SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 32


__ADS_3

 Untuk mengalihkan perhatian Rayyan.Yasmin mengajak putranya itu jalan-jalan ke mall.


Sebenarnya ia hanya mencari alasan agar Rayyan bisa melupakan keinginannya bertemu papanya.


"Ray bisa beli mainan baru yang Ray suka.." kata Yasmin mengusap kepala putranya.


"Tapi kita akan ketemu papa, kan di sana?"


Yasmin dan Dilla saling pandang kebingungan.


"Iya, tapi kalau seandainya kita tidak ketemu juga, Ray harus janji tidak akan mencari papa lagi"


"Emangnya papa Ray kemana, sih? Kenapa tidak pulang-pulang? Dia tidak kangen sama Ray?" hati Yasmin tersentuh oleh pertanyaan putranya.


"Benarkah Satria tidak kangen putranya? ah tentu saja tidak, dia tidak pernah tau kalau buah cintanya yang berwujud Rayyan hadir ke dunia. Dia pasti sedang bahagia dengan putranya dari Kirana.


"Maa..!" Rayyan menggoyang lengannya.


"Iya tentu saja papa kangen sana Ray, tapi papa lagi pergi jauh, kerja cari uang yang banyak buat Rayyan."


Yasmin menelan ludah karena bulannya sendiri.


"Ray tidak mau uang banyak, Ray mau papa pulang dan temani Ray main perang perangan."


"Lho, Mama dan Tante Dilla juga bisa kok jadi papa.. Nih lihat, " Yasmin memperlihatkan lengannya yang kokoh.


"Tapi Mama dan Tante Dilla bukan papa..!" teriak Rayyan keras. Sampai sopir taksi pun menoleh pada mereka.


Dilla menggeleng menatap Yasmin.


"Rayyan sudah tidak bisa di bodohi, Yas "


"Lalu aku harus bagaimana?" Yasmin memegangi kepalanya. Ia merasa pusing dengan permintaan Rayyan.


Sebuah ide gila berkelebat di benaknya.


"Dengan terpaksa aku harus menerima cinta Adam. Dengan begitu dia bisa menjadi sosok ayah yang Rayyan harapkan."


Dilla merasa curiga melihat Yasmin yang tersenyum sendiri.


"Jangan bilang kau akan menerima Adam sebagai ayah Rayyan." ujar Dilla.


"Terpaksa.. Aku bingung dengan permintaan Rayyan kali ini."


Mereka sampai di mall.


Rayyan celingukan mencari-cari sesuatu.


"Ray sudah dapat mainan yang Ray mau, kan? Ayo kita pulang anak cakep...!" bujuk Dilla.


"Ray mau ketemu papa dulu!"


ucap Rayyan dengan yakin.


Ia menelisik semua pria yang di lihatnya di mall itu.


"Ray, papa Ray tidak ada di antara mereka." kata Yasmin membujuk.


"Pasti ada. Yang itu saja, Ma!" Rayyan menunjuk seorang pria gagah berkaca mata yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Aduh, Rayyan... dia pikir mencari papa semudah membeli mainan yang dia suka..!" omel Yasmin sambil meringis.


"Ray, mau yang kayak gitu, Ma!" rengeknya lagi.


Beberapa pasang mata memperhatikan tingkah Rayyan, membuat Yasmin meringis menahan malu.


"Ray, Mama akan panggil papa Ray, tapi janji jangan kemana-mana, ya? Tetap disini sama Tante Dilla."


Rayyan mengangguk.


"Kau mau kemana?"


"Aku mau memanggil Adam buat kesini, aku tidak mau malu oleh permintaan Rayyan.." bisik Yasmin.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa lama, Rayyan sudah tidak betah. Ia mau mendekati pria gagah yang di anggapnya papanya.


Dilla yang kebingungan menawarinya es krim.


Rayyan sedikit anteng karena ada es krim di depannya.


"Aduh, Yasmin kemana, sih? Lama banget. Mana kebelet pipis lagi."


karna merasa tak tahan lagi, ia menitipkan Rayyan pada karyawan mall yang kebetulan dekat mereka.


"Beneran, ya mbak. soalnya ni anak aktif banget." pesannya wanti-wanti pada gadis yang di titipinya.


Tapi dengan lincahnya Rayyan sudah menyelinap dan mendekati pria idolanya itu.


"Papa..?" ucapnya di depan pria itu.


Si pria celingukan memandang ke kanan kirinya.


"Benar, Jan ini papanya Rayyan?"


"Siapa dia?" seorang pria satunya bertanya dengan heran.


"Dia memanggilmu papa, jangan-jangan kau punya simpanan dan anak di kota ini."


"Ngaco kau!" jawab si pria pertama dengan santai


"Papa, kenapa lama sekali perginya? Ray ingin main sama papa." ucap Rayyan dengan polosnya.


Yasmin datang sambil menyeret tangan Adam.


Yasmin sendiri berdiri agak jauh dari mereka.


Ia merasa benar-benar malu oleh tingkah putranya.


"Kau dekati mereka dan bujuk Rayyan, cepat!!"


Adam melangkah ragu.


"Ray, ini papa." ucapnya sambil merangkul pundak Rayyan.


Rayyan terlihat kebingungan.


"Bukankah ini Om Adam?" celetuk Rayyan membuat kedua pria di depannya serentak memandangnya.


"Sangat aneh, kau mengaku dia adalah anakmu, tapi dia?"


"Maaf, ini urusan keluarga kami. Mohon maaf sekali." Adam menggendong Rayyan dan membawanya pergi dari hadapan kedua pria itu.


"Dasar orang aneh!"


"Tapi apa kau tidak merasa janggal? Tiba-tiba saja ada anak yang memanggilmu papa..terus ada pria yang mengaku sebagai orang tuanya. Sedangkan si anak mengenalnya sebagai Om Adam."


"Sudahlah, Bar. Itu semua bukan urusan kita. Fokus pada pekerjaan kita di sini!"


Mereka adalah Satria dan Bara. Mereka berada di tempat itu karna ada proyek penting di perusahaan yang baru di beli Satria.


"Oh, ya, sebelum kita kembali ke Jakarta, jangan lupa belikan oleh-oleh untuk Dio..!"


"Siap bos!" jawab Bara antusias.


Dio adalah putra kesayangan Satria. Kemanapun ia pergi tak pernah lupa membawa oleh-oleh untuknya.


Tak berselang lama.


ponsel Satria berbunyi.


"Hai.. Jagoan papa..! Lagi ngapain?" sapanya penuh kehangatan.


"Lagi belajar, Pa. Papa pasti ada di mall. " tebak Dio sukses membuat Satria tersenyum tipis.


"Papa tidak lupa, kau pasti minta oleh-oleh, kan?" bocah itu terlihat mengangguk.


"Dio, dimana Oma?" lanjut Satria.

__ADS_1


Setelah itu ponsel berpindah ke Bu Lidia.


"Sat, bagaimana pekerjaanmu disana?"


"Lancar, Ma. Mungkin besok sudah bisa pulang." jawab Satria.


Bu Lidia terlihat sendu.


"Kau tidak usah buru-buru kembali, nikmati waktumu di sana, siapa tau ada hatimu bisa yang tersangkut disana."


Satria melengos. Ia tidak mau membahas soal wanita lagi.


"Dio bagaimana?"


"Tenang, dia aman sama Mama.."


Telpon terputus.


Bu Lidia memandangi Dio yang sedang bermain.


"Seandainya saja waktu bisa di putar kembali, pasti kau masih bisa tersenyum saat ini." ucapnya pelan.


Di tempat lain, Yasmin sedang membujuk Rayyan yang ngambek.


"Mama bohongin Ray, katanya mau panggilin papa, tapi kenapa Om Adam?"


"Memang Om Adam papanya Ray sekarang."


"Ray tidak mau! Ray maunya papa yang kayak di mall itu." Rayyan mulai menangis.


Yasmin , Dilla dan Adam merasa bingung.


Karna kecapean menangis, akhirnya Rayyan tertidur.


Mereka bertiga duduk di ruang tamu sambil membahas kejadian tadi.


"Kayaknya kau harus benar-benar menghubungi Satria." kata Dilla.


"Tidak! Aku tidak mau kehilangan Rayyan."


Jawab Yasmin cepat.


"kau mau kejadian tadi akan terulang setiap hari?"


"Lalu aku bagaimana?" tanya Adam polos.


"Yee..!!" ujar Yasmin dan Dilla serentak.


"Dalam keadaan seperti ini pun kau masih memikirkan dirimu sendiri." ketus Dilla.


"Tapi sungguh mencintai Yasmin."


"Makan tuh cinta!" ucap Dilla sengit


Di tempat lain, di kamar sebuah hotel mewah.


Satria sedang berbaring di ranjangnya.


Ia memandang sebuah liontin yang berbentuk hati, di dalamnya ada photo dirinya dan Yasmin.


"Sudah sangat lama sejak kejadian itu, kenyataannya aku belum bisa melupakanmu.


Dimana kau Yasmin? anak kita cowok apa cewek. Kira-kira? Mungkin kalau cowok sudah sebesar anak yang tadi siang di mall itu."


Tiba-tiba saja ingatan Satria tertuju pada Rayyan.


"Anak yang lucu dan pintar. Orang tuanya pasti juga cantik dan tampan." tanpa sadar sudut bibirnya terangkat saat mengenang Rayyan.


"Kenapa aku tiba-tiba teringat anak itu, ya? Aku merasa dekat dengannya. Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja."


Satria meraih ponselnya.


"Bara, bagaimana kerjasama dengan designer itu?"

__ADS_1


"Besok perwakilan kita akan mengadakan pertemuan yang kedua kalinya. Aku sudah membaca profosal yang dia ajukan cukup menarik." jawab Bara lewat telpon.


"Ya sudah. Kau atur saja gimana baiknya. Aku ingin secepatnya pulang begitu urusan selesai!" telpon langsung di putusnya.


__ADS_2