
Yasmin tertegun, ia teringat bagaimana Om nya sudah menguasai rumahnya kini.
Setau Yasmin, antara papanya dan adik tirinya itu memang sering terjadi perselisihan pendapat. Dan permasalahannya tidak jauh-jauh dari masalah harta.
"Apa kau tau sesuatu tentang Om Mizwar?" tanya Yasmin lesu.
"Aku tidak tau, cuma kesan yang ku tangkap dia kurang suka kalau kau kembali kerumah itu."
"Memang dari dulu dia dan papa tidak pernah akur." gumam Yasmin. Ia terpekur memikirkan kini sudah tidak punya siapa-siapa lagi
Saat makan siang Satria memberikan nasi bungkus padanya.
Dengan ragu Yasmin menerimanya.
"Makanlah! kalau tidak ingin kelaparan."
Yasmin melihat Satria membuka nasinya dan mulai makan dengan nikmatnya.
"Kau, makan hanya dengan lauk seperti ini setiap hari?" tanyanya tak percaya.
Satria mengangguk.
"Jangan di lihat dari makanannya, tapi lihat bagaiman kita menghargai makanan itu sendiri!"
Yasmin bergidik, tapi dia melihat Satria dan tiga anak buahnya sehat-sehat saja walaupun mengkonsumsi makanan yang menurutnya kurang sehat itu.
"Jangan banyak berpikir, atau mau aku suapin?" canda Satria.
Yasmin menggeleng cepat.
Ia mencoba satu suap, dua siap dan seterusnya. Karena perutnya sedang lapar akhirnya nasi itu habis juga di embatnya.
"Lumayan.." gumamnya dengan mulut penuh.
"Apalagi kalau makan tidak pakai sendok, terasa lebih nikmat." ujar Satria.
"Masa, sih?"
Saat Yasmin makan, Satria menghilang beberapa saat, entah kemana.
"Ayo kerja lagi! jangan malas-malasan. kau sudah makan, kan?" Satria menepuk pundak Yasmin keras.
Yasmin mendelik ke arah Satria.
"Iya, iya.. jadi bos galak banget, sih!" omelnya, namun Satria tidak mendengarnya.
"Malangnya nasibku, dulu dari seorang ratu kini menjadi babu.' gumamnya sedih.
Mau marah pada keputusan papanya? rasanya tidak etis lagi karna papanya sendiri sudah tiada.
Sebuah mobil mewah berwarna metalik berhenti di depan bengkel Satria.
Arman sang pegawai langsung menghampiri si empunya mobil.
"Permisi.. ada yang bisa kami bantu?" ucap nya sopan.
Pintu mobil terbuka, sebuah kaki jenjang keluar dari mobil.
Dan pemiliknya adalah seorang wanita cantik dengan penampilan elegan.
Arman melongo menyaksikannya.
Wanita cantik nan anggun itu sudah berdiri di depan Arman.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Satria. yang sudah berada di situ.
"Ini, Mas, mobil saya mogok tiba-tiba, bisa l bantu di periksa?" ucapnya sopan.
__ADS_1
Setiap gerakan bibirnya sangat mempesona. Bahkan itu bisa di rasakan oleh Yasmin yang berdiri terpukau.
"Nona tepat sekali membawanya ke bengkel kami, Montir kami serba bisa, jadi tenang saja!" Arman menyombongkan diri.
Satria menyikut bahu pemuda itu.
Gadis itu duduk sambil menyaksikan Satria yang mengotak atik mesin mobilnya.
Iseng Yasmin menghampiri wanita itu dan bertanya.
"Mbak, darimana?"
" Kau montir juga?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Yasmin.
"Owh.. bukan! aku hanya bantu-bantu dia saja." ucap Yasmin menunjuk Satria.
"Sudah, sekarang silahkan di coba!"
" Terima kasih, Kenalkan nama saya 'Kirana' " ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Bagus juga namanya.." gumam Yasmin.
"Saya Satria, maaf tangannya agak kotor." ucap Satria sambil mengelap tangannya. mereka pun berjabat tangan.
Sejak hari itu Kirana sering datang ke bengkel meminta bantuan Satria, mereka juga sering bertemu sekedar untuk mengobrol tentang banyak hal.
Kirana sangat antusias saat bertemu Satria. sangat jelas terlihat Kalau gadis itu menyimpan rasa pada Satria.
Siang itu Yasmin sedang duduk berdua saja dengan Kirana di bengkel. Satria sedang ada urusan di luar.
"Yasmin, maaf ya. bukannya aku lancang, tapi aku hanya ingin tau, kalian suami istri tapi yang aku lihat tidak seperti pasangan pada umumnya." tanya Kirana ragu.
Yasmin terdiam sejenak.
"Memang kami tidak seperti pasangan suami istri selayaknya. Kami menikah karna di jodohkan. Apa Satria tidak pernah menceritakannya padamu?"
"Lalu apakah kau mencintainya?" tanya Kirana lagi.
"Cinta? bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada pria galak dan pelit itu, memang sih kadang dia baik juga padaku." jawab Yasmin.
"Dia, maksudku Satria. Apa pernah mengutarakan perasaanya padamu?"
Yasmin menatap Kirana serius.
Apa maksud gadis ini menanyakan hal itu.
"Seingat ku tidak pernah, aku juga tidak tau apa motifnya dia menikahi aku." jawab Yasmin apa adanya.
Mereka sama terdiam.
"Tapi, kenapa kau menanyakan hal ini? kau menyukainya?" tebak Yasmin langsung.
"Owh.. aku.." Kirana terlihat ragu untuk menjawabnya.
"Kau tidak usah malu mengakuinya, saat ini yang aku butuhkan adalah uang. aku ingin Bebas dari pria dingin itu, kalau seandainya saja ada seseorang yang mau memberikan sejumlah uang padaku, aku akan merelakan Satria untuknya.." ucap Yasmin asal bicara sambil pandangannya menerawang.
"Kau serius akan menukar suamimu dengan rupiah?" sergah Kirana kaget.
Yasmin menjawab dengan pasti. Karna ia yakin tidak akan ada wanita yang rela mengeluarkan uang hanya untuk mendapatkan suaminya itu.
"Iya, aku serius... tapi itu hanya ada dalam dongeng. Di dunia nyata mana ada kejadian seperti itu. tapi jujur aku rindu hidupku yang dulu, bebas dan penuh bergelimang kemewahan, aku lelah hidup serba kekurangan., tidak bisa nyalon, tidak ada mobil, jauh dari teman-teman juga."
tanpa sadar Yasmin mengungkapkan perasaannya pada Kirana.
"Lalu Satria? apa kau tidak memikirkan perasaanya?"
"Perasaan apa? dia hanya ingin menyiksaku dengan alih alih ingin membuatku jadi pribadi yang mandiri. Tapi aku rindu duniaku yang dulu."
__ADS_1
"Kau butuh uang, sedangkan aku butuh cinta Satria.
Bukankah itu bisa kita wujudkan?" ujar Kirana tanpa di sangka.
Yasmin menatapnya dengan serius.
"Kau, kau serius?" Yasmin tergagap.
"Aku tidak memaksamu, tapi kau pikirkan dulu baik-baik. aku bisa memberimu kemewahan seperti yang kau impikan, tapi relakan Satria
untuk ku!"
Satria datang menghampiri mereka.
"Kenapa diam? ayo teruskan ngobrolnya, seru kayaknya." Satria duduk di dekat Yasmin.
"Aah kami hanya ngobrol biasa kok, sesama wanita." ucap Kirana gugup.
"Betul?" Satria memindai wajah Yasmin yang terlihat gelisah.
Yasmin mengangguk terpaksa.
"Sudah sore, aku pulang dulu, ya!" kata Kirana sambil melihat jam tangannya.
Yasmin hanya mengangguk dengan canggung.
Malam itu Yasmin tidak bisa tidur, ia terus memikirkan tawaran Kirana.
"Apa tanggapan Satria kalau dia tau aku ingin menggadaikan nya?"
"Apakah aku pantas berbuat ini padanya? tapi kami menikah juga bukan karena cinta. sangat mungkin kalau dia juga tertekan pada pernikahan kami ini." batinnya terus bergejolak.
Malam itu hujan turun dengan deras, cuaca sangat dingin, kilat menyambar.
Yasmin ketakutan oleh suara guntur yang bersahutan.
Yasmin memberanikan diri mengetuk pintu kamar Satria.
"Ada apa?" tanya Satria dengan mata yang menyipit karna mengantuk.
"Aku takut.." Yasmin menunjuk keluar.
"Lalu?"
"Boleh aku tidur di sini?"
Satria tertegun sesaat.
Tanpa menunggu jawaban Satria, Yasmin langsung langsung masuk dan tidur di ranjang.
Satria menggeleng lalu tidur kembali di dekat gadis itu.
Semakin malam hawa semakin dingin, di tambah angin kencang yang menerpa jendela menimbulkan suara yang menakutkan.
Yasmin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, merasa kedinginan Satria balik menarik selimutnya.
Sampai beberapa saat mereka saling tarik menarik selimut. karna lelah dan mengantuk pada akhirnya mereka tertidur dengan satu selimut berdua.
Pagi harinya saat Satria menyadari apa yang terjadi, ia tersenyum geli.
'Akhirnya kau sendiri yang datang padaku."
ucapnya dalam hati.
Ia kembali memejamkan matanya sambil menikmati pelukan Yasmin.
Satria juga pura-pura tak perduli saat gadis itu tersadar dan menjerit histeris.
__ADS_1
"Kau jahat, otak mu mesum sekali!"