
"Mbak...! Cepat bangun. Nyonya sudah menunggu untuk sarapan." suara seorang wanita terdengar lamat di telinga Yasmin.
Namun ia masih enggan membuka matanya, ia masih asik dengan mimpi indahnya bersama Satria.
"Mbak Yasmin...!" suara ketukan semakin keras memaksa Yasmin menggeliat malas.
Mata melirik jam di atas nakas.
"Aku bangun kesiangan!" pekiknya langsung melompat dari tempat tidur hendak membuka pintu.
Tapi, "Auu..!" Yasmin meringis kesakitan. Ia baru menyadari ada sesuatu yang beda dari dirinya. Ia merasakan nyeri yang tidak biasa di daerah intimnya.
Bayangan kejadian semalam berkelebat di benaknya.
Ia tersenyum sendiri.
"Maaf, Bik. Lama buka pintunya, lagi di kamar kecil soalnya." ia memberi alasan pada wanita gendut yang tengah menatapnya curiga.
"ya, sudah. Nyonya tuh sudah menunggu dari tadi." ucap wanita itu tampak kesal
"AKu segera turun!"
Yamin bersandar di balik pintu kamarnya.
"Aku harus bisa bersikap biasa di depan Mama.
"Astaga! Apa ini? " Yasmin begitu kaget mendapati tanda merah di lehernya.
Ia merasa panik dan menggosoknya, warna itu malah semakin jelas setelah di gosoknya. lalubia berusaha menyamarkannya dengan mengoleskan krim tapi tidak bisa juga.
Ia terduduk putus asa.
"Gawat kalau Mama sampai melihatnya." ucapnya bertambah panik.
"Yas, kamu tidak enak badan?" sapa Bu Lidia saat melihat Yasmin datang menggunakan baju hangat dan syal di lehernya. Di tambah langkahnya yang sedikit berbeda.
Satria yang kebetulan ada di situ juga spontan melihat kearahnya.
"Tidak, eh iya, Ma. Sedikit meriang." jawabnya gugup.
Tatapannya bertemu dengan mata tajam Satria.
Pria terlihat tidak percaya kalau dirinya sedang sakit.
"Semalam baik-baik saja." ucap Satria heran.
"Yang namanya penyakit Mana kenal waktu dan tempat, kamu ada-ada saja. Ya sudah. Yasmin duduk sarapan dulu."
Yasmin duduk dengan kikuk. Apalagi pandangan Satria yang tidak pernah lepas darinya.
Satria terus menatapnya dengan penuh pertanyaan.
"Sebentar, ya. Ada telpon." Bu Lidia bangkit dari kursinya dan meninggalkan mereka berdua.
"Kamu lagi akting, ya?" tanya Satria langsung meraba kening Yasmin.
"Tuh tidak panas juga."
"Akting gimana? Ini semua gara-gara kamu." sungut Yasmin
Satria baru menyadari sesuatu. Ia langsung menahan tawanya.
"Malah ngeledek, sakit tau!"
"Maaf, sakit sekali, ya?" tanyanya dengan wajah sedikit serius.
"Lumayan..." jawab Yasmin sambil menyembunyikan wajahnya.
" Kata orang, Kalau sakit begitu, biasanya minta di terusin biar hilang sakitnya." ucap Satria sambil berbisik di telinganya.
"Apa?" mata Yasmin membulat sempurna.
__ADS_1
"Satria mengangguk sambil tersenyum penuh arti.
Yasmin mendorong tubuh Satria pelan.
"Nanti Mama melihat." ujarnya khawatir.
Satria menghela nafas.
"Lalu sampai kapan kita harus bermain petak umpet seperti ini?" gerutunya kesal.
"Ada-ada saja..!" gumam Bu Lidia sambil kembali duduk.
"Kalian lagi ngobrolin apa? Seru kayaknya."
"Tidak ada Ma, aku cuma nanya kenapa dia tidak mengajak Kirana." jawab Yasmin.
"Iya, Sat. Lain kali bawa serta Kirana untuk sarapan bareng, tentu makin seru."
"Bagaimana aku membawanya serta, aku kan langsung ke kantor." jawab Satria membela diri.
"Ini juga kalau tidak Mama yang manggil, Aku langsung berangkat." imbuhnya lagi.
"Terus gimana dong permintaan Mama tentang Itu lho..?"
Satria tersenyum kecil.
"Pasti, Ma.." jawab Satria tersenyum menggoda. Ia melirik Yasmin yang pipinya langsung memerah.
"Yang bener? Jamu Mama ces Pleng, dong?" ucapnya sumringah.
Satria memang berharap kalau Yasmin segera mengandung benih yang ditanamnya.
Ia ingin sekali mengenalkan pada dunia bahwa Yasmin adalah istrinya pasangan hidupnya.
Tapi keadaan belum berpihak pada mereka.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, Satria pamit untuk kekantor nya.
Yasmin jadi merasa bersalah telah menyembunyikan identitas dirinya.
"Sebenarnya Mama mau ajak kamu shopping, tapi kamu nya sedang sakit, batal deh."
"Yasmin minta maaf, Ma."
"Tidak apa-apa, Mama akan ajak Kirana saja."
Ucap wanita itu.
"Jangan lupa kedokter, minta di antar sopir saja."
Setelah nyonya Lidia pergi, Yasmin membuka Syal nya.
"Gara-gara tanda merah ini, aku tidak bisa menemani Mama jalan-jalan." sesalnya.
Tiba-tiba saja pintunya kamarnya di buka dari luar.
"Yas, Mama mau nanya soal photo ini?" Bu Lidia membuka galeri ponselnya.
"Om Bram? " ucap Yasmin pelan.
'Kamu kenal gadis yang bersamanya ini? Apa dia pernah menghampirimu saat di kafe?" begitu banyak pertanyaan wanita cantik itu.
Yasmin merasa bingung. kalau dia berdusta dan suatu saat Mertuanya tau yang sebenarnya, pasti akan jadi bumerang.
"Ini? Pria ini namanya Bram, kan Ma?"
"Kamu kenal dia?" wajah Bu Lidia tiba-tiba berubah cemas.
"Tidak begitu, Ma. cuma kenal namanya doang."
"Memangnya kenapa? Segitu berbahayanya kah dia?" ucap Yasmin lagi.
__ADS_1
"Dia sangat berbahaya, karenanya Mama mohon, hindari pria itu. Mama sering melihat nya di kafe tempat mu bekerja."
Yasmin mengangguk. "Mama tenang saja, aku bisa jaga diri."
Bu Lidia sudah hendak berbalik saat matanya tertuju pada tanda merah di leher Yasmin.
"Leher mu kenapa?" tanyanya heran.
Yasmin tergagap, ia baru sadar tidak mengenakan Syal di depan Bu Lidia.
"Ini biasa muncul kalau aku sedang tidak enak badan seperti meriang dan lainnya, akan muncul bercak aneh ini di beberapa bagian tubuh." jelas Yasmin.
"Penyakit yang aneh! Kau harus ke spesialis." saran wanita itu lagi.
"Iya, Ma lain kali aku pasti pergi."
Bu Lidia meninggalkan kamar Yasmin dengan perasaan bingung.
"Huuh...!" Yasmin menghembuskan nafas lega
"Dasar tanda merah pembawa bencana." sungut ya sambil meraba lehernya.
"Tapi rasanya candu juga oleh si pembuat tanda ini." ia tersenyum sendiri.
Sementara itu, Bu Lidia benar-benar menjemput Kirana untuk menemani ya jalan-jalan.
"Bagaimana dengan jamu Mama?"
Kirana terdiam.
"Tidak usah malu, Satria sudah menceritakannya kok sama Mama." wanita itu tersenyum.
Kirana merasa bingung.
"Memangnya apa yang sudah di ceritakan Satria?" Kirana menggeleng heran.
"Ma, apa Yasmin betah tinggal di tempat Mama?"
"Iya, memangnya kenapa dia harus tidak betah?" tanya Bu Lidia acuh.
"Tidak, sih.. Cuma Yasmin itu gadis yang biasanya manja. semua gue dan yaah begitulah"
"Tapi yang Mama liat, sih tidak begitu orangnya. Dia gadis periang dan tangguh."
"Eeuh.. Mungkin juga dia sudah berubah." ujar Kirana dengan kecewa.
Kirana merasa kesal karena tidak berhasil mempengaruhi mertuanya.
Bu Lidia membeli banyak barang. Ia merasa happy di temani oleh Kirana.
Sore harinya, Bu Lidia pulang ke rumahnya wajah berseri.
"Bik, mana Yasmi"
"Dia di kamarnya, nyonya!"
"Jadi dia belum sempat kedokter? Dasar gadis aneh!"
Bu Lidia benar-benar menghampiri Yasmin di kamarnya. Ia melihat gadis itu masih tertidur pulas dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya
Ia ingin memastikan kalau gadis itu baik- Baik saja."
Malam harinya, Yasmin menerima pesan dari Satria.
( Ingat Tidak usah kunci Jendelanya!)
"Apa maksudnya dia mengirim pesan ini? Apakah dia akan mengulang seperti tadi malam?""
Aa
💞Jadilah pembaca bijak. Tinggalkan like dan komennya🙏
__ADS_1