SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 31


__ADS_3

Yasmin melajukan motornya dengan pelan.


Ia tiba di sebuah kafe tempat merek janji bertemu. Suasana masih adak sepi,


seorang pria mendekatinya.


"Cari siapa mbak?"


"Pak Wijaya, kami sudah berjanji ketemu disini."


"Owh.. Mbak Yasmin, kan?"


Yasmin mengangguk heran.


Darimana pria itu tau namanya..


"Mbak, sudah di tunggu di meja nomor tujuh. Silahkan!"


Pria itu berjalan di depan Yasmin.


Benar saja, seorang pria berpenampilan rapi sedang menunggu disana.


Di luar dugaan Yasmin, orang yang bernama Wijaya itu ternyata masih muda. Mungkin hanya beberapa tahun di atas Yasmin.


"Silahkan duduk!"


Ucapnya ramah


Yasmin duduk dengan sopan.


Silahkan pesan minuman dulu, biar kita lebih rileks saja."


"Saya mau air putih saja, pak."


Tak berapa lama air putih datang di meja mereka.


"Bagaimana? Kita mulai saja pembicaraan bisnis kita?"


"Itu lebih baik, Pak!" jawab Yasmin tetap dengan sikap sopannya.


Yasmin mulai mengeluarkan contoh -contoh design yang di milikinya sambil menjelaskan dengan rinci.


Pria di depannya terlihat terkesan dengan cara bicara Yasmin.


"Okey, saya sudah melihat dan membaca detail produk yang anda tawarkan. Tapi semua harus melalui persetujuan bis kami dulu. Harap maklum. Dan ini detail kerjasama yang kami tawarkan. Jadi silahkan kau pelajari. Dua hari lagi kita akan bertemu untuk membahasnya."


Mereka berjabat tangan dan berpisah disana.


"Uaahm.. ! Lega rasanya, mudahan aku bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan ini." ucap Yasmin sambil membanting tubuhnya di kasur.


"Memang kenapa dengan perusahaan itu?" Dilla tiba-tiba saja nongol di pintu.


"Yang aku dengar, perusahaan ini cukup di segani. Walaupun bukan perusahaan besar tapi mereka cukup berani berspekulasi."


Dilla manggut-manggut.


"Terus hubungannya sama usaha kita, apa?"


"Yang pastinya banyak, Dil. Kamu bayangkan saja, kalau kita bisa menjalin kerjasama dengan mereka, otomatis usaha kita juga akan naik pamor. Tapi..."


Ucapan Yasmin menggantung.


"Tapi kenapa?"

__ADS_1


"Aku dengar-dengar, bis mereka sangat kasar, dingin apalagi terhadap pegawai cewek. Aku jadi ngerii..!" Yasmin bergidik.


"Allaaah ... Itu, kan berlaku pada karyawan mereka. Sedangkan kau, kau adalah relasi bisnis untuk mereka." alibi Dilla cukup menenangkan hati Yasmin.


"Ah, ya Dil, gimana dengan Rayyan hari ini?"


Dilla terdiam sejenak.


"Rayyan menangis karna rebutan mainan sama temannya, tapi bapak dari temannya itu datang dan melerai mereka. Hasilnya, sepanjang perjalanan pulang dia ngambek pingin punya papa kayak temennya."


Yasmin kembali terhanyut ke masa lalu. Mm


"Bagaimana kabar Satria sekarang? Apa yang sedang di lakukannya saat ini?"


Tiba-tiba rasa rindu begitu menghimpit dadanya. Setelah lima tahun berlalu, Yasmin tidak pernah bisa melupakan Satria. Walaupun banyak pria yang berusaha mendekatinya. Ia belum bisa membuka hati untuk pria lain. Jauh di lubuk hatinya, ia masih berharap bisa bertemu Satria.


"Woii... Ngelamun lagi..." suara Dilla mengejutkannya.


"Aku tidak melamun Dil, aku hanya..."


"Hanya rindu setengah mati pada papanya Rayyan, itu kan maksudmu?"


Wajah Yasmin langsung bersemu merah mendapat godaan dari Dilla.


"Kau bisa saja.." elaknya sambil tersipu.


"Yas, aku juga wanita. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Lima tahun bukan waktu yang singkat bagi seorang wanita dan single parent seperti mu. Kau mampu bertahan dari pria -pria yang berusaha mendekatimu, itu sebuah bukti kalau di hatimu masih ada papanya Rayyan."


Yasmin terdiam, ia tidak menyangjalnya.


"Demi anakmu.. Cobalah cari tau tentang Satria!" ujar Dilla pelan.


Walaupun belum pernah melihat sosok Satria, namun Dilla cukup mengenalnya lewat tokoh yang di kenalkan Yasmin.


Mata Yasmin memandang kearah photo Rayyan yang terpampang dalam ukuran besar.


"Ini belum terlambat, Yas.." kata Dilla lagi.


"Lalu bagaimana kalau kenyataan nya dia sudah hidup bahagia dengan Kirana? aku takut mengalami kekecewaan yang kedua kalinya." ucapnya Ragu.


"Setidaknya kau sudah berusaha, dan kalau pun itu benar terjadi, kau bisa menentukan langkahmu selanjutnya."


"Pikirkan baik-baik ucapanku ini."


Dilla menepuk pundaknya. Lalu gadis itu permisi untuk ke kamarnya.


Yasmin membuka sebuah kotak kecil yang selama ini di rahasiakan nya.


Di sana ia melihat photo Satria.


Ia pandangi photo itu begitu lama. Ada rindu yang mencabik-cabik hatinya.


Sekilas bayangan Kirana muncul dan membuyarkan wajah Satria.


"Mereka pasti sudah hidup bahagia." gumamnya pelan.


"Tapi tidak ada salahnya aku mencoba seperti kata Dilla. Ini semua demi masa depan Rayyan..."


Yasmin bergegas mandi. Setelah itu ia duduk manis di depan laptopnya.


Ia mulai mengembara di dunia Maya. Ia mencari berita yang berkaitan tentang Satria dan Kirana.


Selama ini ia menahan diri untuk tidak mencari tau, namun saat ini demi Rayyan! seperti kata Dilla.

__ADS_1


Di jaman canggih seperti sekarang bukan hal sulit melacak identitas seseorang. Apalagi orang yang berpengaruh seperti Satria.


Mata Yasmin membesar. tiba-tiba dadanya berdesir aneh saat melihat sosok Satria.


Seorang pengusaha muda yang lagi naik daun.. Namanya banyak menjadi perbincangan di kalangan pengusaha.


Waktu lima tahun tidak tidak banyak berubah dari Satria. Dia tetap terlihat tampan dan cool. Mungkin bedanya sekarang dia terlihat lebih matang. seperti pria dewasa pada umumnya.


Yasmin mencoba mengulik tentang kehidupan pribadinya.


Tidak banyak yang bisa di korek. Seorang Satria jarang mengekspose urusan pribadinya. Satria di kenal sangat tertutup. Hanya saja berita yang tertera, Satria sudah mempunyai seorang anak dari istrinya yang bernama Kirana.


Ada rasa kecewa di hati Yasmin saat membaca berita itu.


"Benar dugaanku. Aku tidak mungkin hadir lagi di tengah-tengah mereka." ucapnya kecewa.


Yasmin tidak tahan untuk tidak mencari tau lebih banyak tentang Satria dan Kirana.


pada halaman berikutnya dia bisa melihat betapa bahagianya Bu Lidia sedang memangku seorang anak laki-laki yang usianya sekitar tiga sampai empat tahunan.


Yasmin tersenyum miris membayangkan nasib Rayyan. putranya tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, apalagi belaian lembut seorang nenek. Tak terasa air matanya jatuh bergulir.


Karna capek dan terbawa perasaan. Akhirnya ia tertidur sambil memeluk Rayyan.


Pagi harinya ..


"Yas... ayo cepat bangun!"


Dilla menggedor pintu kamarnya.


"Astaga .. Kenapa masih malas-malasan? Lihat sudah jam berapa sekarang?"


"Hari ini aku lagi bad mood. Tolong handle dulu pekerjaan ku, ya!" ucapnya dengan rambut kusut.


"Kau kenapa? seperti tidak punya semangat hidup." selidik Dilla.


"Tidak apay ." jawab Yasmin mengelak.


Mata Dilla menangkap layar laptop yang masih hidup.


"Kau?" Dilla mengerti apa yang terjadi.


"Dugaanku benar, Dil. mereka sudah bahagia dan punya seorang putra." ucap Yasmin sambil memeluk lututnya.


Dilla terdiam. Ia merasa iba juga melihat keadaan Yasmin.


"Ya, sudah. Kau tidak boleh patah semangat begitu hanya gara-gara masalah itu. Ingat ada Rayyan yang masih membutuhkan dirimu. Semangat!" Dilla mengacungkan lengannya.


Rayyan menggeliat bangun saat mendengar kehebohan Mama dan tantenya.


"Aiis... Jagoan Mama sudah bangun juga.?"


Rayyan cemberut.


"Kata Tante, kalau Ray mau bobok, pagi-pagi papa Ray akan muncul. Tapi mana?"


Yasmin menatap Dilla.


"Sorry.. abisnya aku kebingungan saat dia minta papa, terpaksa aku jawab begitu."


"Mana papa, Ma?" Rayyan semakin bersemangat.


"Euuh.. Rayyan mandi dulu sama Tante, abis itu kita cari papa." Yasmin tidak ada cara lain untuk mendiamkan anaknya. Terpaksa dia berkata seperti itu.

__ADS_1


Rayyan bersorak gembira. Dengan senang hati dia mengikuti Dilla untuk mandi.


"Mati aku! kenapa harus terjebak dalam permainan Dilla?" omelnya sambil memegangi kepalanya.


__ADS_2