
Kirana berdandan secantik mungkin, karna memang dasarnya dia orang kaya, dia tidak merasa kesulitan dengan dandanan yang menurutnya pantas untuk kaum sosialita seperti mertuanya.
"Aku lupa bertanya pada Satria, acara makan malamnya indoor atau outdoor, sih? Aku, kan perlu menyesuaikan kostumnya."
Kirana bermaksud menghampiri Satria di kamarnya.
"Sat..." ia melihat kamarnya yang sedikit terbuka.
"Kemana dia?" Kirana masuk perlahan. Satria tidak nampak di manapun."Mungkin sedang di kamar mandi." pikirnya dan memutuskan keluar. Tapi langkahnya terhenti saat melihat kotak kecil berwarna pink di meja.
iseng dia mengambil dan membukanya.
Matanya melebar saat tau isinya.
"Sangat indah.. Apakah sebenarnya dia tau ulang tahunku, bahkan diam-diam sudah merencanakan sesuatu. Dan ini hadiah nya untuk ku. Ah, Satria ternyata sangat romantis."
Kirana melihat pintu kamar mandi yang bergerak.
"itu pasti Satria. aku harus pura-pura tidak tau tentang kejutannya." ia meletakkan kembali kotak itu di tempatnya.
Ia bergegas keluar sebelum Satria memergokinya.
"Aku sudah siap..!" jawab Kirana muncul di belakang Satria.
"Ayo..!" Satria membukakan pintu mobil untuk Kirana.
Kali ini ia sengaja minta mobil pada Bara karna ia tau harus membawa Kirana juga.
"Kenapa dia biasa saja, dia sama sekali tidak bilang aku cantik kek atau apa?" batin Kirana heran.
"Tapi tidak apa-apa. aku tau, dia pasti jaim menunjuk kan perasaanya padaku." ia tersenyum sendiri membayangkan Satria akan menyematkan cincin hadiahnya di depan Yasmin.
"Rasain kau gadis sombong!" umpatnya pelan agar tidak terdengar Satria.
"Eh kita kemana? Setahuku, ini bukan jalan menuju rumah Mama."
"Memang.." jawab Satria cuek.
"Lalu kita kemana?" Kirana merasa tak sabar.
"Menjemput Yasmin sekalian.' jawab Satria enteng.
"Apa? Menjemput Yasmin?" hati Kirana benar-benar dongkol. Masa Satria mau merubah mood nya yang sudah begitu bagus.
tanpa memperdulikan reaksi Kirana, pemuda itu langsung turun ketika sampai di kafe.
Satria langsung masuk mencari Yasmin
Tanpa di sangkarnya, Yasmin sedang bicara dengan Bram.
Yasmin kaget dan berusaha menjelaskannya.
"Ini bukan seperti yang kau lihat. Aku sudah menjelaskan padanya agar menjauhiku. Itu yang sedang aku lakukan." Mata Satria berkilat menahan amarah. Ingin sekali ia menonjok muka Om nya. Tapi ia sadar sedang berada dimana saat itu.
Tangan Satria mengepal sambil memandang Bram. pria itu buru-buru bangkit dan keluar dari tempat itu sambil berkata pada Yasmin.
"Urusan kita belum selesai, manis."
Yasmin menghela nafas berat. "Ini pasti panjang urusannya." pikir Yasmin.
Kirana yang penasaran berusaha ikut masuk dan akhirnya menyaksikan yang terjadi diantara mereka bertiga.
"Sudah aku bilang, aku bisa memaklumi kesalahan apapun, kecuali yang menyangkut Bram. Kamu masih ingat itu, kan?" suara Satria pelan namun penuh penekanan.
Yasmin terdiam. Ia merasa tidak ada gunanya menjelaskan pada Satria saat ini.
__ADS_1
Satria keluar dengan tergesa. Yasmin mengejarnya.
Kirana sengaja sudah menunggu di mobil dan pura-pura tidak mengetahui yang terjadi.
"Ayo masuk!" ujarnya pada Yasmin.
Tanpa banyak bicara ia menurut saja.
Yasmin merasa kaget karna dalam mobil ada Kirana.
"Jadi di sini tempatmu bekerja? Ramai juga,... kata Kirana bernada mengejek.
"Tapi kalau boleh bilang, ramainya oleh Om-om." imbuh Kirana dengan suara pelan.
Mendengar itu, Yasmin hanya terdiam. Ia tau Kirana sedang memancing di air keruh.
Satria yang mendengar itu memukulkan tangannya di setang kemudi.
Yasmin benar-benar menyayangkan kenapa Satria bisa datang saat Bram bersamanya. padahal saat itu Yasmin sedang menjelaskan alasan mereka tidak bisa berteman lagi.
Satria terlanjur salah paham.
Satria sendiri menyesalkan kenapa Yasmin berani melanggar larangannya.
Ia sangat marah pada gadis yang duduk di sampingnya itu, tapi dia juga sangat mencintainya.
Sampai di tempat Bu Lidia, suasana tampak sepi. Hanya ada beberapa lampu yang menyala.
"Beneran Mama mengundang kita makan malam? tapi kok sepi begini?" Kirana merasa heran.
"Ayo kita masuk!"
Kirana dan Yasmin mengikuti langkah Satria.
Ketika mereka berada di ruang tengah, tiba tiba lampu utama menyala.
Hanya Satria dan Yasmin yang terlihat tegang dan gelisah
Kirana tak menyangka ada kejutan besar untuknya.
"Selamat ulang tahun, sayang." ucap Bu Lidia sambil memeluknya.
"Terima kasih, Ma." Kirana balas merangkulnya. Semua terbawa arus kebahagiaan kecuali Satria dan Yasmin.
di tengah acara, Bara datang membawakan Bungkusan besar yang di pesan Satria.
"Letak kan saja disana!" perintah Satria acuh.
Bu Lidia menyerahkan sebuah kotak kecil sebagai hadiah pada Kirana.
"Sayang.. Ini adalah warisan turun temurun keluarga kita, Mama menerimanya dari mertua Mama yaitu neneknya Satrio. Mama sudah berjanji akan menurunkan pada istrinya Satrio, dan sekarang kau berhak menerimanya."
Kirana membuka dan melihat isinya.
Sebuah kalung cantik bertahtakan berlian.
"Terima kasih, Ma. Sangat cantik." Kirana merasa benar- menjadi anggota keluarga itu seutuhnya.
Ia bangga sudah bisa merebut hati Bu Lidia.
Ia melirik wajah Yasmin yang muram sejenak.
"Satrio sayang... Ayo dong mana hadiah istimewa mu untuk Kirana?" Bu Lidia mengingatkannya. Satria tidak menyadari pertanyaan Mamanya.
Bu Lidia menyentuh pundak putranya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Mama...?" Satria tergagap.
Bu Lidia mengulang pertanyaannya.
Satria mencari keberadaan Bara yang membawakan kado untuk Kirana.
"Ada kok, Ma. Satria sudah menyiapkan kado istimewa buat ku " Kirana bersuara.
"Satria... Ayo keluarkan hadiahnya!" bisik Kirana manja.
"Aku sedang mencarinya..." balas Satria sambil matanya mencari-cari Bara.
Tiba-tiba Kirana mengambil sendiri kotak kecil dari kantong jas Satria.
"Biar aku ambil sendiri hadiahku." ucapnya tanpa mengindahkan Satria yang melarangnya.
"Kiran, itu bukan milikmu!"
Kirana tertegun. Ia baru tau kalau cincin indah itu bukan di siapkan Satria untuknya.
Namun kepalang tanggung. Ia ingin membuat Yasmin kecewa.
"Terima kasih hadiahnya sayang.. Sangat indah." ucap Yasmin di depan banyak orang.
Satria tidak bisa berkata lagi. Yasmin yang melihat hal itu merasa hancur. Hadiah yang sekiranya di siapkan Satria untuknya kini menjadi milik Kirana.
Satria mencari-cari keberadaan Yasmin, namun gadis itu tidak terlihat.
Diam-diam Satria menyelinap keluar dari keramaian dan mencari Yasmin.
Ia mendapati Yasmin sedang termenung sendirian di balkon.
Satria mendekatinya.
"Aku tidak tau ini yang akan terjadi. Aku tidak berdaya di depan Mama." ucapnya dari belakang Yasmin.
Yasmin hanya terdiam. Ia tidak menoleh sedikitpun.
"Maafkan aku." ucap Satria lagi.
"Aku tidak terlalu sedih dengan hadiah itu, tapi aku sedih karna tidak bisa bernasib baik seperti yang Kirana dapatkan."
Satria menarik tangan Yasmin dan mendekapnya erat di dadanya.
"Aku minta maaf, belum bisa memberikan apa yang seharusnya menjadi milikmu."
"Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku, aku merasa sendirian di dunia ini..." ucap Yasmin dengan mata berlinang.
Satria semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau tidak sendirian, ada aku yang akan selalu menemani dan melindungi mu."
Satria begitu terenyuh dengan keadaan Yasmin. Ia sampai melupakan masalahnya dengan Bram.
Kirana yang merasa curiga karna tidak melihat Yasmin dan Satria tidak ada di tempat dan dalam waktu yang bersamaan.
Diam-diam dia meninggalkan acara untuk mencarinya.
Kirana mendapati mereka sedang berpelukan di balkon.
Hatinya bertambah kesal dan di liputi dendam.
Ia memang mendapatkan kasih sayang Mama Lidia, tapi Satria semakin jauh darinya.
__ADS_1
.