SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 63


__ADS_3

Yasmin memutuskan pura-pura menerima


Syarat dari Bram. ia tau resiko dari keputusannya itu. Satria akan membencinya. Tapi tidak ada jalan lain lagi, ia tidak mau Satria di penjara. Ia juga. tidak mau Rayyan kehilangan sosok ayahnya lagi.


"Mudah-mudahan Allah memudahkan jalanku." bisiknya dalam hati.


Bu Lidia sangat tidak setuju dengan keputusannya. Tapi dia juga tidak bisa melarangnya.


Seharian itu dia bersikap dingin pada Yasmin.


 Setelah menyiapkan beberapa baju dan beberapa keperluannya. Dia mendekati mertuanya.


"Ma, aku memilih jalan ini karena terpaksa. Mama tau persis alasannya. Tolong dukung Yasmin,Ma."


Bu Lidia masih mendiamkannya.


"Aku titip Rayyan, Ma..! Aku percaya pada Mama."


Bu Lidia masih tidak bicara.


"Kau yakin dengan keputusan mu ini? Pak Satria akan marah besar, Yas."


"Aku tau, Dil. aku sudah memikirkan resiko nya. Aku titip Rayyan dan butik kita."


Yasmin merangkul Dilla.


Yasmin memantapkan hatinya.


Dia menuju tempat Bram.


Sampai di tempat Bram, dia langsung di sambut oleh beberapa orang gadis.


Mereka mengambil alih koper yang di bawa Yasmin.


"Bawa aku ketempat Om Bram...!" ucapnya dingin


Seorang wanita mengantarnya ke sebuah ruangan.


Di sana sudah menunggu Bram dengan senyuman lebar.


"Selamat datang manis ku, aku memang yakin kau pasti datang.'


"Aku tidak mau berbasa basi. Tepati janjimu, bebaskan Satria!" ucap Yasmin dingin.


"Jangan tergesa gesa.. Kita rayakan dulu kerjasama kita "


Yasmin menahan nafas. sebenarnya ia merasa eneg berada di dekat Bram.


Bram beringsut mendekatinya.


Dia meraih tangannya dan menciumnya.


Yasmin mengibaskan tangannya.


"Om, perjanjian kita hanya sebatas aku meninggalkan Satria. Aku tidak menjanjikan yang lainnya."


Bram mengangkat kedua tangannya.


"Ups. Sorry manis, Om lupa. Baiklah... Sekarang istirahatlah dulu."


"Jangan ingkar janji, Om. Kalau sampai itu terjadi, Kau akan tau akibatnya." ancam Yasmin.


Bram tersenyum mengangguk.


Setelah Yasmin pergi kekamar yang sudah dia sediakan. Bram mengirimkan sesuatu ke nomor Satria.


"Ini adalah hadiah pertama dariku bocah tengil..." ucapnya dengan senyum kemenangan.


Ting


Satria sigap membuka ponselnya.


dia menahan nafas saat melihat photo Yasmin terpampang jelas sedang duduk depan Bram.


Hati Satria menjadi panas.

__ADS_1


Dia langsung menelpon Bram.


"Apa maksudmu dengan semua ini?"


"Apa masih perlu aku jelaskan? Ku rasa Kau cukup cerdas menyimpulkanya."


"Awas kau, jika aku sampai melihatmu di depanku, aku pastikan kau akan merangkak meminta ampun."


Satria begitu marah. Dia langsung memutus telpon dari Bram.


Satria mondar mandir di sel yang tidak begitu luas itu.


Dia menelpon Yasmin, tapi selalu di luar jangkauan.


"Ayo angkat, Yas..!" pekiknya tertahan.


"Mama. ya . aku bisa bertanya pada mama." ucapnya antusias.


Satria tergesa memencet nomor Bu Lidia.


"Ma, kenapa ponsel Yasmin tidak aktif? Aku khawatir padanya."


Bu Lidia menarik nafas berat.


"Ma, kenapa mama diam saja. dimana Yasmin?" perasaan Satria semakin tidak enak.


"Yasmin ingin kau bebas. dan dia rela menukar dirinya dengan kebebasan mu." suara Bu Lidia begitu tertekan.


Ponsel yang di pegang Satria tiba-tiba terjatuh dari tangannya.


Dia luruh k luruh ke lantai sel yang dingin.


"Yasmin... Kenapa kau tidak mendengarkan peringatanku?" Satria begitu geramnya, di memukul tembok hingga tangannya berdarah.


Antara kecewa, benci dan sakit hati bercampur aduk dalam dadanya.


"Lalu apa artinya kebebasanku kalau dia sendiri terperangkap disana? Dasar bodoh, kenapa dia tidak memikirkan perasaanku, ataupun Rayyan?"


Satria masih menyesali keadaan.


Lama dia duduk termenung.


Dia segera menelpon Bara.


"Jangan lanjutkan kasus ini. tidak perlu mencari pembelaan. Aku akan mengakui tuduhan itu.!" suaranya penuh amarah.


"Kenapa, Sat.?" Bara merasa heran dan kaget..


Tak berapa lama, Kedua pengacara Satria datang bersama Bara.


'Ada apa, pak? Kami dengar dari pak Bara, kalau anda ingin menyudahi kasus ini? Apa alasannya?"


"Kalian tidak perlu tau alasannya." ucap Satria dingin.


"Tapi kita sudah berjuang terlalu jauh.." ucap pengacaranya."


"Saya bilang, tidak. ya tidak..! Masalah bayaran jangan khawatir. Bar, urus semuanya!"


Mereka hanya bisa saling pandang melihat keanehan Satria.


Mereka terpaksa pergi tanpa bisa berkata apa-apa.


"Maaf, bapak-bapak, pak Satria mungkin sedang stress atau semacamnya. Jangan keburu di ambil hati. Kita juga belum tau alasan dia membatalkan semuanya. Jadi saya harap jangan tinggalkan kasus ini. "


Setelah berkata demikian, Bara mempersilahkan mereka pergi.


Sementara itu, Bu Lidia langsung menemui Satria saat tau dari Bara apa yang terjadi.


"Apa maksudmu? Kau mau mengakui kesalahan yang tidak pernah kau lakukan? Ingat anakmu! Ingat juga pengorbanan istrimu!" ucapnya penuh emosi.


Satria masih terdiam menatap ruang kosong.


"Ayolah, Nak. Mama tidak bisa mengerti jalan pikiranmu." keluhnya lagi.


"Dan menurut Mama aku harus bersorak gembira karna akan bebas, sedangkan dia menggadaikan dirinya demi kebebasanku? Lalu apa artinya kebebasan itu?"

__ADS_1


Bu Lidia terdiam.


"Mama juga tidak setuju, tapi Yasmin merasa tidak ada jalan lain lagi.." ratapnya putus asa.


"Dia sangat bodoh! dia pikir aku akan berterimakasih dengan pengorbanannya ini?


Mama tau bagaimana Bram, Yasmin itu terlalu polos untuk di manfaatkan olehnya." tinju Satria kembali mengepal.


Bu Lidia masih terdiam.


Mereka bergelut dengan pikiran masing-masing.


***


Sementara itu di tempat Bram. Yasmin di manjakan dengan berbagai macam kemewahan.


Seperti kamar yang dia tempati sangat mewah dan luas. Belum lagi Bram menempatkan dua orang pelayan di depan kamarnya yang khusus melayani keperluannya


Yasmin duduk di tepi ranjang yang empuk itu.


Ia memandang hampa keseluruh ruangan itu, ia juga merasa sendiri di tengah kemewahan itu tanpa Satria di sampingnya.


Ia kembali mendesah panjang.


"Maafkan aku, Sat. Bukannya aku tidak perduli perasaanmu. Aku ingin kebebasan mu, aku mau duniamu kembali lagi seperti dulu. Walaupun harus aku bayar dengan harga yang sangat mahal." Yasmin mendekap ponselnya yang ada photo suami dan anaknya.


'Kalian berdua adalah nafasku. Kalau kalian menderita, aku tidak akan bisa bernafas lagi." isaknya pilu.


Kemudian dia berdiri, melirik seluruh sudut ruangan. Dia yakin Bram sudah memasang alat pengintai di kamar itu. Pria licik itu tidak akan membiarkannya bebas.


"Ini bukan saatnya menangis Yasmin...


kau harus kuat.." ia menyemangati dirinya sendiri.


Ia mulai berpikir bagaimana caranya mendapatkan bukti bahwa Satria tidak terlibat dalam insiden itu.


"Om, Bram pasti punya sesuatu, karena itu dia berani menekan ku. Aku akan mencari tau, tapi bagaiman caranya?"


Yasmin memeras otaknya untuk mencari akal.


"Ah, menjijikan.." ucapnya sendiri saat menyadari sebuah ide konyol.


"Tapi, tidak ada cara lain lagi. Aku harus memanfaatkan keadaan. Dia sangat tergila-gila padaku kenapa aku tidak memanfaatkan itu?"


Setelah berpikir cukup lama dia memutuskan menemui Bram. Tak lupa Yasmin memoles wajahnya dengan sedikit riasan. Baju yang sudah di siapkannya dari rumah pun di pakainya.


"Maafkan aku Sat.. Aku tidak bermaksud membuat kau terluka jika sampai melihatku seperti ini."


kemudian dia melangkah kearah Bar yang terletak di lantai bawah.


"Nona, ada yang bisa kami bantu?" dua orang pelayan itu langsung menghampirinya.


"Tidak, terimakasih. Aku hanya ingin menemui tuan Bram."


Mereka mengikuti langkah Yasmin.


Dengan langkah ragu. Yasmin memasuki Bar pribadi milik Bram.


Disana dia melihat pria itu sedang minum bersama para sahabatnya dan di temani beberapa orang wanita cantik.


Melihat Yasmin datang dia terpana. Penampilan Yasmin yang cukup berani dari biasanya membuatnya tersenyum lebar.


Hanya dengan satu isyarat tangannya, para sahabat dan pelayannya langsung menghindar.


"Silahkan Nona..!" ucapnya meraih tangan Yasmin,menciumnya dan menuntunnya duduk di kursi.


"Terima kasih."


Yasmin memasang senyum manisnya. Walaupun sebenarnya dia merasa muak.


"Angin apa yang membawamu melangkah ke Bar ku ini?"


Yasmin menatap sekeliling. ia menata nafasnya agar terlihat alami.


"Aku sumpek di kamar, Om. Makanya aku gabung kesini." ucapnya mengangguk.

__ADS_1


"How.. Sangat mengejutkan. Seorang Yasmin bisa berubah begitu cepat, apakah ini hanya sandiwara?" selidiknya sambil menuang minuman yang mahal di gelas Yasmin.


.


__ADS_2