
Adam dan Dilla begitu panik menyadari Rayyan sudah tidak ada di tempatnya.
"Kau sih, ngajak ngobrol terus, jadi hilang, kan anaknya." omel Dilla.
Mereka mencari berkeliling tapi tidak ketemu juga. Adam terduduk lemas karna capek berlarian kesana sini.
Tiba-tiba mata Dilla menangkap sesuatu.
"Dam... coba kau lihat itu, bukankah itu Rayyan?" mata mereka hampir saja melompat dari tempatnya saat melihat Rayyan berada di pangkuan seorang pria tampan. Mereka terlihat begitu akrab. sesekali pria itu terlihat mencubit hidung Rayyan dengan gemas.
"Bukankah itu pria yang tempo hari bertemu Rayyan? Gawat... dia pasti tidak mau pulang karna merasa pria itu papanya. Alamat kita kena semprot Yasmin." keluh Adam. mereka belum berani mendekati Rayyan.
"Kamu anak pemberani...!" puji Satria.
Rayyan mengangguk.
"Mama juga bilang begitu." jawabnya polos.
"Oh, ya? Sekarang Mama Rayyan di mana?"
"Kerja."
"Trus kesini sama siapa?"
"Sama Tante Dilla dan Om Adam " jawabnya polos.
Satria merasa begitu tertarik pada Rayyan. Ia yang yang selama ini begitu tertutup kepada orang, kecuali pada Dio putranya. Tapi saat bersama Rayyan ia merasa hidup. Ia merasa Rayyan bisa memaksa bibirnya untuk tersenyum.
Bahkan ia merasa sikap Rayyan yang pemberani dan tegas sangat mirip dirinya.
Tentu saja ia kaget saat tiba-tiba saja Rayyan menghampirinya sambil memanggilnya papa.
Satria mendudukkan Rayyan di kursi di dekatnya.
"Mau es krim?"
Rayyan mengangguk senang.
"Papa, Ray mau yang rasa coklat, ya!"
Satria tersenyum membelai kepala Rayyan.
Entah kenapa pula dia tidak merasa keberatan saat bocah tampan itu memanggilnya papa.
"Boleh.."
Ponsel Satria berdering.
Panggilan video dari Bu Lidia.
"Sat, urusanmu disana belum selesai, ya? Dio agak demam dari tadi pagi. Dia ingin kau pulang." wajah Bu Lidia terlihat cemas.
"Gimana keadaannya, Ma? Mudahan nanti sore Satria bisa langsung pulang." ia begitu cemas saat mendengar Dio demam.
"dia sedang tidur sekarang, biar kan dia istirahat dulu. Tadi sudah di bawa ke dokter oleh Kiran.
Sat, kau ada dimana? Sebentar, kayaknya Mama melihat ada anak kecil di sampingmu."
"Ia Ma, ini namanya Rayyan. Dia pintar dan lucu." kata Satria sambil mengarahkan kamera ponselnya ke Rayyan.
Adam dan Dilla yang melihat dari kejauhan merasa khawatir.
"Aduh, dia nelpon sambil mengarahkan kameranya pada Rayyan. Jangan-jangan dia sindikat penculikan anak, mati deh kita." ucap Adam ketakutan.
Sementara itu, Bu Lidia menyapa Rayyan dengan ramahnya
"Hay anak cakep? Siapa namamu?"
"Rayyan, Oma!" ucap anak itu dengan lancarnya tanpa di ajari siapapun. Membuat Bu Lidia gemas luar bisa.
"Sat, anak siapa dia? Lucu sekali. Tau nggak?
__ADS_1
Melihatnya, Mama seperti melihatmu waktu kecil dulu, persis banget!"
"Masa iya, Ma?"
"Mama tidak bohong! Ya sudah. Kau cepat pulang. Dio menunggumu."
Panggilan itu terputus.
Satria menatap Rayyan yang sedang asik makan es krim.
"Beruntung sekali orang tua yang memilikinya." gumam Satria pada dirinya sendiri.
"Dil, cepat kabari Yasmin!"
Dilla cepat mengirim pesan ke Yasmin.
"Sekarang ayo kita samperin mereka." ajak Dilla.
Mereka menghampiri Satria yang sedang mengawasi Rayyan makan es krim.
"Rayyan.. Kami lelah mencarimu, ternyata disini?"
Satria menoleh kepada mereka.
"Jadi kalian keluarga Rayyan? Kalian sudah lalai menjaga anak ini. coba kalau dia jatuh ke tangan orang jahat, habis kalian." ucap Satria seraya memasang kaca mata hitamnya, menambah wibawanya.
"Maaf, kami mengaku salah." Adam yang menjawab.
"Ayo, Ray. Mama pasti sudah menunggu di rumah." bujuk Dilla.
"Tante, Ray mau sama papanya Ray dulu. Tante pulang saja!"
Dilla dan Adam saling pandang.
Satria memandang ke arah Adam.
"Bukannya anda yang kemarin mengaku sebagai papanya Rayyan?"
Satria merasa tertarik.
"Lalu dimana papanya?"
"Kami tidak bisa ceritakan itu disini." jawab Dilla.
Satria mengerti, itu bukan wewenangnya.
Sementara di tempat lain. Yasmin yang membaca pesan dari Dilla begitu khawatir.
Ia menyuruh Dilla mengawasi pria yang bersama Rayyan.
"Anda baik-baik saja? sepertinya anda sangat gelisah. " Bara mencoba melirik wanita di depannya. Keningnya terlihat mulai berkeringat.
"Iya, pak. Saya ada urusan mendadak yang tak bisa di tinggalkan." jawab Yasmine n gugup.
"Okey kalau begitu, kesepakatan kerjasama sudah di tanda tangani tangani. selamat bergabung di perusahaan kami. Dan bukan tidak mungkin pak Satria selaku pimpinan tertinggi.tertinggi akan memanggil Anda"
"Yah.. saya mengerti. Sekarang saya boleh pamit, pak?" Bara mempersilahkannya keluar.
Sampai di parkiran, Yasmin. langsung menyetop taksi.
begitupun. Bara, juga menuju ke tempat Satria berada.
Di parkiran , Yasmin berpapasan lagi dengan. Bara.
"Kau, ada urusan juga disini?"
Yasmin mengangguk. Ia menyembunyikan wajahnya. ia takut kalau Bara akan mengenali wajahnya.
"Astaga..! Aku lupa memakai tahi lalat di daguku. mudahan pak Bara tidak menyadarinya." batin Yasmin.
Yasmin langsung membuka wig nya begitu Bara berlalu.
__ADS_1
Dia tiba di tempat dimana Rayyan sedang becanda dengan Satria.
Yasmin berhenti sejenak. Tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam hatinya.
'"Jadi, pencarian Rayyan berakhir pada Satria? Sat, dia adalah putramu, darah dagingmu. Dia adalah buah cinta kita..." Yasmin mengusap air matanya.
Ia mengurungkan niatnya untuk bertemu Rayyan.
Ia menelpon Dilla dari tempat tersembunyi.
"Dilla, Rayyan sedang bersama papanya."
"Aduh, aku akui pria itu sangat tampan, tapi apa secepat itu juga kau mengambil keputusan untuk menjadikannya papanya Ray?" suara Dilla yang panjang lebar itu di potong Yasmin.
"Dia Satria...!"
Dilla terbelalak. "Aku sama sekali tidak suka kau becanda saat ini." ucap Dilla.
Ia menunggu suara Yasmin selanjutnya.
"Jadi... jadi benar dia Satria?" ulangnya tak percaya. Tapi saat mendengar desah putus asa dari Anisa, membuat Dilla mengerti kalau sahabatnya tidak sedang bercanda.
"lalu bagaimana ini? Aku tidak bisa membujuk Ray untuk pulang."
"Berikan ponselmu pada Ray, bilang Mama ingin bicara."
"Ray, Mama sudah pulang, nih Mama ingin bicara."
"Halo, Ray.. Lagi di mall ya? Suka di sana?"
Yasmin menyapanya semanis mungkin.
"Iya, Ma. Ray sudah ketemu papa juga."
Yasmin terdiam sejenak.
"Mama, mau bicara sama papa?" Rayyan memberikan ponselnya pada Satria.
"Demi menyenangkan hati Rayyan Satria menerimanya.
Yasmin yang melihat dari jauh merasa deg -degan. Apa yang harus di ucapkan ya?
"Halo.. Mamanya Rayyan, ya? Saya minta maaf, sebelumnya. Saya juga tidak tau kenapa putra anda menganggap saya adalah Papanya..."
Yasmin benar-benar grogi mendengar suara yang selama ini di rindukannya.
Setelah beberapa lama tidak ada jawaban, Satria memberikan ponsel itu ke Rayyan.
"Mamanya Rayyan tidak mau ngomong sama papa.." ucap Satria tersenyum.
"Iya, sudah. Rayyan pulang dulu sama Tante." Satria ikut membujuk anak itu.
Rayyan menggeleng keras.
Adam mau mengambil paksa namun Satria merasa tidak suka.
"Jangan pake kekerasan, data jadi curiga, apa betul kalian ini adalah keluarga Rayyan?"
Bara tiba di tempat itu. Tampa sengaja ia menabrak Yasmin yang sedang mengintai Satria.
"Oh, maaf, saya benar-benar tidak sengaja."
"Anda?"
Bara terlihat kaget, wanita yang di tabrak nya adalah wanita yang mengaku utusan dari "Yasdesigne'
"Maaf, pak..!" ucap Yasmin tertunduk. Ia tidak mau Bara mengenalinya. Yasmin buru - buru meninggalkan Bara.
"Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana?dan rambut wanita itu, bukannya tadi di kantor rambutnya pendek dan memakai kaca mata? Tapi yang barusan? Ah aku jadi bingung." keluh Bara.
Sementara itu Satria berhasil membujuk Rayyan untuk pulang. Dia terpaksa harus berjanji akan menunggunya di tempat yang sama esok harinya.
__ADS_1