SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 64


__ADS_3

Yasmin berpura-pura ikut larut dalam suasana itu.


"Aku sangat bahagia, akhirnya kau sadar bahwa akulah yang terbaik buatmu. Kau ratu disini, apa yang tidak aku berikan?" ucap Bram dengan sombong.


"Tapi Om akan menepati janji, kan?"


Bram terkekeh.


"Kau semangat sekali untuk membebaskan dia? " mata Bram tajam menatapnya.


Yasmin menyesal tidak mengontrol kata katanya.


"Maksudku, aku hanya memikirkan Rayyan. Bagaimanapun dia adalah ayah kandungnya. Lagi pula bukankah akan lebih baik kalau Satria bebas? Om bisa melihatnya terluka secara langsung. Kalau di dalam sel, apa yang akan dia tau." Yasmin terpaksa meyakinkan Bram dengan menyudutkan Satria.


"Kau benar juga, aku ingin dia menangis darah karena melihatmu meninggalkannya, dan memilih denganku."


Mereka kembali bersulang.


Sampai Bram mulai linglung. Yasmin langsung meletakkan gelasnya.


"Om, langkah apa yang akan Om ambil untuk membebaskan Satria...?" bisik Yasmin pelan.


"Kau liat saja besok." jawab Bram.


"Masa aku tidak boleh tau?"


Bram tidak menjawab.


Dia berdiri dan berjalan terhuyung ke sebuah meja.


Dia mengeluarkan sesuatu.


Selanjutnya, Yasmin di hadapkan pada layar laptop.


Pertama-tama, rekaman itu menampakkan suasana di sebuah ruangan di rumah sakit. tampak Satria sedang berbincang dengan Edgar. Setelah itu Edgar keluar, Satria masuk ke kamar mandi. Pada saat itu muncul seorang pria yang memakai penutup wajah.


Dia mendekati Kirana yang sedang tidur pulas.


Detik kemudian dia menyambar bantal dan menutup wajah Kirana dengan kejam.


Terlihat tangan Kirana yang menggapai gapai seolah minta tolong.


Pria itu menekan bantalnya dengan keras sampai lambaian tangan Kirana melemah..


Setelah Kirana tidak bergerak, pria itu menyelinap keluar.


Saat itulah Satria keluar dari kamar mandi. Ia yang kaget melihat Kirana wajahnya di tutupi bantal, langsung mengangkat bantal itu dari wajahnya.


Karena sudah di setting, pada saat itu Edgar masuk dan memergoki Satria sedang memegang bantal sambil menatap Kirana, seolah-olah dialah yang telah membunuh mantan istri nya itu.


Yasmin menahan nafas. Bram tersenyum penuh kemenangan.


"Jadi begitu kejadiannya..?" Yasmin menata hatinya. Ia berusaha bersikap biasa agar Bram tidak curiga.


"Pintar, kan?"


Yasmin hanya bisa mengangguk.


"Agar Om bisa lebih yakin padamu. Ayo kita berpose, biar Satria melihatnya." ujarnya sambil meraih pundak Yasmin.

__ADS_1


"Buat apa, Om? Tanpa itu juga dia sudah kebakaran jenggot." ucap Yasmin dengan mata perih hampir menangis.


"Kau benar, ya sudahlah. Sekarang kau kembali ke kamarmu. Apa perlu Om yang antar?"


Yasmin mengangkat tangannya sambil tersenyum.


Dia meninggalkan tempat itu dengan menaham gejolak di dadanya.


Sementara Bram memandanginya dengan senyum sinis.


"Kau pikir aku akan tertipu? Aku tau maksudmu sebenarnya mendekatiku. Tapi kau salah, sekali kau masuk perangkap ku, tidak akan bisa keluar lagi.


Lagipula, hitung-hitungan bayar hutang. Tidak dapat Lidia, Yasmin juga tidak apa-apa."


Dia tertawa terbahak-bahak.


Kemudian dia menyimpan barang bukti itu ketempat yang aman.


Ia khawatir kalau Yasmin akan mengambilnya secara diam-diam.


Yasmin sudah tiba di kamarnya saat ponselnya berdering.


Dilla menghubunginya .


Tak sabar ia menyapa Dilla.


"Hai , Dil. bagaimana Rayyan? dia tidak rewel, kan?" Yasmin sudah nyerocos begitu banyak tapi Dilla masih belum bersuara.


"Buat apa kau masih memikirkan Rayyan?"


Sebuah suara berat terdengar, Yasmin menahan nafas.


"Kau wanita yang tidak punya hati..!


Yasmin tidak sanggup bersuara. Iya menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Satria.


"Kenapa kau hanya diam. Ayo jawab!" bentak Satria tak sabar.


Yasmin menata degupan jantungnya.


dia tau, Bram sedang memantau dan menyadap telponnya.


"Lupakan aku Sat. Memang dari awal kita sudah tidak bisa bersatu. Lagi pula, aku tidak mau hidup dengan seorang narapidana.' hati Yasmin begitu perih saat mengucapkan kalimat itu. Dadanya seperti sedang di remas-remas membayangkan betapa terlukanya hati pria itu.


"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. silahkan kau hidup dengan caramu sendiri. Tapi Rayyan akan tetap bersamaku." ucapan Satria lemah seperti sebuah bisikan.


"Mama... Kenapa tinggalkan Ray? Ray janji tidak akan nakal lagi, tapi Mama harus pulang..!" suara Rayyan semakin mengiris hati Yasmin. Dia memutuskan panggilan secara sepihak.


"Sudah kepalang tanggung. Aku akan meneruskan rencana ini..." Yasmi. Berusaha bersikap tegar agar Bram yang sedang memantau ya merasa percaya. percaya.


Sementara di kantor polisi. Satria memeluk Rayyan dengan hati hancur.


"Tidak usah sedih... Walaupun Mama tidak ada, tapi papa akan selalu ada buat Rayyan." wajah Rayyan masih mendung.


"Ayolah jagoan papa masa cemberut begitu?"


"Ayo kita pulang Pa. Ray mau main sama Papa."


Dilla tidak tahan melihat adegan itu.

__ADS_1


Dia memalingkan wajahnya.


Begitupun Adam. Dia hanya bisa menatap dengan sedih.


"Terima kasih, kalian selalu ada disaat seperti ini. Aku titip Rayyan dan Mama ku."


Satria menjabat tangan Adam dengan erat.


"Bapak tidak usah khawatir, aku dan Dilla akan menjaga Rayyan sepenuh hati." Dilla mengangguk.


"Bagaimana kondisi Mama sekarang?"


"Sudah agak baikan, cuma, dokter menyarankan beliau lebih banyak istirahat."


'Kasian Mama... Dia sampai sakit begini karena memikirkan masalahku..." gumamnya lagi.


Adam sudah mengajak Rayyan keluar. Tapi Dilla masih terdiam.


"Pak, Satria.. Saya mohon maaf karena sudah membawa Rayyan kesini. Habisnya dia tidak bisa di bujuk lagi saat bilang ingin ketemu bapak.."


"Tidak apa, kau tidak salah." jawab Satria.


"Pak...! " ucap Dilla ragu.


Satria menoleh.


"Tolong maafkan Yasmin. Dia melakukan ini karena..."


"Karena ingin membebaskan aku, bukan? Alasan yang basi..! Kau dengar barusan yang dia katakan, dia malu hidup denganku karena aku seorang napi.." ucap Satria sengit


"Tapi saya yakin itu terpaksa dia lakukan, Om Bram pasti sedang berada di sampingnya." ucap Dilla ragu.


Satria mengangguk dengan sinis.


"Kau benar, Bram pasti selalu berada di sampingnya. Karena itu dia sampai mabuk lalu melupakan anak dan suaminya." potongnya cepat.


Satria sudah di rasuki rasa cemburu dan amarah yang menggebu. Segala macam masukan sudah tidak mempan lagi di kepalanya.


"Sudahlah, Dil, sebaiknya kau bawa Rayyan pulang. Siapa tau Mama membutuhkan kalian. Kalau perlu sesuatu, hubungi Bara saja."


Dilla mengangguk dan melangkah keluar.


Di dalam mobil. Dia membiarkan Rayyan yang sedang mengoceh dengan Adam.


Diam-diam ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Yasmin.


(Maaf, Yas. tadi aku dan Adam sedang mengantar Rayyan ketemu papanya.


Pak Satria minta aku menyambungkan dengan nomor mu yang baru. Maaf..)


(Kau tidak salah, tidak apa-apa. kalian baik-baik saja, kan? Lalu bagaimana keadaan Satria? Apakah dia masih teratur makan? aku takut dia sakit karna tidur di sel yang pengap)


(Pak Satria baik, hanya saja terlihat muram, dia seperti tidak ada semangat hidup lagi)


Yasmin tidak tahan untuk tidak menangis. Untung saja dia berada di kamar mandi saat itu.


(Titip Rayyan dan Mama.. Jaga mereka. Bilang juga pada Mama jangan terlalu banyak pikiran)


Dilla menutup ponselnya.

__ADS_1


"Semoga badai rumah tangga mereka cepat berlalu..." bisik Dilla pelan.


.


__ADS_2