
Tanpa bicara, Satria langsung meninggalkan meja makan. Raut wajahnya terlihat marah.
"Kenapa dia? memang aku salah sudah berbaik hati mengantar makanan untuk kalian?" ucap Yasmin heran.
"Kau tidak salah, tapi kau kenal Satria, kan? dia pantang menerima bantuan siapa pun."
Yasmin termenung.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi saja. Kedatanganku ternyata tidak di kehendaki."
Yasmin memasang kaca matanya dan meraih kunci mobil.
'Ohya, apa kau tidak rindu dengan kehidupanmu yang dulu?" bisiknya di telinga Kirana.
Kirana menggeleng.
"Aku bahagia disini.." jawabnya tersenyum.
"Parah, cinta sudah membuatmu buta." ucapnya sambil melangkah keluar.
"Sat, Yasmin sudah pergi, kita lanjutkan makannya?" bujuk Kirana.
"Aku sudah tidak nafsu, kau saja." ketus Satria dan pergi ke bengkelnya.
Kirana menarik nafas panjang.
"Tidak adakah sedikit saja ruang di hatimu untuk ku Sat?" gumamnya lirih.
Waktu terus berjalan dengan cepat.
Karena kesabaran Kirana, perlahan hati Satria mulai luluh. Walaupun belum tinggal sekamar, tapi ia tidak lagi dingin dan cuek pada Kirana.
Hal itu membuat Kirana sangat bersyukur.
"Semua tidak ada yang instan, aku tidak akan menuntut mu Satria..." ucapnya dalam hati.
Sedangkan Yasmin setiap hari kerjanya hanya berfoya-foya dengan teman-temannya.
"Ayo ambil yang kalian mau, aku yang traktir." ucapnya congkak.
Semua teman-temannya memujinya.
"Yasmin memang hebat, dia bisa kaya dalam sekejap, ya!?" ucap mereka.
Yasmin tersenyum bangga karena pujian itu.
Karena merasa kebelet pipis, ia permisi ke toilet.
Saat kembali tak sengaja telinganya menangkap percakapan para teman-temannya.
"Apa bagusnya, dia memang kaya raya.
tapi dari hasil menggadaikan suaminya. Apa istimewanya dari wanita seperti itu,
kasihan lho suaminya. padahal dia sangat mencintai Yasmin."
"Yang aku dengar lagi, suaminya terpaksa hidup dengan seorang wanita yang memberi Yasmin kekayaan."
"Ehemm...!" Yasmin berdehem hingga membuat teman-temanya yang sedang bergosip jadi waspada.
"Lagi ngomongin siapa?"
"Eemh tidak, kami hanya ngobrol ringan saja." jawab mereka dengan senyum palsunya.
"Kalian tidak tau malu, di depanku kalian memujiku, tapi di belakang kalian menggosipkan aku!" teriak Yasmin emosi.
"Kalian memang penjilat, bermuka dua!" imbuhnya lagi.
__ADS_1
Seorang temannya maju karena tidak terima.
"Ya, kami memang membicarakan mu, kau wanita kejam yang tak berperasaan.
Kau pikir kami senang menjadi temanmu? tidak, kami hanya suka uangmu beb..!" Temannya itu mengambil tasnya dan pergi dari hadapan Yasmin.
Satu persatu mereka meninggalkan Yasmin sendirian.
Yasmin luruh di tempat duduknya.
"Tidak ku sangka, mereka hanya baik di depanku saja. aku tidak punya teman yang tulus menyayangiku." gumamnya pilu.
Tiba-tiba bayangan Satria muncul di kepalanya.
Ia mengakui hanya Satria yang perhatian padanya tanpa pamrih. walaupun terkadang galak tapi Satria tulus menerima dirinya apa adanya.
Air matanya tiba-tiba meleleh.
Ia membayangkan sakitnya perasaan pemuda itu saat tau istrinya telah menggadaikannya.
Tiba-tiba Yasmin merasa sendirian di dunia ini.
Yasmin menoleh saat mendengar suara yang begitu jelas di telinganya.
"Eh, lihat. Bukankah itu suaminya Yasmin? dengan siapa dia? oho.. ternyata dia bersama seorang wanita cantik."
"Aku pikir, Satria tidak sulit melupakan Yasmin yang hanya seorang pecundang.
Lihatlah wanita yang menemaninya? sudah cantik anggun, rendah hati pula."
Kata-kata itu semakin membuat Yasmin terpuruk. Ia menutupi telinganya.
Suara yang di dengarnya ternyata tidak bohong.
Satria benar'-benar ada di kafe itu.
Dia sedang duduk dengan Kirana yang terlihat anggun. Senyuman bahagia tak lepas dari bibir mereka.
Ia menghela nafas panjang.
Ia tidak tau dari mana datangnya, tiba-tiba ada rasa sakit menyusup di kalbunya saat melihat kebahagiaan mereka.
Yasmin terus mengawasi mereka dari tempat tersembunyi.
Menyesalkan iya? Yasmin merasa malu, bahkan sekedar untuk mengakui bahwa dirinya menyesal.
Setelah Satria dan Kirana pergi dari tempat itu, Ia baru menampakkan diri.
Yamin pulang ke apartemen mewahnya.
Ia duduk menikmati semua kemewahan yang di milikinya kini.
tapi dia tetap sendiri.
"Lalu apa gunanya harta dan kekayaan ini kalau aku merasa sendiri?"
Yasmin trus meneguk minuman di tangannya sampai mabuk dan tidak sadarkan diri.
Esoknya, Yasmin bermaksud berbelanja untuk menghamburkan uangnya. Ia pikir dengan begitu ia bisa melupakan masalah yang sedang di hadapinya.
Di saat lampu merah, Yasmin kaget melihat motor Satria berhenti persis di sampingnya.
Yasmin bisa aelihat dengan jelas siapa yang ada di boncengannya.
Kirana sedang duduk manis sambil sesekali tersenyum menggoda Satria. Tangannya melingkar erat di pinggang pemuda itu.
Mata Yasmin terasa perih menyaksikan pemandangan itu.
__ADS_1
Setelah lampu hijau menyala, motor Satria melesat cepat meninggalkan torehan luka di hati Yasmin.
Gadis itu melajukan mobilnya tak tentu arah.
Ia benar-benar merasa tidak punya tujuan hidup lagi.
Ia baru berpikir, mungkin ini maksud papanya menjodohkan dirinya dengan Satria.
Satria adalah pemuda sederhana yang irit dalam berbicara
Sikapnya cenderung tertutup. Namun yang pasti dia berhati baik. Dan menurut keterangan pak Karim, Satria sedang getol belajar ilmu agama. Dia juga sering kepergok oleh Yasmin sedang memakai sarung, peci saat mereka masih serumah dulu.
"Papa.. maafkan Yasmin sudah mengecewakan Papa, sekarang dia yang kau percaya dapat membimbingku sudah bahagia dengan gadis lain.
Yasmin membenturkan dahinya di setang kemudi beberapa kali.
"Benar kata Satria, harta kekayaan tidak ada gunanya tanpa kehadiran orang yang kita sayangi." ratapnya putus asa.
Bayangan Kirana memeluk pinggang Satria sangat menganggu pikiran Yasmin.
"Kenapa dengan ku? bukankah aku sendiri yang menyerahkan Satria pada Kirana? kenapa sekarang aku merasa keberatan melihat mereka dekat?"
Yasmin melempar bantal kelantai. Ia merasa benar-benar bingung dan gelisah.
Keesokan harinya, Yasmin sengaja bertandang kerumah Satria.
Tak di sangka, dia kembali menyaksikan pemandangan yang menguras emosinya.
Satria dan Kirana sedang di dapur berduaan.
Entah apa yang mereka kerjakan. Mereka bercanda dan saling kejar sambil mengoleskan tepung di wajah masing-masing.
Saat mengetahui kehadiran Yasmin.
Satria menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa kau datang ketempat kumuh seperti ini? kau tidak takut sepatumu akan berdebu?" sindir Satria.
Yasmin hanya menghela nafas berat.
"Aku hanya ingin mencari Susana baru saja, makanya aku datang kemari." Jawab Yasmin.
Ia masih juga gengsi mengakui alasan kedatangannya.
"Kau salah Nona, orang sekelas dirimu tidak pantas datang ke gubuk ku, nanti bisa menurunkan gengsimu. Seharusnya kau datang ketempat tempah mewah sana!"
Hati Yasmin terasa sakit mendapat penolakan dari Satria.
Tidak ada lagi Satria yang dulu, yang walaupun galak tapi tetap penuh perhatian padanya.
Kini wajah itu seperti muak dan benci saat menatapnya.
Kirana hanya diam menyaksikan adegan dua orang di depannya.
Ia tau, hanya perasaan cinta yang membuat Satria begitu terluka oleh perbuatan Yasmin. Hanya saja Satria terlalu angkuh untuk mengakuinya.
Memang beberapa hari terakhir ini Satria bersikap baik dan ramah padanya. tapi tak jarang setelah itu, Satria akan mengurung diri di kamarnya berjam-jam. Apa lagi itu namanya kalau bukan cinta?
Kini dua orang itu sedang saling menatap.
Entah apa yang mereka katakan lewat tatapan itu, Kirana tak bisa mengerti.
"Kalau begitu kalian mengobrol saja, aku mau mandi dulu." ucap Kirana hendak meninggalkan tempat itu.
Tapi Satria menangkap sebelah tangannya.
"Kau tidak perlu kemana-mana!" ucapnya tegas.
__ADS_1
"Sat, aku boleh menginap disini? semalam saja." pinta Yasmin.
"Tidak salah? dari rumah mewah kau mau balik ke gubuk reyot t ini?"