
Satria mengantar Rayyan pulang. Di dalam mobil, ia melirik Satria.
"Kenapa, Ray? Papa ganteng, ya kok di lirik kayak gitu." ia menggoda bocah kecil itu.
Rayyan mengangguk cepat.
"Papa seperti super hero yang sering Ray tonton." ucapnya bangga.
"Papanya siapa dulu?" Satria mengibaskan rambut tebalnya.
Ia terharu, ternyata banyak hal menyedihkan yang sudah di alami Rayyan selama ini, termasuk tuduhan sebagai anak haram. Itu sangat menyakitkan buat Satria.
Ia meraih Rayyan lebih dekat dan mengecup kepalanya.
Satria meraih ponselnya.
"Iya, Bar.."
"Ada beberapa berkas yang harus tau tanda tangani hari ini." jawab Bara di ujung sambungan.
"Tapi aku sedang bersama Rayyan."
"Hanya sebentar, kau bawa saja dia kekantor."
"Baiklah, aku coba tanya yang bersangkutan dulu.' Satria memutus telponnya.
"Ray, mau ikut ke kantor papa, ngga?"
"Tapi Ray harus minta ijin sama mama dulu."
Satria mengangguk bangga.
walaupun jauh dari keluarga, Yasmin mampu mendidik anaknya dengan etika dan sopan santun yang baik.
"Tenang saja, kita telpon Mama"
Satria menyambungkan Rayyan dengan mamanya.
"Mama, Ray boleh ikut kekantor papa, ngga?"
"Tidak usah, minta papa langsung nganterin pulang dulu."
Satria mengambil ponselnya dari tangan Rayyan.
"Halo, Yas. Boleh, ya,! Soalnya jarak ke kantor sudah lebih dekat."
Yasmin terlihat berpikir sebentar.
"Baiklah, tapi habis itu cepat antar pulang, ya!" ucapnya tegas.
"Siap, nyonya...!" jawab Satria senang.
Yasmin menyembunyikan senyumnya.
"Nyonya Satrio, apa kau tidak rindu padaku?" godanya lagi.
"Eh, ada Rayyan. Apa tidak malu sama anak kecil?"
"Kenapa harus malu? Rayyan justru suka kalau kita dekat, iya, kan Ray?" ia kembali mengarahkan kameranya ke Rayyan yang mengangguk senang.
"Tu, kan.. Dia senang kok"
"Tapi aku tidak senang." jawab Yasmin bercanda.
"Apa yang kau ucapkan berbeda dengan yang kau rasakan." tebak Satria telak.
"Itu lihat pipimu memerah..." imbuhnya lagi.
"Sudah, sudah... Pokoknya nanti cepat bawa pulang Rayyan nya. Dan ingat! jaga baik-baik, dia tidak boleh kenapa-kenapa." ancam Yasmin.
"jangan khawatir, disitu ada Bara juga yang akan bantu mengawasinya..."
Panggilan terputus.
***
__ADS_1
Sebelum Sampai di kantor, Satria sengaja membawa Rayyan ke mini market untuk membeli makanan kecil dulu.
"Ray, boleh ambil semua yang Ray suka."
Rayyan terlihat senang. Tapi kemudian wajahnya kembali biasa. Ia hanya mengambil dua bungkus camilan dan sebotol minuman.
"Kenapa hanya mengambil itu? Tidak ada lagi yang Ray sukai?" selidik Satria.
"Ini aja, Pa. kita tidak boleh mengambil yang tidak perlu, katanya Mama."
Satria terharu. Anak yang tidak pernah dapat kasih sayangnya itu berkata dengan bijak. Ia ingat bagaimana Dio kalau sudah di ajak belanja. Mungkin kalau bisa, ia akan membeli tokonya sekalian. Itu saking banyaknya yang dia ambil.
Tapi Rayyan malah kebalikannya.
Satria membayarnya. Setelah selesai, dia membawa Rayyan ke kantornya.
Ia melangkah dengan penuh wibawa sambil menggandeng Rayyan. Membawanya ke ruangannya.
Semua mata memandang kagum pada mereka.
"Siapa anak tampan itu, apa mungkin dia anaknya pak Satria?"
"Mungkin juga, lihat saja mereka sangat mirip." Jawab yang lain.
Satria acuh saja mendengar keheranan para karyawan nya.
"Halo Rayyan, selamat datang di kantor papa Satrio.." Bara menyambut mereka dengan senyum merekah.
Rayyan melihat kearah papanya, ia belum menyambut uluran tangan Bara.
"Kata mama, Ray tidak boleh sembarangan percaya pada orang asing."
Satria tergelak sekaligus bangga pada putranya.
"Bagus, benar itu Ray. tapi dia ini Om Bara. Sahabat baik Papa."
Setelah di jelaskan, Rayyan baru mau menyalami Bara.
"Luar biasa, masih kecil tapi tingkat kewaspadaannya sangat tinggi." puji Bara.
"Benar, sifatnya juga kenapa bisa jauh beda sama Dio.." Bara menggeleng heran.
"Didikannya yang lain." ujar Satria.
Mereka membiarkan Dio bermain sendiri.
Sampai akhirnya saat pekerjaannya selesai, Satria memanggilnya.
Tapi Satria heran karna Rayyan tidak ada di tempatnya.
Satria panik dan memanggil Bara.
"Iya, barusan dia disini..." ucapnya ikut heran.
"Sekarang cari Rayyan, aku tidak mau tau, dia harus ketemu!" ucap Satria putus asa.
Bara menelpon bagian sekuriti, ia menyuruh memeriksa orang yang datang dan pergi.
Sementara itu dia mengumpulkan seluruh karyawan di kantor itu.
Namun semua tidak ada yang tau dimana Rayyan berada.
"Apa yang harus aku katakan pada Yasmin...!" ucapnya putus asa.
"Sebaiknya kau berterus terang saja, apapun reaksi ya dia harus tau."
Satria setuju. dia langsung menelpon Yasmin.
"Iya, Sat.. Kau sudah mengantar Rayyan pulang, kan?" sapa Yasmin langsung.
Satria terdiam. Ia tidak tau harus memulai dari mana.
"Halo, kau masih disana?" suara Yasmin kembali terdengar.
"Kasi ponselnya pada Rayyan. aku mau bicara..."
__ADS_1
"Yasmin... Rayyan hi-lang.."
"Apa? hilang? Kenapa di tanganmu dia bisa hilang? Sudah ku bilang, dekat denganmu adalah bahaya buat anak ku!"
Satria menutup telinganya karna suara Yasmin begitu keras sampai telinganya berdenging.
"Pokonya aku mau Tautan segera ditemukan apapun caranya!" Yasmin menutup telpon dengan kasar.
"Kita harus mencarinya sampai ketemu."
Satria memandang Bara.
Mereka bergegas keluar dari Kantor itu
"Kalau memang Rayyan di culik, lalu siapa yang akan menculiknya? Aku tidak punya musuh." ucap Satria mencoba mengingat ingat.
"Coba kau ingat lebih baik lagi... Barangkali ada orang yang pernah kau kecewakan barangkali. namanya di dunia bisnis sda orang yang baik pada kita, ada juga yang tidak tulus."
"Seingat ku tidak ada, kecuali Om Bram. tapi apa dia Tsu kalau Rayyan adalah putraku dari Yasmin?"
Bara ikut berandai andai.
"Apa mungkin Kirana, Sat...?"
"Ah, mana mungkin. dia mang wanita keras dan licik. Tapi untuk menculik anak kecil, aku rasa dia tidak akan bisa melakukannya. Bagaimanapun dia juga seorang ibu.
Sementara itu, saat menerima berita itu. Yasmin segera menuju kantor Satria. Dengan mata berlinang ia memasuki lift.
Ia tidak menyadari kalau teman di dalam lift itu adalah Kirana.
Keduanya sama-sama terkejut.
"Mba Kirana?"
Kirana tak kalah kagetnya.
"Ternyata dunia begitu sempit, Ya? Ternyata kita di pertemukan lagi disini.' ucapnya dengan sifat angkuhnya.
"Kau sendiri kenapa di sini?" tanya Yasmin curiga. "Jangan-jangan dia ada hubungannya dengan menghilangnya Rayyan?" ia membatin sendiri.
"Apa perduli mu? Ini kantor suamiku.. aku bebas mau datang kapan saja!" jawabnya dengan sinis.
'Dan kau? Apa yang kau lakukan disini? Jangan bilang kau mau menemui suamiku juga.! Kami sudah tenang setelah kepergian mu, sekarang kau datang dan merusak segalanya."
Pintu lift terbuka.
Mereka keluar bersama.
"Ayo jawab! berhenti menggoda Satria, dia hanya masa lalu mu!" bentak Kirana.
Ia sangat marah dan cemburu melihat Yasmin.Kiran menampar Yasmin dengan keras.
"Itu imbalan karna kau sudah menggoda suami orang!" Kirana tidak perduli dengan kerumunan para karyawan.
Dia hampir melangkah saat tangan Yasmin menahannya. dan tangan yang satunya lagi membalas tamparannya barusan.
Kirana memegangi pipinya yang terasa perih.
"Sebelum menuduhku menganggu suami orang, jaga dulu suami mu agar menjauh dariku dan juga anak ku!" ucap Yasmin tak kalah keras.
Karyawan yang menyaksikan ikut bingung.
Sebenarnya yang mana yang istrinya pak Satria?
"Kau berani, ya sekarang?" tantang Kiran. Namun Beberapa orang mulai memisahkan mereka.
Yasmin meninggalkan kantor itu dengan hati gelisah dan marah.
Di parkiran, ia berpapasan dengan Satria dan Bara.
"Yasmin..." Yasmin tidak menggubris panggilan Satria. Ia masih sakit hati atas tuduhan Kirana.
"Kau jangan bersikap seperti ini. aku memang salah, kita akan mencari Rayyan sama-sama. Tapi jangan diam seperti ini.' Satria memegang bahu Yasmin.
"Sudah ku peringatkan dari awal, jangan dekati kami. Kehadiranmu hanya akan membahayakan nyawa Rayyan. sebelumnya tidak pernah terjadi seperti ini." ucap Yasmin sambil menurunkan tangan Satria dari bahunya. Ia langsung masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya.
__ADS_1
Dari jarak beberapa meter, Kirana menyaksikan adegan itu.