja..."


"Gombal..!" balas Yasmin namun hatinya berbunga-bunga.


"Beneran... Sejak ada kau dan Rayyan aku tidak betah lama-lama di kantor. Bawaan nya ingin pulang terus."


Yasmin tersipu.


Ia merasa tersanjung dengan perlakuan manis Satria.


"Aku mau makan siang dirumah..."


"Aku tidak bisa masak enak, kau mau makan apa?" tanya Yasmin balik.


"Apa saja, asal kau yang buat, pasti enak."


"Tapi aku tidak biasa memasak. Selama ini urusan makanan semua di handle oleh Dilla."


Ucap Yasmin terus terang.


"Tidak apa-apa, aku tidak pernah menuntut mu agar pintar masak, bukan? Aku suka apa adanya dirimu." puji Satria lagi.


"Lalu kau bisanya masak apa?"


"Bisanya cuma masak mie instan doang."


"Ya sudah, masak itu saja."


Yasmin memandang Satria tak percaya.

__ADS_1


"Serius.." Satria meyakinkannya.


"Terima kasih, ya;" ucap Yasmin lagi.


"Tidak cukup hanya dengan terimakasih saja."


Tolak Satria.


"Terus?"


"Aku mau yang itu..." Satria menunjuk bibirnya .


Mata Yasmin melebar sempurna.


"Eh, aku mau lihat, jagoan ku sedang apa sekarang?"


"Iya, hampir saja lupa. Ada Dio dirumah."


"Oh, ya? Kalau begitu aku akan segera pulang." panggilan itu pun berakhir.


"Bar, kau saja yang pimpin rapat hari ini. Aku mau pulang!"


Bara tersenyum penuh arti.


"Perasaan, sejak bertemu ibu negara, Bos tidak betah di kantor. bawaannya mau pulang saja." goda Bara.


"Karna itu, aku sarankan cepat halalkan pasanganmu. Kau belum tau sih rasanya pulang kerja di sambut istri dan anak. Luar biasa.. Tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata." ucap Satria bersungguh-sungguh.


"Siap, Bos... Aku akan memikirkannya." sambut Bara.


Setelah menyambar baju kebesarannya Satria segara melangkah keluar dengan wajah ceria.


Lima Belas menit kemudian dia sudah berada di rumahnya.


Yasmin menyambutnya di depan pintu.


"Dimana Dio?" tanyanya sambil mengecup kening Yasmin.


"Lagi main sama Rayyan."


Satria melangkah ke kamar Dio di ikuti Yasmin.


"Sebenarnya kasihan sekali melihat nasib Dio. Dia masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan ini." gumam Yasmin.


"Ya sudah, kau temui anak-anak, aku akan siapkan makanan." ujar Yasmin tersenyum manis.


Satria mengacak rambutnya dengan gemas sambil tersenyum mengangguk.


Saat Satria membuka pintu kamar Rayyan.


Ia melihat Dio sedang main dengan mainan menumpuk di depannya. Sedangkan Rayyan hanya melihatnya dari tempat tidur.


"Ray..Dio..!" sapanya.


Rayyan dan Dio langsung berebut menghampiri Satria.


"Papa..!"


Namun Dio mendorong Rayyan agar menjauh dari Papanya.


"Dio.. Tidak boleh begitu, Ray juga anak Papa, jadi kalian harus sama-sama." Satria merangkul kedua anak itu.


Dio tambah merajuk.


"Kok Rayyan jadi anak Papanya Dio? Tidak boleh!" protesnya.


"Tapi memang benar kok, Rayyan adalah kakaknya Dio. Ayo berdamai.."


Rayyan sudah mengulurkan tangannya tapi Dio menolak.


"Kenapa sih, Dio harus punya kakak?" tanyanya tak senang.


"Satria mengajak kedua anak itu duduk di ranjang. Lalu dia mencoba menjelaskannya pada mereka.


"Kenapa Papa harus punya anak dua, sama juga pertanyaannya kenapa Dio harus punya Papa dua? Papa Satria dan papa Edgar? Dio bisa jawab?"


Anak itu menggeleng keras.


"Sudahlah, jangan pikirkan. Kita makan dulu, setelah itu kita main bareng."

__ADS_1


"Benar, Pa?" Rayyan begitu bersemangat.


"Benar, sayang." Satria mencium puncak kepala Rayyan.


Ia tau kalau Rayyan selalu mengalah pada Dio. Tentu saja, didikan yang mereka terima sangat berbeda. Rayyan tumbuh dengan segala kesederhanaan, sedangkan Dio terbiasa dengan kehidupan yang mewah. Satria menghampiri Yasmin yang sedang di dapur.


Diam-diam dia melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


"Eh, lepas.. Nanti ada yang lihat..!"


Elak Yasmin tersenyum malu.


"Siapa yang mau lihat? Anak-anak sedang asik sendiri. Dilla sedang bekerja, Mamah sudah pulang ke jakarta. Kita aman sayang."


"Tapi tidak begini juga caranya.."


"Owh, jadi kau mau aku menggendong mu ke kamar sekarang juga?" goda Satria lagi masih memeluk Yasmin dari belakang.


Yasmin berbalik dan mencubit pinggang suaminya.


"Eh kenapa malah kamu menangis gitu?" ledek Satria sambil tertawa saat melihat Yasmin berurai air mata.


"Iya, nih. aku selalu begini kalau mengupas bawang." sanggahnya sambil meringis.


"Insya Allah besok sudah ada ART yang bantuin ngurus rumah termasuk masak dan lainnya."


Satria mengambil tissue dan mengelap air mata Yasmin.


"Kasian istriku sampai nangis begini karena mau masak untuk ku."


Mereka tersenyum bahagia.


"Mama, Ray mau makan.. !"


"Dio juga...! " seru Dio. Kedua anak itu berebut menghampiri Yasmin.


"Ok, tunggu di meja makan, sebentar lagi makanan kalian siap."


Dengan gembira kedua anak itu menunggu.


Sore harinya, Edgar datang menjemput Dio.


"Terimakasih karna sudah menerima Dio disini."


Edgar merasa sungkan dengan kebaikan Satria.


"Tidak usah sungkan begitu. Oh, ya. kau kerja dimana sekarang?"


Edgar terdiam.


"Saya belum ada pekerjaan tetap, Pak. Tepi jangan khawatir, saya tidak akan menyia-nyiakan Dio."


"Bukan itu maksudku. membesarkan anak tidak mudah, tentunya butuh biaya yang tidak sedikit. Apalagi anak seperti Dio yang sudah terbiasa hidup nyaman."


Edgar mengangguk.


"Besok datanglah ke kantorku. mungkin masih ada posisi yang bisa kau tempati."


"Terima kasih, Pak."


"Bagaimana kabar Kirana,?" Tiba-tiba Satria ingat mantan istrinya itu.


"Begitu lah, kondisi mentalnya semakin parah. Dia sampai tidak mengenali Dio." wajah Edgar terlihat sedih.


Satria menepuk bahu Edgar.


"Segala perbuatan baik dan buruk akan ada balasannya. Tugas mu adalah membesarkan Dio dengan baik."


Edgar mengangguk .


'Oh, ya.. Kirana masih punya aset yang tidak sedikit. kau bisa mengurusnya untuk keperluan Dio."


"Terima kasih atas sarannya, Pak."


"Santai saja..!" jawab Satria.


Tiba-tiba hand phone Satria berbunyi.


Ia minta ijin pada Edgar untuk mengangkat telpon

__ADS_1


"Iya, Bar.."


"Gawat, Sat. Aku baru terima laporan bahwa investor asing yang kita ajak kerjasama proyeknya bermasalah. Dan kau tau? Mereka menyebut nyebut nama Om Bram.."


__ADS_2